Gardaanimalia.com - Kebakaran kecil dapat memutus jalur perpindahan satwa seperti kukang dan mentilin, memicu penurunan populasi secara senyap.
Ia memutar kepala ke seluruh arah. Di sekelilingnya, sebagian kanopi pohon sudah jadi abu. Ia mencoba membayangkan dahan mana yang harus ia raih agar tidak termakan jerat api merah menyala yang sudah berhari-hari menghanguskan tempat tinggalnya.
Siang malam ia mencoba menerka jalur mana yang harus ia tempuh. Satu per satu, dari ranting ke ranting, ia terus melompat hingga akhirnya ia bertemu makhluk bernama manusia yang melontarkan kilatan cahaya.
Wajahnya terekam banyak kamera saat kebakaran hutan menghujam tanah timah. Ia adalah mentilin, yang terabadikan dalam salah satu foto kebakaran hutan dan lahan di TN Gunung Maras.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak memandang siapa dan di mana. Sekalinya si jago merah tersulut di kawasan yang kerontang, ia akan terus melahap apa saja yang ada di depannya.
Di banyak tempat, karhutla berarti jerat bagi ruang hidup satwa liar. Berbagai kasus dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan efek karhutla secara langsung menyasar primata, seperti kematian 12 bekantan di Kalimantan Selatan, anak dan induk orangutan terjebak api, hingga kematian individu orangutan bernama Sampurna karena gangguan pernapasan akibat asap karhutla.
Bangka Belitung memiliki spesies rentan yang nasibnya tak kalah mengkhawatirkan, seperti tarsius bangka atau mentilin (Cephalopachus bancanus bancanus), tarsius belitung atau palilean (Cephalopachus bancanus saltator), dan kukang bangka (Nycticebus bancanus).
Salah satu habitat penting bagi satwa-satwa ini dapat ditemui di kawasan konservasi Taman Nasional (TN) Gunung Maras, Kabupaten Bangka, yang juga tak luput dari amuk api.
Kebakaran Terbesar di Hutan Konservasi Bangka
TN Gunung Maras merupakan kawasan vital. Ia adalah area pelepasliaran satwa yang diselamatkan dan direhabilitasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan bersama ALOBI Foundation.
“Berdasarkan data hingga 20 September 2026, luasan kebakaran terbesar tercatat di TN Gunung Maras sekitar 72,4605 hektare,” jelas BKSDA Sumsel pada Garda Animalia melalui keterangan tertulis, Selasa (22/9/2026).
Selain TN Gunung Maras, api ternyata juga menyasar kawasan konservasi lain di Provinsi Bangka Belitung. Beberapa di antaranya meliputi Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Mangkol, Tahura Gunung Menumbing, Taman Wisata Alam (TWA) Jering Menduyung, hingga TWA Gunung Permisan.
Proses pendataan dan verifikasi di sejumlah kawasan tersebut masih berlangsung, hingga tulisan ini dibuat, tingkat kerusakan habitat secara menyeluruh belum dapat dipastikan.
Belum ada laporan resmi mengenai jumlah satwa yang terdampak langsung oleh karhutla selama pemantauan oleh BKSDA Sumsel pada periode Juli hingga pertengahan September 2026. Meski begitu, mereka tidak memungkiri adanya dampak yang masif terhadap satwa arboreal akibat kerusakan habitat.
“Karhutla dapat berdampak terhadap satwa arboreal melalui kerusakan atau hilangnya tutupan kanopi, pohon tempat berlindung, sumber pakan, dan jalur pergerakan satwa. Dampak tersebut dapat mengganggu aktivitas dan keberlangsungan hidup satwa, meskipun tidak selalu terlihat dalam bentuk kematian atau cedera secara langsung,” papar BKSDA Sumsel.
Peneliti satwa liar sekaligus dosen Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Randi Syafutra, mengatakan untuk berhati-hati dalam menangani karhutla dan menempatkan perspektif pada satwa.
Randi menilai, meski skala kebakaran di Bangka Belitung tidak seluas di Kalimantan, api sekecil apa pun dapat memutus jalur perpindahan satwa seperti kukang dan mentilin, yang akhirnya memicu penurunan populasi secara senyap.
“Kalau berbicara primata, lutung dan monyet ekor panjang ini gerakannya cepat dan menghindarinya lebih mudah saat karhutla. Namun, berbeda dengan satwa seperti mentilin dan kukang. Mereka hidupnya nokturnal, seandainya (hutan) terbakar, begitu mereka tidak sadar, ikut terpanggang juga di daerah yang banyak pakannya,” ujar Randi saat dihubungi Garda Animalia, Selasa (15/9/2026).
Penanganan Satwa Terdampak Karhutla
BKSDA Sumsel memastikan bahwa langkah penanganan terhadap satwa akan disesuaikan dengan kondisi satwa di lapangan.
“Apabila ditemukan satwa yang terluka atau memerlukan pertolongan, tindakan dapat meliputi evakuasi, pemeriksaan kesehatan, perawatan, dan rehabilitasi sesuai kebutuhan,” tulis BKSDA Sumsel.
Sementara itu, apabila dalam proses pemadaman atau pemeriksaan lapangan ditemukan satwa dalam kondisi sehat dan tanpa cedera, petugas akan memindahkannya ke lokasi yang lebih aman dan jauh dari titik api.
“Setiap tindakan penanganan, termasuk pemindahan atau pelepasliaran, dilakukan berdasarkan kondisi satwa, kelayakan habitat, dan hasil pemeriksaan teknis untuk menjamin keselamatan serta keberlangsungan hidup satwa,” lanjut pernyataan tersebut.
Mengingat masifnya karhutla yang melanda sejumlah kawasan konservasi, langkah strategis yang berkelanjutan menjadi sebuah keharusan, terutama dalam pengawasan titik panas (hotspot).
Data PUSDALOPS BPBD Bangka Belitung per 31 Agustus 2026 juga mencatat bahwa setidaknya 594 hektare lahan telah terbakar di Bangka Belitung dengan 287 titik kejadian.
Tentunya hal ini patut terus diwaspadai mengingat Super El-Nino diperkirakan berlangsung hingga kuartal awal 2027. Selain itu, efek El-Nino Godzilla ini membuat musim hujan datang terlambat di beberapa wilayah.
BMKG menilai bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026 dengan musim hujan yang lebih pendek daripada normalnya.
Mitigasi dan Menghidupkan Kelekak
BKSDA Sumsel menyadari bahwa mitigasi karhutla membutuhkan kerja sama lintas sektor. Patroli rutin, pemantauan ketat, serta kesiapsiagaan tim pemadam di kawasan konservasi.
Di sisi lain, Randi berpendapat, pentingnya menghidupkan kembali kearifan lokal masyarakat Bangka, yakni tradisi kelekak.
Kelekak merupakan sistem agroforestri tradisional di Bangka Belitung yang memadukan tanaman hutan dan tanaman pertanian, dengan filosofi dasar “kelak untuk anak cucuk ikak” (kelak untuk anak cucu kalian).
Randi berpandangan bahwa pemerintah dapat mendorong kebijakan agar masyarakat mengintegrasikan kelekak di lahan mereka. Pemahaman ini perlu disamakan, bahwa kelekak tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia, tetapi juga menyediakan ruang dan sumber pakan bagi satwa di sekitarnya.
Langkah ini diyakini mampu menjadi solusi efektif dalam mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar di masa depan.
Selain itu, tidak kalah penting adalah memperkuat koordinasi bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum guna mengusut tuntas dugaan pembakaran lahan konservasi, baik yang dilakukan untuk kepentingan pribadi maupun korporasi.







![Kepunahan Berkelindan [2]: Senyap Karhutla Menatap Mentilin dan Kukang Bangka](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/kepunahan-berkelindan-2-senyap-karhutla-menatap-mentilin-dan-kukang-bangka.webp)








