Berita

Rimba Tersisa di Jakarta, Pulau Rambut bersama Burung-Burung yang Singgah

11/02/2026|Bayu Nanda
Dua ekor bangau bluwok sedang menjaga sarang terpantau saat peserta sedang berjalan ke arah bird hide Foto Bayu NandaGard...

Dua ekor bangau bluwok sedang menjaga sarang, terpantau saat peserta sedang berjalan ke arah bird hide. | Foto: Bayu Nanda/Garda Animalia

Gardaanimalia.com - Ketika mendengar nama “Jakarta”, yang terbayang di benak banyak orang adalah gedung pencakar langit, polusi yang pekat, dan kemacetan. Namun, tahukah kamu bahwa Provinsi DKI Jakarta masih menyisakan rimbanya?

Dari arah barat laut Pelabuhan Tanjung Priok, pulau kecil yang mendapat julukan “Kerajaan Burung” selalu menarik langkah para pengamat dan peneliti burung. Namanya Pulau Rambut, kawasan dengan luas sekitar 90 hektare yang telah berstatus suaka margasatwa sejak 1999.

Sekitar 20 peserta yang terdiri dari para pengamat dan peneliti burung datang ke Pulau Rambut untuk berkontribusi dalam Asian Waterbirds Census (AWC) 2026 pada Sabtu (7/2/2026) lalu.

AWC merupakan sensus tahunan burung air yang dilakukan untuk memantau kesehatan lahan basah dan burung air. Kegiatan ini menjadi penting, sebab burung air adalah salah satu bioindikator yang dapat memberikan informasi tentang kualitas lingkungan.

“Kalau sedang demam, manusia pakai termometer. Nah, burung ini seperti termometernya lingkungan,” ujar Biodiversity and Conservation Officer Burung Indonesia, Achmad Ridha Junaid, memberikan analogi sebelum kegiatan dimulai.

Selain menunjukkan kualitas lingkungan, data sensus juga dapat memberikan informasi mengenai populasi spesies tertentu. Misalnya, dara-laut cina (Thalasseus bernsteini), spesies migran dari pesisir Timur Tiongkok yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan migrasinya.

Dara-laut cina tercatat sebagai salah satu spesies terlangka di dunia. Namun, berkat data AWC yang konsisten dikumpulkan dari tahun ke tahun, populasinya menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Uploaded content
Satu per satu para peserta Asian Waterbirds Census di Pulau Rambut turun dari kapal nelayan dan menginjakkan kaki di pulau. | Foto: Bayu Nanda/Garda Animalia

Para peserta AWC Indonesia tiba di Pulau Rambut sekitar pukul 10.00 WIB. Tanpa berlama-lama, mereka menuju sejumlah spot pengamatan yang sudah ditentukan, yaitu dermaga di selatan, bird hide di utara, dan menara pengamatan di tengah pulau.

Ketika berada di dermaga, pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris) dapat dengan mudah dijumpai. Beberapa dari mereka sibuk hilir mudik membawa rumput untuk membangun sarang, sedangkan lainnya menukik ke laut untuk mencari makan.

Dua jam waktu pengamatan berlalu, para peserta kemudian berkumpul untuk mendidskusikan hasil temuan mereka hari itu.

Terdapat total 33 spesies burung lain yang terdata dalam sensus, 14 di antaranya merupakan burung air. Salah satunya adalah dara laut kumis (Chlidonias hybrida), trinil pantai (Actitis hypoleucos), cikalang christmas (Fregata andrewsi), cikalang kecil (Fregata ariel), dan bangau bluwok (Mycteria cinerea) yang merupakan ikon Pulau Rambut.

Mengenang Pulau Rambut dan Kelestarian Hayatinya

Pulau Rambut telah diakui secara internasional sebagai kawasan lahan basah bernilai ekologi tinggi melalui pengukuhannya sebagai Situs Ramsar pada pada 11 November 2011.

Pulau ini memiliki vegetasi berupa hutan mangrove dan hutan dataran rendah. Terdapat 15 spesies mangrove yang hidup di areal Pulau Rambut. Dengan ekosistem itu, Pulau Rambut mampu menyediakan makanan dan tempat untuk bersarang bagi burung air penetap maupun burung migran Asia.

Selain itu, Pulau Rambut merupakan salah satu Kawasan Penting bagi Burung atau Important Bird Area (IBA) yang ditetapkan berdasarkan serangkaian kriteria standar berbasis data.

IBA diluncurkan oleh BirdLife pada 1979, dengan tujuan menargetkan tindakan konservasi sehingga dapat meminimalkan dampak kehilangan dan degradasi habitat terhadap burung.

Sayangnya, terdapat indikasi penurunan populasi burung air di Pulau Rambut. Dugaan ini muncul ketika salah satu peserta AWC bercerita tentang pengalamannya mengunjungi Pulau Rambut sekitar 14 tahun lalu dan membandingkannya dengan kondisi saat ini.

“Saya kaget ketika naik menara pengamatan karena dulu sangat terlihat burung berwarna putih [dari atas menara]. Saya lihat juga banyak sarang-sarang burung, bahkan telurnya, sepertinya telur kowak malam, banyak juvenile-nya juga,” cerita Niarsi Merry Hemelda, Senin (9/2/2026).

Namun, apa yang ia lihat pada kunjungannnnya kali ini sangat kontras. Merry dan beberapa peserta lain mengaku bahwa jumlah burung  yang bertengger tampak jauh lebih sedikit.

Uploaded content
Diskusi santai di pinggir pantai Pulau Rambut tentang hasil pengamatan burung. | Foto: Bayu Nanda/Garda Animalia

Kontribusi Sensus Burung pada Upaya Konservasi

Asian Waterbirds Census telah terselenggara selama 40 tahun, mencakup 6.700 lokasi di 27 negara. Sementara, sensus burung secara global atau International Waterbirds Census (IWC) telah berlangsung selama 60 tahun.

Selama enam dekade terakhir, IWC telah menjadi salah satu program pemantauan keanekaragaman hayati terbesar dan paling lama dilaksanakan di dunia. Implikasi dari data sensus yang berhasil dikoleksi menuntun kita untuk mendapatkan informasi secara ilmiah yang menjadi dasar pengambilan keputusan untuk pengelolaan berkelanjutan.

“Data AWC digunakan untuk untuk situs penting seperti taman nasional, kawasan lindungan, kawasan suaka alam, dan juga beberapa penentuan data migrasi burung lokasi penting burung bermigrasi,” kata Koordinator AWC Indonesia dari Wetlands International Indonesia, Yaumud.

Ia menerangkan bahwa sensus burung dilakukan serentak pada Januari sampai Februari. Penyeragaman waktu pelaksanaan ini ditujukan agar tidak terjadi double counting, khususnya pada burung-burung migran.

Data IWC yang dikumpulkan selama ini telah memberikan gambaran kepada kita tentang bagaimana perubahan jumlah dan persebaran burung air. Meski spesies tertentu meningkat jumlahnya, tak dapat disangkal bahwa banyak pula yang mengalami penurunan karena tekanan habitat lahan basah di sepanjang jalur terbang mereka.

Dari 2.369 populasi yang terpantau selama ini, 612 populasi di antaranya mengalami penurunan dan 328 mengalami peningkatan.

Uploaded content
Cikalang christmas bertengger di bambu-bambu yang menancap di sekitar Pulau Rambut. Cikalang christmas adalah salah satu burung migran yang datang ke Pulau Rambut. | Foto: Bayu Nanda/Garda Animalia

AWC Indonesia tahun ini dilakukan atas kerja sama beberapa lembaga, mulai dari Kementerian Kehutanan, Wetlands International Indonesia, Burung Indonesia, Burung Laut Indonesia, Burungnesia, dan Yayasan EKSAI.

Yaumud memaparkan, AWC 2026 menyediakan small grant untuk mendukung dan mengapresiasi para mengamat burung yang melakukan sensus.

Melalui kegiatan ini, ia berharap semakin banyak pihak yang peduli pada lingkungan, termasuk pada burung air. 

“Kita sama-sama mengawasi spesies burung yang bermigrasi di seluruh dunia yang mampir ke Indonesia. Semoga nantinya kita semakin peduli dan ikut serta melestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia,” tutur Yaumud.