Gardaanimalia.com - Seekor kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea) ditemukan dalam kondisi memprihatinkan setelah lima tahun dipenjara di rumah. Burung dengan status kritis (Critically Endangered) itu terlihat kurus, mengalami kerontok buluk, dan kondisi fisik yang menurun saat ditemukan.
Pemilik burung kemudian menyerahkan satwa tersebut kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur agar mendapatkan penanganan yang sesuai. Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah III Surabaya segera melakukan proses evakuasi terhadap burung dilindungi itu Penyerahan berlangsung di kawasan Kalijaten, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo pada Kamis, (18/6/2026).
Informasi awal diterima sehari sebelum proses evakuasi, setelah pemilik menyampaikan keinginannya untuk menyerahkan satwa yang selama ini dipelihara. Keputusan tersebut didasari kesadaran bahwa satwa liar membutuhkan penanganan yang lebih tepat sesuai dengan kaidah konservasi.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah III Surabaya segera menuju lokasi dengan membawa peralatan evakuasi standar. Setibanya di lokasi, petugas berkoordinasi dengan pihak keluarga sekaligus mengumpulkan informasi mengenai riwayat pemeliharaan burung tersebut.
Pemeriksaan awal menunjukkan, kakatua masih dalam kondisi hidup, tetapi mengalami kerontokan bulu. Kondisi ini merupakan salah satu permasalahan yang kerap dijumpai pada satwa liar yang dipelihara dalam jangka waktu lama di luar habitat alaminya.
Status kritisnya tersebut membuat penanganan lanjutan harus dilakukan secara cepat dan sesuai dengan prosedur konservasi. Proses evakuasi dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Burung dimasukkan ke dalam kandang angkut khusus untuk meminimalkan stres dan mengurangi risiko cedera selama perjalanan.
Seluruh tahapan penanganan juga menerapkan prinsip kesejahteraan satwa agar tidak menambah tekanan terhadap kondisi fisiknya. Setelah dievakuasi, kakatua tersebut ditranslokasikan ke Kandang Transit Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Di fasilitas ini, burung akan menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, pemulihan kondisi fisik, serta rehabilitasi perilaku sebagai bagian dari proses menuju kemungkinan pelepasliaran ke habitat alaminya.
Alasan Di Balik Rontoknya Bulu Burung Kakatua
Pengendali Ekosistem Hutan Muda BBKSDA Jawa Timur, Fajar Dwi Nur Aji, menyampaikan bahwa kasus seperti ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat. Menurutnya, memelihara burung liar tidak semudah yang dibayangkan dan pada prinsipnya memang tidak dianjurkan.
Lantas, mengapa bulunya rontok? Penyebabnya bisa bermacam-macam, paling sering adalah stres dan pakan yang tidak sesuai. Burung seperti kakatua merupakan satwa liar yang telah berevolusi selama ribuan tahun untuk hidup bebas di alam. Di habitat alaminya, kakatua terbang jauh, mencari makan sendiri, berinteraksi dengan kelompoknya, serta mendapatkan paparan sinar matahari dan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan biologisnya.
"Ketika dipelihara dalam ruang yang terbatas, banyak perilaku alaminya yang tidak dapat dilakukan. Kondisi inilah yang sering memicu stres berkepanjangan sehingga burung mencabuti bulunya sendiri atau mengalami gangguan pertumbuhan bulu," jelas Fajar kepada Garda Animalia, Selasa (23/6/2026).
Selain itu, faktor pakan juga sangat berpengaruh. Banyak masyarakat memberikan pakan berdasarkan apa yang tersedia, padahal kebutuhan nutrisi burung paruh bengkok sangat spesifik. Kekurangan vitamin, mineral, protein, maupun variasi pakan dapat menyebabkan kualitas bulu menurun, menjadi kusam, mudah patah, hingga akhirnya rontok.
"Jadi, bulu rontok bukan semata-mata karena berada di luar habitat alaminya, tetapi merupakan kombinasi dari stres, kesalahan pakan, kurangnya ruang gerak, hingga kemungkinan adanya penyakit atau parasit," ungkapnya.
Jika kondisi seperti ini terus dipaksakan, dampaknya bisa lebih serius. Burung dapat mengalami stres parah, daya tahan tubuh menurun, lebih rentan terserang penyakit, hingga kehilangan perilaku alaminya sebagai satwa liar. Pada akhirnya, bukan hanya bulunya yang rusak, tetapi kualitas hidupnya juga menurun dan peluangnya untuk kembali ke alam menjadi semakin kecil.
Ancaman Populasi yang Terus Menurun
Populasi Terus Menurun Tingginya minat masyarakat untuk memelihara kakatua turut menyebabkan populasinya terus menurun akibat perburuan, perdagangan ilegal, serta hilangnya habitat. Secara umum, kakatua kecil jambul kuning tersebar di Nusa Tenggara, Sulawesi, Timor, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Menariknya, salah satu anak jenis (subspesies) kakatua ini juga terdapat di Jawa Timur, yakni Kakatua Kecil Jambul Kuning abbotti yang endemik Pulau Masakambing, Kabupaten Sumenep. Subspesies tersebut bahkan termasuk salah satu burung paruh bengkok paling langka di dunia karena seluruh populasi liarnya hanya ditemukan di pulau kecil tersebut.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa populasinya sempat berada pada kondisi sangat kritis dan hanya tersisa belasan ekor. Namun, jumlahnya berangsur meningkat berkat upaya konservasi yang dilakukan masyarakat bersama pemerintah. Berdasarkan data pemantauan lapangan tahun 2025 yang menjadi rujukan pengelolaan konservasi di Jawa Timur, jumlah individu liar subspesies abbotti diperkirakan sekitar 32 ekor.
Meski demikian, jumlah tersebut masih sangat rentan sehingga setiap individu memiliki nilai konservasi yang sangat penting bagi keberlangsungan populasinya. Karena itu, langkah yang tepat ketika menemukan satwa seperti ini bukanlah memeliharanya, melainkan menyerahkannya kepada petugas KSDA sebagai otoritas pengelola (management authority) CITES atau melalui lembaga konservasi yang berkoordinasi dengan KSDA agar satwa dapat direhabilitasi. Tujuannya bukan sekadar menyelamatkan satu ekor burung, tetapi mengembalikan hak satwa tersebut untuk hidup sebagaimana mestinya di alam.
"Saya selalu menyampaikan kepada masyarakat bahwa mencintai satwa liar tidak harus dengan memiliki. Justru bentuk cinta yang paling tulus adalah membiarkan mereka tetap hidup liar di habitatnya," papar Fajar.
Ketika seekor kakatua kehilangan bulunya akibat dipelihara, hal itu menjadi pengingat bahwa alam telah menyediakan tempat terbaik bagi satwa tersebut, dan tempat itu bukanlah di dalam kandang. Namun, jalan menuju kebebasan tidaklah sederhana. Satwa yang terlalu lama hidup dalam interaksi dengan manusia sering kali kehilangan sebagian naluri alaminya.
Oleh karena itu, setiap keputusan pelepasliaran harus didasarkan pada kajian ilmiah yang ketat, mulai dari aspek kesehatan, perilaku, hingga pertimbangan genetika dan kesiapan habitat.
Di balik bulu yang rontok, tersimpan kisah panjang tentang keterpisahan dari alam. Namun, pada hari itu sebuah keputusan diambil, bukan oleh negara, melainkan oleh seorang warga yang membuka peluang baru bagi kehidupan satwa tersebut. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari kawasan hutan atau suaka margasatwa. Upaya tersebut juga dapat berawal dari ruang tamu, dari kesadaran sederhana, dan dari keberanian untuk melepaskan satwa liar kembali kepada pihak yang berwenang.
"Karena pada akhirnya, menjaga satwa liar tetap liar adalah bentuk perlindungan tertinggi yang dapat kita berikan," tutup Fajar.
















