Alam: Antara Fungsi Ekologi dan Ekonomi

  • Share
Gambar seekor gajah sumatera saat berada di alam yang merupakan habitatnya. | Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia
Gambar seekor gajah sumatera saat berada di alam yang merupakan habitatnya. | Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Gardaanimalia.com – Sebagai kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup sumber daya alam seperti tanah, air, sinar matahari, mineral serta flora dan fauna yang tumbuh, baik di lautan maupun daratan.

Pun termasuk manusia dan lingkungan, semuanya menjadi hal yang fundamental untuk keberlangsungan hidup seluruh makhluk yang tinggal di dalamnya.

Dalam arti, bahwa lingkungan adalah sesuatu yang berada di sekitar kita -manusia- dan itu memengaruhi perkembangan kehidupan setiap makhluk hidup.

Mengetahui pengertian itu, pertanyaannya adalah apakah manusia sebagai komponen dan organisme ter-cer-das menyadari bahwa kita merupakan bagian dari lingkungan tersebut?

Pertanyaan ini sangat riuh untuk didiskusikan. Seperti misalnya, masyarakat pada masa lalu menjaga adat istiadat dan nilai budaya tentang hubungan alam dan manusia, melalui pepatah dan peribahasa.

Selain itu, masyarakat zaman dulu juga menjaga kelestarian dengan pemikiran-pemikiran tentang alam yang dituangkannya dalam tutur lisan yaitu cerita rakyat (folklor).

Dengan proses interaksi demikian -perilaku, paradigma, dan perangai diri- generasi penerus masyarakat tersebut, secara turun-temurun akan lebih terjaga.

Namun sayang, realita saat ini sedikit berbeda. Pemikiran manusia menjadi pragmatis dengan mendahulukan hasil (materi) daripada kekayaan alam itu sendiri, serta mengabaikan fungsi ekologis.

Saya sengaja menggunakan diksi “pragmatis” untuk menggambarkan manusia yang acuh tak acuh terhadap aktivitas pengelolaan sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan.

Dewasa ini, pemikiran masyarakat yang tergambar melalui tindakan sehari-hari atau berdasarkan momen tertentu, baik individu maupun kelompok, masih lebih banyak yang pragmatis -mungkin saya juga ada di dalamnya.

Misal, buang sampah di aliran sungai. Masyarakat mungkin mempertimbangkan biaya yang akan dikeluarkan untuk tukang sampah per bulan, sehingga melakukan pembuangan sampah secara mandiri dan gratis sering kali jadi pilihan.

Tak hanya itu, karena ada juga masyarakat yang berpikir bahwa membuang sampah di sungai merupakan tindakan yang praktis, dan menurutnya, sampah akan cepat hilang terbawa arus.

BACA JUGA:
Tak Banyak Tersisa di Hutan, Populasi Harimau Sumatera Harus Dijaga!

Beralih ke permasalahan serupa, di mana manusia kerap lebih mementingkan materi ketimbang mempertahankan keseimbangan ekosistem dengan tetap menjaga eksistensi dari setiap makhluk hidup, termasuk satwa liar.

Salah satu contohnya, harga burung hantu yang mahal dan memiliki banyak peminat, akhirnya mengakibatkan marak terjadi perburuan liar burung hantu dan membuat populasinya menurun.

Mereka yang berpikiran pragmatis tadi, hanya fokus kepada kepentingan pribadi maupun kelompok, yang dirasa bisa diraih secara instan dan cepat.

Mereka tidak berpikir bahwa keseimbangan alam menjadi terganggu dan menyebabkan terjadi ketimpangan ekosistem akibat tindakannya tersebut.

Karena setiap proses berpikir manusia, itu tentu berkaitan dengan bagaimana perspektif atau sudut pandang mereka terhadap suatu hal, apapun itu.

Jika manusia berpandangan bahwa alam hanya sebagai objek, maka mereka akan berpikir bebas melakukan apapun terhadap alam, meski sejatinya untuk kepentingan sesaat saja.

Begitu juga sebaliknya, jika manusia melihat alam sebagai subjek dengan fungsinya yang utuh, maka tentu mereka akan lebih berusaha untuk menjaga dan melestarikannya.

Mereproduksi Pespektif, Membangun Pondasi yang Lebih Baik

Memang, mengatur atau memfasilitasi pandangan manusia lebih sulit daripada mengatur dan memfasilitasi perlindungan hukum untuk membatasi suatu pelanggaran tertentu.

Meski bukan hal yang gampang, tetapi mengupayakan untuk dapat mengubah cara pandang manusia demi masa depan alam yang lebih baik tetap harus dilakukan, dan tak boleh disepelekan.

Maka dari itu, kita perlu memastikan bahwa pengetahuan atas pentingnya alam, serta hubungan positifnya dengan kita (manusia) itu dapat terus diproduksi.

Hal kecil misalnya, kampanye-kampanye lingkungan (pendidikan pedagogi) di media sosial atau media konvensional; kurikulum pendidikan yang membahas tentang alam dan lingkungan (untuk siswa-siswi sebagai penerus penjaga bumi).

BACA JUGA:
BKSDA Kalbar Gandeng Media Massa untuk Upaya Pelindungan Satwa

Termasuk dalam koridor kebijakan, pentingnya kontrol masyarakat terhadap kebijakan yang dihasilkan pemerintah terhadap alam dan lingkungan.

Berangkat dari hal itu, maka penting untuk terus melakukan produksi perspektif yang lebih ramah terhadap alam dan lingkungan. Dengan harapan, perlahan akan terbangun kondisi yang lebih baik antara ekologi dan ekonomi.

Fungsi Ekologi dan Fungsi Ekonomi

Pengertian umum antara ekologi dan ekonomi, masing-masing merupakan suatu cabang ilmu yang berbeda, ekologi fokus sebagai cabang ilmu biologi yang membahas interaksi antar makhluk hidup yang satu dengan yang lain, pun hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Sedangakan ekonomi merupakan ilmu pengetahuan yang membahas bagaimana mengelola rumah tangga atau lebih khusus bagaimana rumah tangga tersebut memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari mengelola sumber dayanya.

Dewasa ini, kenyataan antara ekologi dan ekonomi menimbulkan jarak yang cukup luas. Padahal, ekologi dan ekonomi bisa berjalan beriringan dan tidak saling mengalahkan satu sama lain.

Sebagai ilmu pengetahuan yang secara hakikat memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan kesejahteraan untuk kemaslahatan bersama, sudah seharusnya kedua ilmu tersebut dijalankan sesuai kaidah masing-masing.

Sehingga tidak akan terjadi seperti situasi, di mana untuk meningkatkan ekonomi, kita memiliki kendala kerusakan ekologi. Ataupun sebaliknya, ketika kita mempertahankan ekologi, kita tidak mampu mengoptimalkan ekonomi.

Seharusnya, dengan menghubungkan kedua ilmu pengetahuan tersebut, kita bisa mendapatkan manfaat yang lebih bijak dari sumber daya alam kita dengan tetap mempertimbangkan ekologinya.

Kita ambil contoh kerusakan ekologi pertanian, saat terjadi lonjakan populasi hama tikus di areal pertanian padi dan jagung, atau melimpahnya hama wereng, ternyata berdampak menurunkan produksi hingga 80% bahkan gagal panen.

Hal tersebut terjadi karena ketidakmampuan kita dalam melihat dan memandang alam berdasarkan perspektif yang tidak memisahkan antara fungsi ekologi dan ekonomi.

BACA JUGA:
Kucing Hutan Bukan Peliharaan! Pecinta Kucing Harus Sadar

Karena hal tersebut, maka yang terjadi adalah penggunaan pestisida, perburuan predator dan lainnya, yang mana itu jauh dari perilaku memposisikan alam sebagai fungsi ekologi.

Kejadian miris lainnya, seperti dikutip dari Kompas pada 25 Januari 2022, warga Kabupaten Tuban Jawa Timur mengaku menyesal telah menjual tanahnya ke BUMN Migas setelah hampir satu tahun menjadi miliader.

Lantaran menjual tanah tersebut, warga menjadi kehilangan penghasilan.[1]https://www.kompas.tv/article/255484/lepas-lahan-pertanian-warga-tuban-minta-pertamina-berikan-kepastian-pekerjaan-sesuai-janji Namun, seandainya masyarakat berpikir jauh ke depan, maka tanah menjadi satu hal yang akan tetap dipertahankan yang akan digunakan sebagai media bercocok tanam.

Dengan begitu, tentu penghasilan yang akan diperoleh warga dapat terus terjadi secara berkesinambungan, dan bukan hanya untuk sesaat -meski tidak dalam jumlah yang besar.

Kemudian, untuk situasi pembuat kebijakan pembangunan dan pihak BUMN Migas, mungkin perlu menjadi ulasan sendiri, bagaimana pertimbangannya atas ekologi dan ekonomi.

Hal utama lainnya, mungkin bisa melihat satwa liar sebagai indikator ekologi, yang saat ini kondisinya juga mengalami penurunan populasi bahkan kepunahan.

Sejak tahun 1970, dikutip dari Forestdigest pada 19 Januari 2022, menyebut bahwa jumlah spesies satwa liar global menurun, kita telah kehilangan 36% spesies hewan darat; 76% hewan air dan 36% hewan laut.

Tiga faktor terbesar yang memengaruhi situsasi tersebut adalah eksploitasi, degradasi habitat dan kehilangan habitat.[2]https://www.forestdigest.com/detail/1541/apa-itu-kepunahan-keenam

Jika kita urutkan, ketiga faktor tersebut sebenarnya manifestasi dari semua aktivitas manusia yang berkemajuan serta mengedepankan ekonomi, namun lalai terhadap fungsi ekologi.

Lantas, dengan pertimbangan atas permasalahan yang sedari tadi kita bahas, kira-kira apa yang dapat kita lakukan? Tentu, kita bisa menjadi bagian dari perubahan untuk lingkungan dan alam yang lebih baik ke depan.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments