Singky: Bukan Hanya Gajah Sumatera, Orangutan juga Mati di KBS

  • Share
Ilustrasi gajah sumatera bersama anaknya. | Foto: Halloriau/Rimbakita
Ilustrasi gajah sumatera bersama anaknya. | Foto: Halloriau/Rimbakita

Gardaanimalia.com – Seekor gajah sumatera berjenis kelamin jantan diketahui mati di usia 2,5 tahun di Kebun Binatang Surabaya (KBS) pada Rabu (15/12) pukul 03.26 WIB.

Satwa dilindungi yang diberi nama Dumbo oleh Menteri Sosial Tri Rismaharini tersebut, dalam keterangan tertulis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur mengungkapkan bahwa gajah muda itu diperkirakan mati karena virus.

“Berdasarkan hasil nekropsi yang dilakukan oleh tim medis Kebun Binatang Surabaya diduga kematian anak gajah sumatera tersebut disebabkan oleh virus Elephant endotheliotropic herpesviruses (EEHV),” kata BBKSDA Jatim, Sabtu (18/12).

BBKSDA Jatim mengatakan bahwa gejala awalnya satwa dilindungi itu terlihat lesu/kurang aktif dan mengalami penurunan nafsu makan. Kemudian dilakukan tindak lanjut oleh tim medis, di mana hasil pemeriksaan menemukan ujung lidah anak gajah tersebut berwarna kebiruan (sianosis) dan terjadi pembengkakan sekitar mata.

Wiratno, Direktur Jenderal KSDAE mengatakan bahwa kematian anak gajah di fasilitas eksitu akibat EEHV perlu menjadi perhatian semua pihak terutama dalam pengelolaan Lembaga Konservasi.

“Meskipun sulit di deteksi awal akan tetapi dapat dilakukan pencegahan dengan peningkatan sanitasi terhadap lingkungan tempat perawatan gajah jinak termasuk sanitasi atas pawang/mahout yang memelihara dan merawat gajah serta deteksi dini terhadap munculnya EEHV pada gajah jinak yang masih berusia di bawah 10 tahun,” ujarnya.

Langkah-langkah pengamanan yang bisa dilakukan, lanjut Wiratno, ialah dengan melakukan isolasi terhadap gajah yang terdeteksi virus guna mencegah penularan pada gajah lainnya.

“Konfirmasi atas penyebab lebih jelasnya kematian anak gajah di Kebun Binatang Surabaya masih menunggu hasil pemeriksaan PCR di PT Medika Satwa Laboratoris, Bogor terhadap sampel organ yang dikirimkan,” tambah Wiratno.

BACA JUGA:
9 Individu Orangutan Asal Indonesia Direpatriasi dari Malaysia

Peristiwa tragis tersebut pun memantik kemarahan Singky Soewadji, Ketua Aliansi Pecinta Satwa Indonesia (APECSI) yang mengungkapkan bahwa tak hanya seekor gajah, tetapi seminggu lalu seekor orangutan juga mati di KBS.

“Nyawa itu di tangan Tuhan, kematian anak gajah bernama Dumbo di KBS ternyata sudah beberapa waktu lalu berbarengan dengan orangutan juga mati. Hasil autopsi, pembuluh darah pecah dan diduga virus, ini jawaban normatif. Kalau virus kenapa yang lain tidak kena?” ungkap Singky geram.

Singky juga mempertanyakan kematian gajah sumatera dan orangutan di Lembaga Konservasi eksitu tersebut. “Apa penyebab matinya Dumbo anak gajah dan orangutan di KBS?” ujarnya merasa heran.

Ia juga menyampaikan bahwa mungkin ada banyak tidak tahu, ada empat ekor gajah betina koleksi KBS yang merupakan prakarsa dan upayanya. Keempat satwa dilindungi itu, terang Singky, ialah Cindy, Lembang, Silvy, dan Ilir.

“Gajah ini disita dari Holiday Circus di era Kuspriadi selaku Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim I (sekarang dilebur dengan BKSDA Jatim II menjadi Balai Besar KSDA),” lanjutnya.

Namun, Singky mengungkapkan bahwa Cindy termasuk salah seekor dari 420 satwa KBS yang dijarah oleh Tim Pengelolah Sementara (TPS) KBS yang saat ini keberadaannya tidak diketahui di mana. “Sekarang, entah di mana Cindy berada?” tuturnya.

Terakhir kali, Singky mengetahui bahwa Cindy dibawa ke Mirah Fantasia Banyuwangi dan dipindah lagi ke Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB).

Terkait kematian gajah sumatera muda itu, Singky juga mengingatkan bahwa satwa itu termasuk yang dilindungi oleh Undang-Undang. “Awas lho bisa dipidanakan, ini satwa Appendix I dilindungi oleh Undang-Undang,” pungkasnya.

Sebelumnya, Anas Karno, Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya sempat dilarang masuk oleh petugas keamanan KBS pada Jumat (17/12). “Namun, setelah mengatakan sedang menjalankan tugas kedewanan, petugas langsung membuka pintu masuk,” ujar Anas dilansir dari Times Indonesia.

Ia mengatakan bahwa aset-aset yang dimiliki oleh KBS, termasuk satwa-satwa di dalamnya itu merupakan milik Pemkot Surabaya, yang artinya juga adalah milik warga Surabaya.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments