Menu
Mendalam

Kepunahan Berkelindan [2]: Senyap Karhutla Menatap Mentilin dan Kukang Bangka

09/10/2026|Frendy Marselino
Tarsius bangka atau mentilin Cephalopachus bancanus bancanus menatap area asap karhutla di hutan di Desa Terak Kabupaten B...

Tarsius bangka atau mentilin (Cephalopachus bancanus bancanus) menatap area asap karhutla di hutan di Desa Terak, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung (3/9/2026). | Foto: Iwan/Anggota Tim Reaksi Cepat BPBD Bangka Belitung

Gardaanimalia.com - Karhutla mendorong spesies terancam dan endemik semakin dekat dengan jurang kepunahan. Kearifan lokal untuk memanfaatkan lahan mesti dihidupkan dan dirawat.

Detik demi detik berlalu, api masih menyala. Hari demi hari menghantui para tim relawan, pemadam kebakaran, masyarakat terdampak, serta satwa liar.

Situasi inilah yang disaksikan langsung oleh Iwan (38), anggota Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangka Belitung ketika ia menemukan seekor tarsius bangka atau mentilin (Cephalopachus bancanus bancanus) di Desa Terak, Kabupaten Bangka Tengah, pada 3 September 2026 lalu.

“Posisi (mentilin) ada di ranting, karena kena asap dia ingin mencoba mencari daerah di luar asap (karhutla) yang jaraknya itu 20 meteran dari lokasi,” jelas Iwan kepada Garda Animalia, Minggu (20/9/2026).

Selama menangani karhutla, Iwan kerap menyaksikan ular dan biawak. Namun, menyaksikan satwa maskot Bangka Belitung ini terdampak langsung oleh karhutla adalah pengalaman yang tak biasa baginya.

Berdasarkan data PUSDALOPS BPBD Bangka Belitung per 31 Agustus 2026, karhutla menghabiskan 594 hektare lahan di Bangka Belitung. Wilayah yang diketahui terdapat banyak titik kebakaran adalah Kabupaten Belitung Timur (95 titik terbakar); Kabupaten Bangka Tengah (72 titik terbakar); dan Kabupaten Belitung (57 titik terbakar).

Karhutla juga menyasar kawasan konservasi di Bangka Belitung, salah satu di antaranya ada Taman Nasional (TN) Gunung Maras, Kabupaten Bangka. Diperkirakan kebakaran sudah mencapai angka 72 hektare lahan.

Satwa arboreal, seperti lutung, tarsius, kukang bangka, monyet ekor panjang, menjadi yang paling rentan menghadapi kondisi ini. 

Kukang Bangka dan Tarsius Paling Terdampak

Tarsius, kukang, orangutan, bekantan, dan beberapa primata lainnya tidak memiliki kemampuan berpindah yang cepat. Salah satu contoh paling memilukan baru-baru ini adalah tewasnya 12 ekor bekantan di Kalimantan Selatan, satwa yang berstatus terancam punah (endangered) dalam daftar IUCN.

Peneliti satwa sekaligus dosen Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Randi Syafutra, menyoroti bahwa satwa yang hidup di tajuk pohon, khususnya kukang bangka (Nycticebus bancanus), tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus), dan tarsius belitung (Cephalopachus bancanus saltator) adalah kelompok yang paling rentan.

Habitat favorit kedua satwa ini berada di area perbatasan antara hutan, perkebunan, dan kawasan kelekak (sistem agroforestri khas Bangka).

“Kalau kelekak ini lebih ke daerah kukang, yang mana dia omnivor, bisa makan buah, bisa makan sadapan karet. [Sementara] mentilin adalah satwa yang paling terdampak [karhutla], karena ukurannya kecil, tempat makannya juga di daerah yang berdekatan dengan perbatasan antara perkebunan,” ujar Randi. 

Uploaded content
Karhutla menghabiskan area perkebunan lada di TN Gunung Maras, yang menjadi salah satu tempat disukai satwa mentilin. | Foto: Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan

Salah satu kawasan favorit mentilin adalah di perkebunan lada (sahang) yang sudah ditinggalkan dan berubah menjadi semak belukar. 

“Mentilin memiliki pergerakan (lokomosi) utama yang disebut vertical clinging and leaping, yaitu bergantung dan melompat secara vertikal dan banyak ditemukan di area shrubland atau area semak belukar,” jelas Randi kepada Garda Animalia, Selasa (15/9/2026). 

Selain mentilin, yang patut diwaspadai penurunan populasinya adalah kukang bangka. Pergerakan kukang bangka cenderung mengandalkan pohon-pohon besar seperti pohon nangka dan durian.

Ketika merasa terancam, jalan satu satunya bagi mereka adalah memanjat pohon untuk naik ke tempat lebih tinggi, tanpa mereka sadari intensitas terpapar asap kebakaran justru semakin tinggi pula.

Uploaded content
Tim Reaksi Cepat BPBD Bangka Belitung saat menyusuri area terbakar di Desa Terak, Kabupaten Bangka area banyak tiang pancang yang ditemukan tarsius bangka (3/9/2026). | Foto: Iwan/BPBD Bangka Belitung

BKSDA Sumsel dalam pernyataan tertulisnya pada Garda Animalia, Selasa, (22/9/2026) lalu, belum bisa memastikan berapa besar paparan langsung karhutla kepada satwa.

Berdasarkan pemantauan mereka, tidak ada satwa di Bangka Belitung yang secara fisik terdampak langsung karhutla, seperti menderita luka bakar maupun gangguan pernapasan.

Dilansir dari Mongabay Indonesia, kukang bangka yang awam disebut "beruk semundi" ini, telah mengalami kehilangan habitat hingga 80 persen.

Penelitian Randi pada 2017 menunjukkan kepadatan populasi kukang sempat berada di angka 32,22 individu per kilometer persegi, tetapi merosot tajam menjadi hanya 7,50 individu per kilometer persegi pada 2024.

Padahal, kukang bangka bahkan termasuk dalam daftar 25 primata paling terancam punah (critical endangered) di dunia versi Primates in Peril 2025, yang merupakan hasil kolaborasi International Primatological Society, IUCN, dan Re:wild.

Kerentanan Berlapis Satwa di Bangka Belitung

Persoalan ruang hidup satwa arboreal di Bangka Belitung nyatanya tidak berhenti pada ancaman karhutla. Tekanan ekologis ini semakin berlapis akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan monokultur, masifnya tambang timah, hingga ancaman elektrokusi (tersengat listrik) yang kian membengkak.

ALOBI Foundation mencatat bahwa dalam kurun waktu setengah tahun terakhir, mereka menerima sembilan laporan penyerahan kukang bangka dari masyarakat.

Salah satu kasus yang pernah ditangani adalah kukang bangka dengan kondisi kaki dan tangan mengalami luka bakar akibat sengatan listrik. 

Uploaded content
Kondisi kukang bangka saat ditemukan warga di Taman Dealova, Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung, pada 24 Juli 2026 lalu. | Foto: ALOBI Foundation

Kasus elektrokusi ini terjadi lantaran kukang kerap mengira kabel-kabel listrik terbuka memiliki fungsi dan bentuk yang mirip dengan tajuk kanopi pohon, menjadikannya jalur perlintasan yang sangat mematikan.

Tekanan ruang hidup juga dirasakan di Tahura Bukit Mangkol. Kawasan yang dulunya terkenal sebagai sentra penghasil lada (sahang) dan habitat identik mentilin ini kini mengalami degradasi akibat perambahan.

“Untuk sekarang area Mangkol sudah tidak jadi area pelepasliaran satwa lagi karena sudah banyak perubahan dan pembukaan lahan. Jadi sekarang hanya di Menumbing, Maras, dan Pelawan Namang,” terang Kepala Media dan Anggota Tim Rescue ALOBI Foundation, Andre Septian, kepada Garda Animalia (14/9/2026).

Meski data PUSDALOPS BPBD Bangka Belitung mengungkap persebaran dominan kebakaran hutan di pulau Bangka, tetapi titik kebakaran juga terjadi di Pulau Belitung, dengan 95 titik di Belitung Timur dan 57 titik di Belitung.

Kerentanan ekologis Pulau Belitung menjadi semakin besar karena pulau ini menjadi satu-satunya habitat alami pelilean atau tarsius belitung, subspesies yang terisolasi secara geografis dan hanya tersebar secara alami di Pulau Belitung. Berbeda dengan kerabatnya, tarsius bangka, yang masih tersebar hingga Sumatera Selatan dan Lampung.

Belum lagi, data Global Nature Watch menangkap bahwa 21 persen luas daratan pulau Belitung telah didominasi oleh perkebunan monokultur seperti sawit. 

Selain satwa yang bergantung dengan kanopi pohon, beberapa satwa yang memiliki pergerakan lambat juga sangat berpotensi terkena kebakaran hutan di Bangka Belitung. Misalnya, mengkubung atau sunda flying lemur (Galeopterus variegatus), binturong atau bearcat (Arctictis binturong), dan trenggiling jawa (Manis javanica).

Revitalisasi Lahan

Ketika seluruh persoalan ruang hidup ini menumpuk, ancaman kepunahan bagi satwa endemik seperti mentilin dan kukang bangka tinggal menunggu waktu.

Satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah memulihkan lanskap melalui pendekatan ekologis, seperti merevitalisasi kembali budaya kelekak di tengah masyarakat.

Bukan sekadar merawat filosofi “kelak untuk anak cucu ikak” (kelak untuk anak cucu kalian), melainkan juga memastikan ruang hidup bagi satwa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem kita.

Randi juga mengingatkan revitalisasi lahan bukan melakukan penanaman atas satu pohon saja, melainkan banyak jenis pohon yang ditanam, terutama di kawasan bekas tambang timah.

Randi mengingatkan, pemahaman bahwa “satwa juga perlu makanan di tanah kita” mesti ditekankan lagi sehingga pemanfaatan lahan tidak untuk memuaskan nafsu pribadi atau pun kepentingan korporasi semata.

“Tidak bisa dipungkiri pasti ada orang-orang yang membakar [hutan]. Itu sangat mengganggu terutama ke tanaman-tanaman yang bisa dimanfaatkan, seperti nasi-nasi (Syzygium zeylanicum) atau kernuduk (Rhodomyrtus tomentosa). Bahkan burung-burung dan lebah juga memanfaatkan area itu untuk mencari makan,” tutup Andre sambil membayangkan karhutla yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Bangka Belitung.

Kerentanan satwa berstatus endangered karena karhutla menjadi kritik tajam bagi upaya perlindungan keanekaragaman hayati. Sebab, hilangnya satu individu saja dapat mendorong spesies rentan semakin dekat ke jurang kepunahan.