Gardaanimalia.com - Suatu pelajaran penting dapat kita petik dari kehidupan masyarakat Suku O'Hongana Manyawa. Tentang kata cukup dan memberikan kesempatan pada alam untuk pulih.
Jauh sebelum jalan dan permukiman menjangkau hingga ke pedalaman Halmahera, hutan telah menjadi ruang hidup bagi masyarakat Suku O’Hongana Manyawa. Di dalamnya mereka mencari makanan, mengenali tumbuhan untuk meramu obat-obatan, mengikuti aliran sungai sebagai sumber kehidupan, dan memahami tempat-tempat yang menyediakan kebutuhan hidup.
Cara hidup Suku O’Hongana Manyawa sangat dekat dengan alam. Hingga kini, masih terdapat kelompok yang hidup nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengikuti ketersediaan sumber daya yang dapat menopang kehidupan kelompok.
Perpindahan itu bukan tanpa alasan. Ketika suatu tempat masih mampu menyediakan hewan buruan, ikan, dan udang di sungai, sagu, umbi-umbian, serta berbagai kebutuhan lainnya, artinya wilayah tersebut masih dapat dihuni.
Namun, ketika sumber-sumber makanan mulai berkurang dan sebuah tempat tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan, mereka akan berpindah ke tempat lain yang masih menyediakan sumber daya.
Perpindahan juga dapat terjadi ketika ruang hidup mereka berhadapan dengan perubahan kawasan akibat aktivitas manusia, termasuk pertambangan. Ketika tempat yang selama ini menjadi ruang untuk berburu, mencari pangan, dan memenuhi kebutuhan hidup bersinggungan dengan area pertambangan, ruang yang dapat mereka gunakan menjadi semakin terbatas.
Bagi masyarakat adat yang kehidupannya sangat bergantung pada hutan, perubahan ruang hidup bukan hanya berarti berubahnya bentang alam, tetapi juga berubahnya tempat-tempat yang selama ini menyediakan sumber kehidupan.
Bagi orang luar, kehidupan seperti ini mungkin hanya terlihat sebagai pola hidup nomaden. Namun, di balik kebiasaan berpindah tersebut terdapat pengetahuan tentang hutan yang terbentuk dari hubungan panjang dengan alam.
Mereka mengetahui bahwa hutan tidak selalu berada dalam kondisi yang sama. Ada saat ketika alam menyediakan banyak hal dan ada saat ketika sumber daya mulai berkurang. Ketika tanda-tanda itu mulai terlihat, mereka mengetahui kapan waktunya meninggalkan sebuah tempat.
Dengan meninggalkan tempat tersebut, tekanan terhadap alam pun berkurang. Satwa memiliki kesempatan untuk berkembang biak, ikan, dan udang di sungai dapat kembali bertambah, sagu dan tumbuhan pangan memiliki waktu untuk tumbuh, sementara kondisi sungai dan lingkungan di sekitarnya dapat memulihkan diri.
Kemudian, setelah waktu berlalu dan sumber daya kembali tersedia, mereka dapat kembali ke tempat yang pernah ditinggalkan.
Di dalam pola tersebut terdapat sebuah pemahaman sederhana: alam memiliki batas, dan alam membutuhkan waktu.
Mereka tidak harus menunggu sampai seluruh sumber daya habis untuk berpindah. Ketika alam mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa sebuah tempat tidak lagi cukup, mereka membaca tanda tersebut dan mengambil keputusan untuk pergi.
Di sinilah bukti pengetahuan ekologis Suku O’Hongana Manyawa dapat dilihat. Perpindahan bukan hanya tentang mencari tempat baru untuk hidup, tetapi juga memberikan kesempatan kepada tempat yang ditinggalkan untuk kembali menyediakan kehidupan.
Hutan Bukan Ruang yang Bisa Dimanfaatkan Sesuka Hati
Hubungan dengan hutan juga tidak berhenti pada persoalan mencari makanan.
Dalam pengetahuan yang berkembang di tengah masyarakat O’Hongana Manyawa, hutan memiliki ruang-ruang dengan fungsi dan nilai yang berbeda. Ada tempat yang berkaitan dengan leluhur atau dianggap sakral, ada tempat yang menjadi ruang kehidupan, dan ada pula tempat yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Pembagian ini dikenal dalam pengetahuan masyarakat O’Hongana Manyawa melalui tiga bagian: Fongana, Hongana, dan Raima Hamoko.
Fongana merupakan tempat yang berkaitan dengan leluhur, yang menjadikan tempat tersebut dijaga dan dianggap sakral dan harus dihormati.
Hongana menjadi tempat tinggal sekaligus ruang untuk meramu dan berburu, sedangkan Raima Hamoko merupakan bagian hutan yang menjadi sumber kehidupan melalui pemanfaatan hasil alam.
Pembagian tersebut menunjukkan bahwa jauh sebelum hutan dibagi ke dalam berbagai fungsi berdasarkan aturan pemerintah, O’Hongana Manyawa telah memiliki cara sendiri untuk mengenali fungsi dan batas ruang hidup mereka.
Masyarakat O’Hongana Manyawa hidup dalam kelompok-kelompok kecil dalam satu wilayah. Antarkelompok juga terdapat batas ruang hidup. Masing-masing kelompok memiliki ruang hidupnya sendiri dan terdapat penghormatan agar kelompok lain tidak sembarangan memasuki atau menggunakan tempat yang menjadi ruang hidup mereka.
Dengan demikian, hutan bukanlah satu ruang yang seluruh bagiannya dapat digunakan dengan cara yang sama. Ada tempat yang harus dihormati, ada tempat yang dapat dimanfaatkan, ada pula batas yang harus dipahami.
Pengetahuan seperti ini menunjukkan bahwa kehidupan di dalam hutan dibangun melalui aturan. Bukan hanya aturan tentang apa yang boleh diambil, tetapi juga tentang tempat, waktu, dan batas dalam mengambil sesuatu dari alam.
Prinsip tersebut mengingatkan pada gagasan yang dikenal dalam tradisi sasi di Maluku. Sasi memberikan larangan atau jeda terhadap pengambilan sumber daya tertentu agar alam memiliki kesempatan untuk berkembang dan pulih.
Suku O’Hongana Manyawa tentu memiliki latar dan cara hidup yang berbeda, sehingga praktik mereka tidak dapat begitu saja disebut sebagai sasi.
Namun, keduanya memperlihatkan satu gagasan yang serupa: alam tidak selalu harus diambil. Ada saat ketika manusia perlu memberi kesempatan kepada alam untuk tumbuh kembali.
Ketika Kehidupan Mulai Berubah
Akan tetapi, kehidupan O’Hongana Manyawa di Tayawi hari ini tidak sepenuhnya sama dengan kehidupan kelompok yang masih berpindah.
Di Dusun Tayawi, masyarakat O’Hongana Manyawa yang tinggal di sana telah menetap. Rumah-rumah berdiri di tengah kawasan hutan dan kehidupan berlangsung dalam lingkungan yang lebih permanen.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa O’Hongana Manyawa tidak hidup dalam satu pola yang seragam. Sebagian kelompok masih berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sementara kelompok di Tayawi telah menjalani kehidupan menetap.
Pakaian yang digunakan juga sebagian berasal dari luar komunitas. Ada pakaian yang diperoleh melalui donasi masyarakat maupun bantuan dari Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.
Hubungan dengan masyarakat luar semakin terbuka dan kehidupan mereka bersentuhan dengan berbagai bentuk kehidupan yang sebelumnya tidak menjadi bagian utama dari keseharian mereka.
Perubahan juga terlihat dalam cara memperoleh penghasilan.
Di tengah hutan, masyarakat mengelola kebun dan memanfaatkan pohon damar. Getah damar yang dihasilkan dapat dijual sehingga hutan tidak hanya menjadi tempat memperoleh kebutuhan secara langsung, tetapi juga menjadi bagian dari sumber pendapatan melalui ekonomi uang.
Kehidupan keagamaan pun telah mengalami perubahan. Masyarakat O’Hongana Manyawa di Tayawi telah memeluk agama Kristen dan memiliki gereja sederhana di lingkungan tempat tinggal mereka.
Semua perubahan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan O’Hongana Manyawa terus berubah. Namun, perubahan cara hidup tidak serta-merta berarti bahwa pengetahuan tentang hutan ikut menghilang.
Pengetahuan Hutan yang Masih Diwariskan Sampai Hari Ini
Salah satu gambaran mengenai hal tersebut terlihat dalam kegiatan AJALO Bird Race di Dusun Tayawi, Kawasan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.
Di kawasan kegiatan, panitia menyediakan tempat bagi masyarakat O’hongana Manyawa untuk menjual makanan, minuman, serta berbagai hasil yang mereka miliki. Di stan tersebut, pengetahuan tentang hutan itu hadir dalam bentuk yang sederhana: akar Togutil.
Bagi O’Hongana Manyawa, akar tersebut telah dikenal sebagai bahan obat tradisional. Menurut pengetahuan yang mereka miliki, akar Togutil digunakan untuk membantu mengatasi demam, nyeri tulang, malaria, serta meningkatkan stamina tubuh.
Bagi orang yang tidak mengenal kehidupan di dalam hutan, mungkin akar tersebut hanya terlihat sebagai bagian dari tumbuhan biasa. Namun, bagi masyarakat yang mengenal hutan dari dekat, akar itu menyimpan pengetahuan tentang bagaimana alam dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.a
Pengetahuan tersebut menunjukkan bahwa hutan bagi O’Hongana Manyawa bukan hanya tempat untuk mencari makanan. Hutan juga menyimpan berbagai tumbuhan yang dikenal kegunaannya, termasuk sebagai obat. Pengetahuan itu masih hadir, bahkan ketika kehidupan mereka telah mengalami banyak perubahan.
Masyarakat O’hongana Manyawa di Tayawi telah menetap, mengelola kebun, mengenal ekonomi uang, beragama, menggunakan berbagai barang dari luar komunitas, dan menjalani kehidupan yang semakin terhubung dengan masyarakat di luar hutan.
Namun, pengetahuan tentang hutan tetap memiliki tempat.
Barangkali di sinilah letak persoalannya. Ketika sebuah masyarakat disebut “terbelakang” hanya karena memilih hidup dekat dengan hutan, kita mungkin justru sedang melewatkan pengetahuan yang telah membantu mereka membaca hutan selama beberapa generasi.
Membaca Hutan melalui Masyarakat Adat yang Hidup Bersamanya
Selama ini, kesehatan hutan sering dilihat melalui pepohonan, kualitas air, keanekaragaman hayati, atau keberadaan satwa di dalamnya.
Namun, ada cara lain untuk melihatnya: melalui masyarakat adat yang kehidupannya melekat langsung pada hutan.
Bagi Suku O’Hongana Manyawa yang masih menjalani kehidupan berpindah, berkurangnya hewan buruan, ikan, udang, sagu, atau tumbuhan pangan bukan sekadar persoalan berkurangnya makanan. Itu merupakan tanda bahwa sebuah tempat mulai tidak mampu menyediakan kebutuhan seperti sebelumnya.
Ketika ruang hidup bersinggungan dengan aktivitas pertambangan, kesempatan tersebut menjadi semakin kompleks. Tempat yang seharusnya dapat ditinggalkan untuk sementara dan kembali digunakan ketika sumber daya pulih, dapat berubah atau menyempit karena perubahan penggunaan kawasan.
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya berhadapan dengan perubahan alami dalam ketersediaan sumber daya, tetapi juga dengan perubahan ruang hidup yang berasal dari aktivitas manusia.
Di sinilah keberadaan masyarakat adat dapat menjadi salah satu cara untuk memahami kondisi sebuah ekosistem. Bukan semata-mata karena mereka tinggal di dalam hutan, tetapi karena mereka memiliki pengetahuan ekologis untuk membaca perubahan yang terjadi di dalamnya.
Mereka memahami ketika sungai mulai berkurang hasilnya. Mereka mengetahui ketika sumber makanan mulai sulit ditemukan, memahami tempat-tempat yang dapat dimanfaatkan dan tempat yang harus dihormati.
Dengan kata lain, mereka tidak hanya melihat hutan sebagai tempat tinggal. Mereka membaca hutan sebagai sesuatu yang hidup.
Ketika Alam Mengajarkan Kata "Cukup"
Kehidupan O’Hongana Manyawa yang berubah tidak harus dipandang sebagai hilangnya seluruh pengetahuan masa lalu. Justru perubahan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana pengetahuan lokal bertahan dan menemukan bentuk baru.
Akar Togutil yang dijual dalam kegiatan AJALO Bird Race adalah salah satu contohnya. Ia masih dikenali, digunakan, dan diperkenalkan kepada orang dari luar komunitas.
Mungkin kehidupan hari ini tidak lagi sama bagi setiap kelompok O’Hongana Manyawa. Sebagian masih berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sementara sebagian lainnya, seperti masyarakat di Tayawi, telah menetap. Namun, dari pola hidup kelompok yang masih berpindah tersebut dapat dilihat satu prinsip yang tetap relevan: mengetahui kapan alam masih cukup dan kapan manusia harus berhenti mengambil.
Di tengah dunia yang terus mencari cara untuk memanfaatkan alam sebanyak-banyaknya, pengetahuan itu terasa sederhana sekaligus penting. Sebab menjaga hutan tidak selalu berarti mengetahui bagaimana mengambil lebih banyak dari alam dengan cara yang lebih efisien.
Terkadang, menjaga hutan berarti mengetahui kapan harus mengatakan cukup.
Dan mungkin, ketika berbicara tentang masa depan hutan Halmahera, pengetahuan seperti inilah yang perlu lebih banyak didengar. Bukan untuk mengembalikan O’Hongana Manyawa pada kehidupan masa lalu. Bukan pula untuk menganggap kehidupan mereka harus tetap sama selamanya.
Melainkan untuk memahami bahwa di tengah perubahan zaman, masih ada pengetahuan yang mengajarkan satu hal mendasar: alam juga membutuhkan waktu untuk hidup, tumbuh, berkembang biak, dan memulihkan dirinya sendiri.
















