Khas

Biophilia dan Meningkatnya Minat Publik Mengamati Satwa Liar di Alam

14/05/2026|Muhammad Wildan Al Gifari
Para peserta Weekend Birding dengan seksama mengamati burung di Kebun Raya Bogor Sabtu 28 Maret 2026 Foto Muhammad Wildan...

Para peserta Weekend Birding dengan seksama mengamati burung di Kebun Raya Bogor, Sabtu, 28 Maret 2026. | Foto: Muhammad Wildan Al Gifari/Garda Animalia

Gardaanimalia.com - Selama ini masyarakat umum mengenal dan menyaksikan satwa liar melalui buku, siaran dokumenter di televisi atau pergi ke kebun binatang. Kalaupun ada yang mengamati di habitatnya, seperti bersafari di Afrika atau susur sungai di Amazon, hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang kelas menengah atas hingga kaum jetset (konglomerat). Sisanya, dilakukan oleh yang secara profesi berkecimpung di dunia konservasi.

Namun, kini orang-orang umum mulai tertarik untuk mengenal dan mengamati satwa di habitat aslinya. Apalagi dengan munculnya berbagai kegiatan pengamatan yang diadakan oleh komunitas atau lembaga konservasi, sehingga mempermudah akses khalayak untuk mengenal satwa secara langsung di alam liar, meski tidak langsung kawasan konservasi seperti taman nasional.

Salah satunya kegiatan Weekend Birding yang rutin dilakukan tiap bulan oleh Burung Indonesia. Ditemui di Kebun Raya Bogor saat Weekend Birding, Sabtu, 28 Maret 2026, Heri, salah satu peserta mengatakan ia rutin mengajak keluarganya untuk berkegiatan di luar, seperti pengamatan burung ini. Tujuannya jelas agar anak-anaknya lebih mengenal alam dan mengurangi ketergantungan bermain di pusat perbelanjaan.

“Karena kan sebenarnya anak-anak biar diumbarlah daripada ke mall terus,” ucap Heri.

Mengajak anak-anaknya keluar rumah, terutama ke alam, baginya juga menjadi sarana melampiaskan energi anak yang cukup berlebih.

“Ke lapangan tuh biar tenaganya terkuras, jadi di rumah udah lebih tenang. Karena kalau mereka gak diumbar tuh lama-lama di rumah udah merusuh,” tambah Heri.

Pria yang memiliki latar belakang pendidikan biologi ini juga menceritakan, berkat ajakannya untuk mengamati satwa liar, salah satu anaknya jadi memiliki minat terhadap alam dan satwa liar.

Gregory Galdwin Galeno alias Gege, putra sulung Heri yang berumur 16 tahun mengakui sudah diajak ayahandanya ke alam sejak kecil. Hal yang memicu ketertarikannya pada hidupan liar adalah ketika ia diajak untuk mengamati kehidupan bawah laut.

Kan bisa melihat ikan banyak banget, biota-biota laut. Dari situ sukanya,” ujar Gege.

Satwa liar yang menjadi favoritnya adalah ikan lepu ayam (Pterois volitans).  Ia pun kerap mencatat satwa liar temuannya di platform seperti iNaturalist.

Senada dengan Heri, Dian Ratna Ningrum alias Dian juga mengajak anak-anaknya pengamatan ke alam sebagai sarana pengenalan satwa liar.

“Sebenarnya aku cari kegiatan buat anakku. Anakku kan homeschooling, jadi agar dia belajar langsung ke alam,” ucap wanita yang berdomisili di Cibubur ini.

Member Relation Burung Indonesia Novi Cicionta atau kerap disapa Cio menjelaskan Weekend Birding diadakan sebagai agenda pengenalan burung dan konservasinya kepada masyarakat yang awam dan sama sekali belum pernah mengamati burung, tetapi tertarik untuk melakukannya.

“Jadi sebenarnya Weekend Birding ini memang kita utamakan untuk masyarakat yang baru pertama kali, bahkan belum pernah mengikuti (pengamatan burung),” jelas Cio.

Selain Weekend Birding, Cio menambahkan bahwa Burung Indonesia juga kerap mengadakan trip berbayar ke beberapa tempat, seperti Pulau Rambut, Kepulauan Seribu hingga Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Akan tetapi, Weekend Birding memang dikhususkan umum dan gratis.

“Iya, berbayar. Trip yang jauh itu memang khusus untuk member-member,” ujar Cio.

Cio mengakui kegiatan yang dimulai pada Mei 2025 ini juga sebagai ajang promosi untuk menarik orang-orang agar menjadi anggota Burung Indonesia, NGO (Non-Government Organization) yang menyediakan sistem keanggotaan. 

“Kalau misalnya dari kegiatan ini mereka tertarik untuk aktivitas selanjutnya, birding selanjutnya, bisa gabung komunitas gitu. Salah satunya itu jadi member Burung Indonesia,” ucap Cio.

Uploaded content
Seorang peserta anak-anak dengan binokularnya serius mengamati burung di hadapannya. | Foto: Muhammad Wildan Al Gifari/Garda Animalia

Bagaimana Konservasi Melihat Fenomena Ini?

Edward O. Wilson, ahli biologi sekaligus naturalis berkebangsaan Amerika Serikat pernah mempopulerkan istilah “Biophilia”, yakni pada dasarnya manusia secara naluri akan merasa nyaman dan bahagia saat berada dekat dengan alam.

Selaras dengan dengan konsep tersebut, Biodiversity and Conservation Officer Burung Indonesia, Achmad Ridha Junaid, mengungkapkan bahwa manusia memang memiliki rasa ikatan serta ketertarikan tersendiri terhadap alam dan makhluk hidup lainnya.

“Manusia pada dasarnya memiliki ikatan bawaan dan ketertarikan emosional terhadap makhluk hidup lain,” ucap Ridha ketika dihubungi pada 30 Maret 2026. 

Menurutnya, adanya birdwatching atau kegiatan serupa menjadi sarana orang-orang untuk melampiaskan hasrat tersebut.

“Mereka secara intuitif mencari penyembuhan mental, relaksasi, dan keseimbangan dengan kembali terhubung dengan alam. Jadi, tren ini adalah manifestasi biophilia yang sangat sehat dan wajar,” tambah Ridha.

Selain itu, Ridha menjelaskan bahwa fenomena yang populer disebut dengan citizen science menjadi hal yang menggembirakan bagi kalangan peneliti dan konservasionis termasuk dirinya.   

“Kita bisa menyebutnya sebagai bentuk demokratisasi sains,” ujarnya.

Dengan adanya fenomena ini, menurut Ridha, publik dapat terlibat dalam perkembangan sains, dalam hal ini konservasi, sekaligus menjadi pondasi masyarakat yang sadar akan kelestarian satwa liar.

“Mereka tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi secara tidak langsung juga ikut memantau kondisi lingkungan. Kami melihat antusiasme ini sebagai modal sosial yang sangat besar untuk memperkuat gerakan konservasi di Indonesia pada masa depan,” jelas Ridha.

Terlebih, banyaknya platform-platform pendataan biodiversitas, menurut Ridha, memberikan kontribusi nyata warga umum untuk pengembangan sains konservasi.

“Data perjumpaan satwa yang dicatat oleh masyarakat umum melalui platform seperti AmatiSekitar (database yang dikembangkan Burung Indonesia) atau eBird sangat membantu para peneliti dalam memetakan sebaran satwa,” paparnya.

Fenomena ini juga menjadi kekuatan besar untuk usaha perlindungan satwa liar yang terancam.

“Secara sosial, semakin banyak orang yang mencintai satwa di alam, semakin kuat pula suara penolakan terhadap perusakan habitat atau perburuan liar,” tambah Ridha.

Walau begitu, ia tetap mewanti-wanti dampak negatif dari fenomena ini. Terlebih masyarakat awam yang memasuki ranah ini tentu tidak semuanya langsung memahami apa itu makna “konservasi’ dan satwa liar secara utuh serta benar.

“Antusiasme yang tidak dibarengi pemahaman etika bisa berujung pada gangguan satwa. Contohnya adalah penggunaan suara pancingan (playback) yang berlebihan untuk memanggil burung,” ucapnya.

Selain itu, jumlah pengunjung berlebih tanpa pengelolaan kegiatan yang benar juga berpotensi merusak vegetasi tempat pengamatan diadakan.

Karena itu, ia menilai pembatasan kuota pengunjung dalam setiap kegiatan penting untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan, seperti yang dilakukan oleh Burung Indonesia dalam kegiatan Weekend Birding maupun trip lainnya dengan memberlakukan reservasi untuk menghindari lonjakan peserta serta kondusifitas kegiatan.

Selain itu, pemberian edukasi terutama etika dalam pengamatan satwa liar sangat penting dilakukan guna memberi kenyamanan satwa liar yang diamati.

“Komunitas dan penyelenggara kegiatan harus merumuskan dan menerapkan kode etik pengamatan satwa secara ketat. Pengelola kawasan juga perlu menetapkan aturan zonasi yang jelas,” jelas Ridha. 

Dalam poin ini, pemandu yang mumpuni pada keilmuannya sangat vital dalam setiap kegiatan pengamatan satwa liar yang melibatkan publik sebagai peserta.

Uploaded content
Alfian Surya (tengah, mengenakan topi), pemandu Weekend Birding menunjukkan burung melalui lembar panduan kepada para peserta anak-anak. | Foto: Muhammad Wildan Al Gifari/Garda Animalia

Kunci Penghubung Ilmu Alam ke Orang Awam

Di setiap kegiatan pengamatan satwa liar termasuk Weekend Birding, guide alias pemandu menjadi unsur penting pemuas rasa ingin tahu peserta. Sebab, sebagai “orang yang polos” dalam pengetahuan satwa liar, beberapa peserta memang membutuhkan bimbingan dari yang ahli selama pengamatan.

Alfian Surya, pemandu Weekend Birding, mengakui bahwa animo masyarakat umum di Jabodetabek untuk mengamati dan mengenali satwa liar di alam sangat tinggi.

“Di sini banyak anak kecil, banyak ibu-ibu, bapak-bapak yang pengen pengamatan burung itu fun,” ujar Alfian yang sehari-hari bekerja sebagai asisten peneliti BRIN.

Berbanding terbalik dengan daerah asalnya di Yogyakarta, pengamatan satwa liar masih lebih banyak didominasi oleh para akademisi bidang konservasi.

“Kalau di Jogja itu jarang ada orang yang gabut terus pengen pengamatan burung,” ucap Alfian.

Pria asal Sleman ini juga menjelaskan perbedaan perlakuan dalam memandu peserta yang berasal dari segmen keluarga yang bukan berlatar belakang konservasi. Misalnya, untuk peserta dewasa penjelasan biasanya dikaitkan dengan hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Kalau lebih ke dewasa lebih ke penjelasan [peran burung di alam],” ujar Alfian. Ia mencontohkan bahwa burung dapat dijadikan media untuk mengenalkan fungsi ekosistem kepada masyarakat urban.

Pendekatan berbeda diterapkan ketika memandu peserta anak-anak yang masih berada pada tahap perkembangan motorik.

“Ya, walaupun sama-sama penasaran, tapi cara memancing penasaran mereka itu beda. Misal, sama-sama lihat burung. 'Tuh lihat burung, bagus. Itu geraknya cepet-cepet toh?'” jelas Alfian.

Alfian menilai kegiatan kepemanduan yang efektif sebaiknya dilakukan dengan peserta yang tidak terlalu banyak, supaya pemandu maupun peserta tetap fokus pada materi yang dijelaskan selama pengamatan.

“Lebih dari lima orang itu aku udah buyar,” ucap Alfian.

Namun, dari semua itu, Alfian menegaskan hal yang paling penting dalam kepemanduan pengamatan adalah untuk tidak bersikap “sok tahu” yang dikhawatirkan akan menyesatkan peserta yang belum paham betul soal satwa liar.

“Misalnya  nggak tahu, ya, bilang nggak tahu, tapi nggak tahunya itu ada batasan. Misal jenisnya nggak tahu, tetapi familinya disebutkan,” tegas Alfian.

Konservasi Bukan Lagi Milik Segelintir Orang

Fenomena meningkatnya minat masyarakat umum terhadap pengamatan satwa liar, termasuk citizen science, menunjukkan perubahan penting dalam publik memandang alam.

Aktivitas yang dahulunya eksklusif hanya untuk peneliti, pegiat konservasi dan kalangan kaya, kini mulai menjadi kegiatan rekreasi yang bermanfaat dan penuh pembelajaran bagi masyarakat luas.

Keterlibatan khalayak umum melalui pengamatan satwa liar, pencatatan biodiversitas, hingga partisipasi dalam kegiatan komunitas menjadi kekuatan baru bagi pergerakan konservasi. Sehingga kini konservasi bukan lagi menjadi tanggung jawab segelintir orang, tetapi perlahan menjadi gerakan kolektif yang dimulai dari siapa saja dan kelak menjadi tanggung jawab bersama. Mulai dari orangtua yang mengajak anaknya, komunitas yang membuka kegiatan dan warga yang mencatat temuan satwa di lingkungannya, semua bisa menjadi kader konservasi.

Jika kesadaran terhadap satwa liar dapat dipupuk sejak dini, mengapa tidak menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari?

Karena pada akhirnya, masa depan satwa liar tidak hanya bergantung pada ilmuwan dan aktivis konservasi, tetapi juga pada kepedulian masyarakat luas yang mulai kembali mengenali alamnya sendiri.