Edukasi

Cara Diet ala Orangutan, Gizi Seimbang dan Metabolisme Teratur

22/09/2025|Garda Animalia
Induk dan anak orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus). | Foto: Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia

Induk dan anak orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus). | Foto: Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia

Gardaanimalia.com Manusia pergi ke ahli gizi untuk belajar tentang pentingnya menjaga nutrisi. Mulai dari cara menjaga pola makan sehat hingga kiat-kiat terhindar dari penyakit seperti obesitas. Sebagai alternatif, mungkin sebelum pergi ke dokter gizi kalian bisa melihat cara makan orangutan.

Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Science Advances yang dilakukan selama 15 tahun terhadap orangutan liar kalimantan (Pongo pygmaeus), para peneliti menyimpulkan primata mengungguli manusia modern dalam hal menghindari obesitas. Hal ini didasari atas pilihan makanan dan olahraga yang seimbang.

Erin Vogel, Profesor Henry Rutgers Term Chair dari Departemen Antropologi di Sekolah Seni dan Sains, yang memimpin penelitian mengatakan, studi ini menekankan pentingnya memahami pola makan alami serta dampaknya bagi kesehatan, baik pada orangutan maupun manusia.

Orangutan merupakan kerabat dekat manusia yang masih hidup hingga kini, kedekatan evolusioner ini membuat orangutan dan manusia memiliki kesamaan dalam fisiologi, metabolisme, kebutuhan nutrisi, serta pola adaptasi perilaku.

Manusia juga memiliki fleksibilitas metabolisme. Namun, pola makan modern yang sarat makanan olahan justru mengganggu keseimbangan tersebut dan berisiko menimbulkan gangguan metabolisme seperti diabetes,” jelas Vogel.

Ia menambahkan, orangutan cenderung mengurangi aktivitas fisik saat ketersediaan buah menurun untuk menghemat energi. Sebaliknya, manusia, terutama yang bergaya hidup jarang bergerak, sering kali tidak menyesuaikan penggunaan energi dengan jumlah kalori yang masuk. Akibatnya, muncul kelebihan berat badan dan masalah kesehatan lain.

Vogel menegaskan bahwa strategi diet orangutan bisa memberi inspirasi untuk praktik gizi yang lebih sehat bagi manusia.

Kesimpulannya, penelitian tentang orangutan menyoroti pentingnya keseimbangan pola makan dan fleksibilitas metabolisme yang vital untuk menjaga kesehatan, baik pada orangutan maupun manusia,” ujarnya.

“Hasil ini juga menunjukkan bagaimana pola makan modern yang dipenuhi makanan olahan tinggi gula dan lemak dapat memicu ketidakseimbangan metabolisme serta berbagai masalah kesehatan,” lanjutnya.

Dalam riset sebelumnya, Vogel bersama timnya berhasil memetakan pola makan orangutan. Mereka diketahui lebih menyukai buah karena kandungan karbohidrat yang tinggi. Namun, ketika buah sulit didapat, orangutan beralih mengonsumsi daun, kulit kayu, dan sumber lain yang relatif lebih banyak protein meski minim karbohidrat manis.

Saat buah berlimpah, orangutan tetap mengonsumsi protein, tetapi mayoritas energinya diperoleh dari karbohidrat dan lemak dalam buah.

Tim kemudian meneliti hubungan antara ketersediaan buah dengan pola makan serta cara tubuh orangutan menyeimbangkan energi. Hasilnya, terlihat bahwa mereka mampu berganti sumber energidari karbohidrat ke lemak maupun protein ketika makanan favorit berkurang.

Ketika buah langka, orangutan menunjukkan fleksibilitas metabolik dengan memanfaatkan cadangan lemak tubuh dan protein otot sebagai energi. Selain itu, mereka juga beradaptasi melalui perubahan perilaku, lebih banyak beristirahat, tidur lebih awal, jarang bepergian, serta mengurangi interaksi sosial.

Strategi ini memungkinkan mereka menghemat energi sekaligus bertahan hingga musim buah kembali. Saat ketersediaan meningkat, cadangan lemak dan otot kembali dibangun.

Ciri lain dari pola makan orangutan adalah konsistensi asupan protein. Hal ini berbeda dengan pola makan modern yang kerap didominasi makanan murah, tinggi kalori, tetapi rendah protein, yang mendorong obesitas dan penyakit metabolik pada manusia.


Penulis: Nadaa