Khas

Ketika Kepiting Bakau dan Burung Madu Sriganti Kembali Pulang ke Petengoran

19/08/2026|Meza Swastika
Kepiting bakau dan burung madu sriganti penunggu Hutan Mangrove Petengoran Foto Meza Swastika - Ketika Kepiting Bakau dan...

Kepiting bakau dan burung madu sriganti penunggu Hutan Mangrove Petengoran. | Foto: Meza Swastika

Gardaanimalia.com - Sejak sepuluh menit lalu, pria paruh baya itu masih terus duduk menghadap sebuah lubang seukuran bola kasti di dekat kaki kirinya. Sesekali ia menyodok-nyodokkan kawat panjang ke dalam lubang itu dengan ritme yang tak terlalu intens. 

Tak berselang lama, seekor kepiting sebesar telapak tangan orang dewasa keluar dari lubang dengan capit yang menjepit kuat ujung kawat. Dengan cepat, pria itu langsung menangkap kepiting yang beratnya hampir satu kilogram tersebut. 

Kepiting bakau (Scylla serrata) kini melimpah di Hutan Mangrove Petengoran. Rimbun dan suburnya tanaman bakau di sini efektif mengembalikan satwa endemik hutan mangrove tersebut.

Sejak beberapa tahun terakhir, kepiting bakau membuat lubang-lubang sarangnya di sela-sela akar bakau yang menancap kuat di tanah berlumpur kawasan Petengoran. 

Uploaded content

Kehadiran kepiting bakau di Petengoran sejak beberapa tahun terakhir menjadi pertanda penting bahwa ekosistem di kawasan ini sudah kembali pulih dan jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Kembalinya kepiting bakau di Petengoran juga tak terpisahkan dari perannya yang penting dalam siklus ekologi hutan mangrove. 

Di hutan bakau, kepiting ini berperan sebagai pengurai daun-daun bakau yang gugur, mengubahnya menjadi nutrisi penyubur lahan hutan mangrove. Lubang-lubang yang dibuat kepiting juga berfungsi sebagai jalur sirkulasi udara maupun air, sehingga akar-akar mangrove bisa tumbuh lebih kuat. 

Bukan Cuma Kepiting Bakau, tapi Juga Burung Madu Sriganti 

Di Hutan Mangrove Petengoran, bukan cuma kepiting bakau yang ramai. Ada pula burung madu sriganti (Cinnyris jugularis) atau sogok ontong yang selalu riuh dengan cuitan khasnya, suara rapat, melengking lantang, dengan tempo kicauan yang cepat. 

Uploaded content

Sekilas, burung ini mirip kolibri, terutama jika dilihat dari paruhnya yang kecil dan ramping. Namun, yang membedakan keduanya adalah asal keluarga dan sebaran wilayah endemiknya. 

Burung- burung ini membuat sarang di ujung ranting maupun dahan pohon bakau yang rimbun, untuk menghindari serangan pemangsa maupun terpaan angin pesisir yang kencang. Hutan bakau menjadi habitat ideal bagi burung ini karena melimpahnya nektar bunga dan serangga kecil sebagai makanan utamanya. 

Ada hubungan simbiosis mutualisme antara burung madu sriganti dan hutan bakau, yakni fungsinya sebagai penyerbuk alami (polinator) bagi tanaman berbunga di hutan mangrove. Saat mencari nektar, tubuh dan paruhnya secara otomatis memindahkan serbuk sari antarbunga.

Petengoran, Habitat Satwa Endemik Hutan Bakau 

Toni Yunizar, penggagas konservasi Hutan Bakau Petengoran, menyebut ada sejumlah satwa lain selain kepiting bakau dan burung madu sriganti. 

Dari kelompok ular, jenis yang kerap dijumpai di Petengoran antara lain ular cincin emas (Boiga dendrophila), viper bakau (Trimeresurus purpureomaculatus), dan ular air bakau (Fordonia leucobalia). 

Sejak tiga tahun terakhir, Toni juga kerap melihat kadal berukuran kecil yang oleh warga pesisir disebut kadal bakau (Emoia atrocostata). 

Meski habitatnya lazim pula ditemukan di ekosistem daratan, khususnya hutan, kadal berkulit mengkilap dengan tubuh langsing dan berekor pendek ini kerap dijumpai pada siang hari, memangsa ikan dan kepiting kecil. Habitatnya berada di rongga-rongga pohon bakau, yang juga digunakan untuk menyimpan telur-telurnya. 

Beberapa waktu lalu, Toni bersama sejumlah mahasiswa Universitas Lampung meneliti kelayakan Petengoran sebagai habitat satwa khas pesisir dan hutan bakau, dengan melihat indikator tingkat kerapatan hutan hingga ketersediaan sumber pangan bagi satwa-satwa endemik. 

Penelitian ini juga mencakup perairan di sekitar hutan bakau, dengan mengukur kelayakan air bagi perkembangbiakan hewan-hewan perairan. 

"Kalau kerapu muda (anak ikan kerapu) banyak kita temukan di perairan Petengoran ini. Indikasi ini menunjukkan jika kualitas perairannya memang layak untuk tumbuh kembang hewan endemik hutan mangrove," tuturnya. 

Manajer Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Mitra Bentala, Mashabi, menyebut amat wajar jika banyak satwa spesifik hutan bakau akhirnya kembali dan berkembang biak di Petengoran. 

"Sejauh ini, ekosistem hutan mangrove di Petengoran memang sudah sangat baik, karena proses rehabilitasinya memakan waktu hingga puluhan tahun. Kehadiran satwa-satwa spesifik hutan mangrove ini menjadi indikator jika hutan mangrove di Petengoran memang sudah baik, bahkan jauh lebih baik dibanding puluhan tahun lalu," tutur Mashabi. 

Meski tak secara khusus mengidentifikasi satwa yang berkembang biak sejalan dengan membaiknya ekosistem di Petengoran, Mitra Bentala melihat banyak indikator positif dari keberhasilan rehabilitasi hutan mangrove di kawasan ini.

"Bukan cuma kepiting bakau dan burung saja yang menjadikan hutan mangrove Petengoran sebagai habitat barunya, tapi juga ada udang rebon yang amat bergantung pada ekosistem mangrove yang baik sebagai tempat berkembang biak," kata Mashabi.

Jalan Panjang Rehabilitasi Hutan Mangrove Petengoran 

Untuk bisa sampai sejauh ini, proses konservasi yang dilakukan untuk merehabilitasi fungsi hutan mangrove di Desa Gebang, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran bukanlah hal yang mudah.

Lebih dari tiga dekade lalu, kawasan pesisir yang beririsan langsung dengan Teluk Lampung ini, adalah bentang panjang sabuk hijau alami yang membujur di garis pantai Teluk Pemindangan hingga Teluk Pedada yang meliputi empat wilayah kecamatan di Kabupaten Pesawaran, mulai dari Kecamatan Padang Cermin, Teluk Pandan, Marga Punduh hingga ke Kecamatan Punduh Pidada.

Keberadaan hutan bakau alami yang luasnya diperkirakan mencapai 268 hektar lebih ini, amat efektif menahan gelombang laut maupun abrasi.

Di awal tahun 2000-an seiring maraknya tren pembukaan lahan-lahan tambak di sepanjang kawasan pesisir, membuat kawasan sabuk hijau itu pun ikut terkikis habis, bentang alam yang semula hijau dengan tutupan yang rapat, perlahan berubah menjadi kolam-kolam tambak yang gersang.

Jalan Toni untuk merehabilitasi tak selalu mulus, ia bahkan sempat ditentang oleh sejumlah warga yang biasa menebang tanaman bakau untuk membuat arang.

”Tapi, saya tetap jalan terus, karena ini untuk kepentingan orang banyak, apalagi ini menyangkut penyakit malaria yang selalu jadi masalah di desa kami dan desa-desa tetangga," ujarnya.

Melihat kegigihan Toni, banyak warga yang akhirnya tergerak membantu, apalagi ketika tanaman-tanaman bakau itu mulai tumbuh subur, Toni berupaya membangun kawasan itu sebagai destinasi wisata melalui konsep ekowisata yang menarik minat banyak orang untuk datang ke Petengoran.

“Mulai tahun 2017 itu, sudah banyak wisatawan yang datang ke Petengoran, kita gotong-royong mengembangkan tempat ini sebagai kawasan ekowisata, hasilnya kita bagi sama-sama,” jelas Toni.

Sampai kemudian terjadi kemelut pengelolaan Hutan Mangrove Petengoran, Toni Yunizar yang merintis rehabilitasi tersebut tak lagi dilibatkan oleh aparatur Desa Gebang.

Namun, sejauh ini Mashabi menilai pengembangan ekowisata Petengoran masih sesuai dengan tujuan konservasi, meskipun ia menilai masih perlu penguatan-penguatan dalam hal pemahaman dan edukasi kepada warga.

“Kami ingin agar siapapun pengelola Petengoran, harus punya visi konservasi yang sama dengan visi perintis rehabilitasi ini, karena Petengoran ini bukan untuk keuntungan orang per orang tapi untuk kepentingan bersama dalam banyak aspek, mulai dari lingkungan, ekonomi hingga kesehatan warganya,” tegas Mashabi.