Peneliti Satwa sebut Puluhan Ribu Orangutan dan Bekantan Terancam Punah

  • Share
Gambar seekor bekantan (Nasalis larvatus). | Foto: Pili.or.id
Gambar seekor bekantan (Nasalis larvatus). | Foto: Pili.or.id

Gardaanimalia.com – Peneliti satwa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebut puluhan ribu populasi orangutan dan bekantan di Pulau Kalimantan hingga kawasan Sabah, Malaysia terancam punah.

Menurut Tri Atmoko, peneliti satwa di Balai Penerapan Standar Instrumen KLHK, hewan dilindungi tersebut terancam punah dikarenakan adanya berbagai aktivitas yang tak ramah terhadap kelestarian satwa dan hutan.

“Selain karena perburuan, satwa ini menjadi langka karena kerusakan habitat akibat berbagai aktivitas yang tidak ramah lingkungan,” ujarnya, Senin (21/2) dilansir dari Republika.

Tri menjelaskan, aktivitas yang tak ramah lingkungan itu seperti pertambangan, pembukaan lahan perkebunan dalam skala luas yang mengubah kawasan hutan menjadi non-hutan sehingga populasinya terancam.

“Jumlah bekantan yang sekitar 25 ribu ekor tersebut seolah banyak, namun jika dilihat dari luasan Pulau Kalimantan yang mencapai 743.330 km2 dan terdiri dari berbagai kabupaten/kota, lima provinsi, bahkan hingga Sabah (Malaysia), tentu jumlah ini tergolong kecil,” ungkapnya.

Tak hanya bekantan, lanjut Tri, populasi orangutan di seluruh Kalimantan yang diperkirakan sejumlah 57 ribu individu tersebut pun terbilang kecil apabila disandingkan dengan luasan Pulau Kalimantan.

Ancaman yang dihadapi oleh orangutan, menurutnya tak jauh berbeda dengan ancaman kepunahan bekantan yaitu dikarenakan adanya pembukaan lahan yang tak ramah lingkungan dan perburuan liar.

“Satwa endemik dan langka di Kalimantan yang paling terancam ada dua, yakni orangutan dan bekantan. Status untuk orangutan Kalimantan adalah kritis mengalami kepunahan, sedangkan status bekantan adalah bahaya di ambang kepunahan,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa satwa dilindungi tersebut hidupnya memang di kawasan hutan dan mereka cenderung berada di pepohonan di pinggir sungai.

Sementara itu, kata Tri, masyarakat di Pulau Kalimantan masih banyak yang menggunakan jalur transportasi air untuk dapat sampai ke pedalaman.

BACA JUGA:
Warga Bohorok Desak Pembentukan Satgas Konflik Satwa

“Kawasan sungai itu mudah dijangkau oleh masyarakat dalam menggunakan transportasi air. Bahkan kemudian ada yang membuka hutan melalui jalur sungai sehingga habitat bekantan menjadi rusak, bahkan banyak yang hilang,” imbuhnya.

Ia juga mengajak semua pihak untuk tidak melakukan perburuan terhadap satwa liar dilindungi yang ada di Kalimantan karena ancaman hukumannya sangat berat, pungkas Tri.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments