Peneliti Sebut Sistem Ekonomi Sekarang Jadi Sponsor Krisis Kepunahan Massal

Peneliti Sebut Sistem Ekonomi Sekarang Jadi Sponsor Krisis Kepunahan Massal
Ilustrasi kerusakan lingkungan. Foto: iStock/Pgiam

Gardaanimalia.com – Sebuah studi yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 lalu menyatakan bahwa upaya negara-negara kaya dan maju dalam memberi bantuan finansial untuk perlindungan keanekaragaman hayati dinilai kurang efektif. Third World Network, organisasi penelitian dan advokasi internasional Malaysia sekaligus penulis studi ini, meminta adanya reorganisasi ekonomi global pasca pandemi secara besar-besaran demi mencegah kerusakan kehidupan liar yang lebih besar. Mereka juga merekomendasikan perubahan model ekonomi dunia.[1]Jessica Dempsey, Sara Nelson et al. (Februari 2021). Resource mobilization and the Convention on Biological Diversity: moving beyond the gap. Third World Network. … Continue reading

Mereka menyarankan untuk memulai perubahan ini dengan menghapus utang negara-negara yang miskin, namun memiliki kekayaan kehidupan liar yang besar. Dr Patrick Bigger, peneliti dari Lancaster University Environment Care sekaligus salah satu penulis studi ini, meminta agar negara-negara kaya membayar utang ekologi mereka yang menumpuk kepada negara-negara yang terdampak bencana ekologi.[2]Victoria Gill. (12 Mei 2021). Biodiversity: Throwing money at schemes ineffective – charity. BBC. https://www.bbc.com/news/science-environment-57071514 Ia menambahkan bahwa pembayaran utang ini harus dilakukan tanpa syarat dan kondisi apapun.

Studi tentang perekonomian keanekaragaman hayati ini juga menunjukkan bagaimana model ekonomi saat ini yang tujuannya untuk perlindungan alam liar tetapi malah memperkeruh permasalahan keanekaragaman hayati. Banyak aktivitas konservasi satwa dan kehidupan liar di seluruh dunia terlilit hutang dan terpaksa melakukan pengetatan anggaran.[3]Ibid. Di sisi lain, investasi untuk aktivitas-aktivitas yang merusak kehidupan liar terus mengalir.

Lebih lanjut, para peneliti yang terlibat dalam studi ini memaparkan bahwa kesenjangan kekayaan di antara mereka yang terjebak dalam bencana akibat overeksploitasi alam liar dan mereka yang meraup keuntungan dari aktivitas ini terus melebar. Pada tahun 2019, 50 bank terbesar di seluruh dunia menginvestasikan $2,6 triliun (kurang lebih Rp 3.690 triliun) kepada industri-industri yang mendorong penghilangan kehidupan liar, jumlah yang setara dengan PDB Kanada. Mereka juga sepakat bahwa sektor finansial saat ini membiayai krisis kepunahan massal keenam.[4]Portofolio Earth. (2020). Bankrolling Extinction. https://portfolio.earth/

BACA JUGA:
Mengenal Jalak Bali, Maskot Pulau Dewata

Baca juga: Indonesia Masuk Daftar Negara Eksportir Produk Satwa Liar Terbesar Dunia

Studi ini menunjukkan beberapa program bantuan internasional perlindungan alam yang dinilai tidak efektif dan kekurangan dana. Salah satunya adalah REDD+, program dari UNFCCC yang didesain untuk membantu melindungi komunitas yang hidup di hutan-hutan dengan keanekaragaman hayati tinggi dari deforestasi dan degradasi hutan.[5]UNFCCC. REDD+: Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation in Developing Countries. https://redd.unfccc.int/ Dr Patrick Bigger menyatakan bahwa bantuan finansial ini jauh dibawah pendapatan Jeff Bezos (pendiri Amazon) pasca pandemi.

Bahkan, salah satu program bantuan finansial internasional dinilai malah memperparah masalah lingkungan. Satu program di Kosta Rika yang awalnya didesain untuk membantu pembiayaan konservasi hutan, justru mensubsidi industri perdagangan hasil hutan untuk menanam satu spesies pohon yang digunakan untuk palet kayu.[6]David Lansing. (28 April 2013). Understanding linkages between ecosystem service payments, forest plantations, and export agriculture. Geoforum Volume 47.

Dalam studi ini, Dr Jessica Dempsey, Profesor Muda Politik Lingkungan Hidup University of British Colombia, menuliskan bahwa diperlukan pemikiran ulang yang komprehensif tentang bagaimana model perekonomian saat ini mendorong kepunahan massal berikutnya. Ia juga menambahkan bahwa semua pihak harus memerhatikan dengan lebih serius kebijakan-kebijakan ekonomi seperti kebijakan perpajakan dan kekayaan intelektual, dan bagaimana ekonomi global berjalan – apa arti sebenarnya dari tanggung jawab keuangan negara, ketika pengetatan anggaran memiliki track record yang buruk dalam perlindungan alam liar.

Model ekonomi saat ini harus segera ditata ulang. Sistem finansial dan ekonomi yang terus mendanai kerusakan alam tidak hanya membahayakan satwa dan kehidupan liar, namun juga keberlangsungan peradaban manusia sendiri. Semua pihak yang mensponsori perekonomian ini, terutama negara-negara kaya beserta lembaga-lembaga keuangannya, wajib menutup dan menurunkan secara drastis penanaman uangnya pada sektor-sektor yang menghancurkan alam liar. Para pemerintah negara juga sepatutnya mengadili pelaku-pelaku perbankan yang mengambil keuntungan dari kebinasaan ekosistem Bumi. Terakhir, setiap orang harus mencermati bagaimana uang mereka diinvestasikan, agar uang dan asetnya tidak dimanfaatkan untuk memusnahkan kehidupan di planet ini.

BACA JUGA:
Mengenal Surili Jawa dan Peranannya dalam Regenerasi Hutan Tropis

Referensi[+]

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments