Gardaanimalia.com - Bagi sebagian besar orang, aroma kopi yang pekat menyengat adalah tanda bahwa pagi telah tiba dan aktivitas siap dimulai. Namun, bagi seorang peneliti yang menghabiskan malam-malam sunyi di dalam rimbunnya hutan sekunder Pulau Bangka, aroma kopi adalah sebuah pesan pembatas, sebuah proklamasi tak kasat mata: "Anda sedang memasuki wilayah kekuasaan mentilin".
Mentilin (Cephalopachus bancanus bancanus), primata identitas Kepulauan Bangka Belitung, satwa pemalu yang bergerak dalam senyapnya malam.
Di balik mata bulat menggemaskan dan kemampuan melompatnya yang luar biasa, mamalia kecil ini menyimpan strategi komunikasi yang sangat canggih dan unik, yaitu memetakan wilayahnya menggunakan air seni beraroma kopi.
Menelusuri Garis Batas Olfaktori
Selama melakukan pengamatan langsung di lapangan, khususnya di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Mangkol dan Hutan Adat Kelekak Zed, saya kerap mendapati fenomena unik ini.
Saat malam baru saja merekah atau ketika fajar hampir menyingsing, individu mentilin akan mendekati batang pohon, lalu melakukan scent-marking dengan menyemprotkan urin mereka pada substrat vertikal.
Aneh, tetapi nyata. Cairan yang mereka keluarkan tidak berbau pesing seperti mamalia pada umumnya, melainkan menyebarkan aroma tajam yang sangat mirip dengan biji kopi yang baru selesai disangrai.
Dalam dunia satwa nokturnal yang minim cahaya, komunikasi visual sangatlah tidak efektif. Di sinilah "aroma kopi" berperan sebagai garis pembatas teritorial visual-olfaktori.
Aroma pekat ini memberi sinyal tegas kepada individu mentilin lain agar tidak terjadi bentrokan fisik demi memperebutkan sumber makanan atau pasangan.
Rahasia di Balik Pancang dan Tiang Hutan Sekunder
Mengapa mentilin begitu betah berada di Tahura Gunung Mangkol dan Kelekak Zed?
Jawabannya ada pada struktur vegetasinya.
Melalui riset lapangan, terungkap bahwa primata ini memiliki preferensi yang sangat spesifik terhadap dua fase pertumbuhan pohon, yaitu pancang (sapling) dan tiang (pole).
Tingkat pancang (diameter 2–10 sentimeter) menjadi media paling favorit bagi mentilin untuk menempelkan tanda aroma kopinya. Hal ini karena tinggi vegetasi pancang ini sejajar dengan jangkauan navigasi penciuman mereka saat melompat.
Sementara, tingkat tiang (diameter 10–20 sentimeter) berfungsi sebagai jalan raya utama bagi mereka. Batang-batang berukuran sedang ini menjadi tempat bertengger paling ideal untuk mengintai serangga malam sekaligus melakukan lompatan horizontal dari satu area ke area lain.
Tahura Gunung Mangkol, dengan statusnya sebagai kawasan konservasi, menyediakan proses suksesi alami yang menghasilkan kerapatan vegetasi pancang yang luar biasa.
Di sisi lain, Kelekak Zed adalah wujud kearifan lokal masyarakat Bangka dalam menjaga hutan komunal, yang menyediakan koridor pohon-pohon lokal fase tiang yang kokoh dan terjaga dari eksploitasi besar-besaran.
Ancaman Nyata di Balik Keunikan Sains
Temuan tentang air seni beraroma kopi dan keterikatannya pada tegakan pancang dan tiang ini bukan sekadar trivia biologi yang menarik. Ini adalah pengingat keras bagi kita semua tentang betapa rapuhnya keseimbangan alam.
Ketika hutan sekunder di sekitar Gunung Mangkol atau kawasan Kelekak mulai terfragmentasi akibat alih fungsi lahan, pertambangan tanpa izin, atau pembalakan liar, yang hilang bukan hanya pohonnya. Kita sedang menghancurkan "papan pengumuman" tempat mentilin menuliskan batas wilayah hidupnya.
Tanpa adanya pancang dan tiang untuk menempelkan aroma kopi mereka, komunikasi mentilin akan kacau, memicu stres, perkelahian antar individu, hingga penurunan populasi secara drastis.
Menjaga Tahura Gunung Mangkol dan melestarikan tradisi Kelekak bukan lagi sekadar opsi, melainkan kewajiban mutlak.
Kita butuh kolaborasi yang kokoh mulai dari ketegasan hukum pemerintah hingga kepedulian masyarakat adat setempat untuk memastikan bahwa di masa depan, kepak malam di hutan Bangka masih akan terus ditemani oleh keunikan aroma kopi sang penjaga rimba, sang Mentilin.















