Gardaanimalia.com - Di balik julukan “hutan beton” dan deretan pencakar langitnya, Jakarta sebenarnya masih menjadi rumah bagi beragam satwa liar yang hidup berdampingan dengan lanskap urban. Salah satu yang paling dikenal adalah elang bondol, fauna identitas Provinsi DKI Jakarta yang melambangkan kelincahan dan dinamika masyarakat ibu kota.
Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa setiap kota dan kabupaten administrasi di Jakarta juga memiliki fauna identitasnya masing-masing. Jakarta Timur diwakili srigunting hitam, Jakarta Utara oleh raja udang, Jakarta Pusat oleh alap-alap, Jakarta Selatan oleh gelatik jawa, Jakarta Barat oleh ikan cupang serit, serta Kabupaten Kepulauan Seribu oleh elang laut perut putih.
Menariknya, sebagian besar fauna identitas tersebut masih relatif mudah dijumpai di wilayah yang mereka wakili. Namun, tidak dengan srigunting hitam. Burung berekor bercabang khas ini kini justru sangat jarang terlihat di Jakarta Timur.
Lalu seperti apa sebenarnya sosok srigunting hitam, hingga burung yang dipilih sebagai simbol Jakarta Timur ini perlahan menghilang dari langit kota yang diwakilinya?
Kenalan Lebih Dekat dengan Srigunting Hitam
Srigunting hitam (Dicrurus macrocercus) adalah spesies burung pengicau dari famili Dicruridae yang memiliki persebaran populasi dari Asia Selatan hingga Asia Tenggara.
Di Indonesia, srigunting dapat ditemukan di pulau Sumatera, Jawa hingga Bali.1 Sesuai dengan namanya, sekujur tubuh burung ini berwarna hitam serta memiliki ekor bercabang dua mirip “gunting” serta ukuran badan yang sedang sekitar 28 sentimeter.2
Srigunting hitam dikenal sebagai burung pemakan serangga alias “insektivora” yang aktif memburu dan menangkap mangsanya di udara atau dalam bahasa Inggris disebut "hawking".
Koordinator Jakarta Birdwatcher’s Society sekaligus periset di Pusat Studi Biodiversitas Perkotaan Universitas Nasional, Jakarta, Ady Kristanto, dihubungi Sabtu, 16 Mei 2026 menjelaskan bahwa pola makan serta kebiasaan hawking-nya membuat srigunting banyak berdiam di ranting terbuka, pohon kecil hingga objek buatan manusia seperti kabel, patok dan tiang.
“Perilaku yang paling mungkin terlihat adalah bertengger di kabel, pohon mati, tiang pagar, pohon kecil di tepi lapangan, lalu melakukan manuver pendek untuk menangkap capung, belalang, rayap terbang, kumbang, atau serangga kecil lain,” jelas Ady.
Ia menambahkan, burung ini dikenal agresif dan teritorial.
“Burung ini menyerang atau mengusir gagak dan burung pemangsa yang masuk ke wilayahnya,” tambah Ady.
“Menghilang” di Jakarta Timur
Dalam status IUCN Red List, srigunting hitam tergolong satwa risiko rendah (least concern), artinya secara global burung ini bukanlah satwa langka yang terancam punah. Namun, srigunting hitam tidak lagi dijumpai di kota yang diwakilinya.
Berbeda dengan maskot Jakarta Selatan, gelatik jawa (Padda oryzivora) yang dalam IUCN Red List telah berstatus terancam (endangered), tetapi masih dapat ditemui di beberapa RTH di Jakarta Selatan, seperti Taman Margasatwa Ragunan.
Lalu, apa yang menyebabkan hilangnya eksistensi srigunting hitam di Jakarta Timur?
Ady Kristanto menjelaskan, sebenarnya srigunting hitam mampu beradaptasi terhadap lanskap buatan manusia, tetapi ia berbeda dengan burung urban lainnya.
“Jadi, ia bukan tipikal burung taman kota yang nyaman di taman terlalu rapi, terlalu ramai, atau berkanopi rapat tanpa lapisan padang rumput atau semak terbuka,” ucap Ady.
Dirinya bertutur, salah satu penyebab srigunting tersingkir dari wilayah Jakarta Timur adalah perubahan lanskap rerumputan yang merupakan rumah bagi srigunting hitam mulai hilang dan berganti menjadi permukiman manusia.
“Di Jakarta Timur, banyak ruang terbuka historis berubah menjadi permukiman padat, jalan, bangunan, area komersial, atau taman yang terlalu tertata,” ujar Ady.
Tercatat keberadaan srigunting hitam di Jakarta Timur terakhir berada di Cagar Buah Condet, Kramat Jati, Jakarta Timur pada 2023. Perkebunan buah yang membudidayakan maskot flora Provinsi DKI Jakarta, salak condet (Salacca edulis), ini juga sempat menjadi tempat persinggahan srigunting hitam.
“Tercatat burung ini di sana. Namun, perlu kita buktikan lagi,” tambah Ady.
Bukan Berarti Hilang di Seluruh Jabodetabek
Meski keberadaanya di Jakarta Timur seolah punah, bukan berarti si pemilik ekor gunting ini pupus di Jakarta.
Melansir data dari platform pengamatan burung, eBird, keberadaan srigunting hitam di Jakarta pada 2025 justru tercatat di Hutan Lindung Angke, Jakarta Utara dengan jumlah tiga individu.3 Selain di Hutan Lindung Angke, srigunting hitam dilaporkan ada di area Perimeter Selatan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Firda Setiawan, pengamat burung amatir asal Kalideres ini cukup sering mengamati burung di area tersebut. Namun, perjumpaannya dengan sang maskot Jakarta Timur tanggal 24 Maret silam menjadi perjumpaan yang tidak terencana.
“Untuk awal aku dapet si srigunting jujur tidak ada planning apa-apa,” ujar Firda ketika dihubungi Jumat, 15 Mei 2026.
Sejak pertemuan pertamanya dengan srigunting, Firda mengaku lebih intens melihat keberadaan srigunting di area tersebut.
“Tanggal 4 April sampai 14 April itu dia mulai rutin nongol di dekat pagar jalan Perimeter Selatan dan terakhir kalinya aku lihat srigunting di hari itu, mungkin mereka pindah ke bagian dalam bandaranya,” ucap Firda.
Sebagai burung spesialis rerumputan, bagi Firda tidak mengherankan jika burung ini terlihat di area tersebut.
“Kondisi area terbuka saat itu rumputnya masih cukup tinggi, sih. Memang mungkin dari daerahnya, di bagian dalam Soetta masih cukup bagus kalau aku lihat,” Firda mengakui.
Maskot “Peringatan” Kota Jakarta Timur
Sejak pembentukan Kota Administrasi Jakarta Timur pada 28 Agustus 1978 melalui PP No. 25 Tahun 1978, srigunting hitam menjadi simbol Jakarta Timur bersama dengan tumbuhan bambu apus. Dua entitas ini terlukis dalam lambang kota Administratif Jakarta Timur.4
Pemilihan srigunting hitam bukan tanpa alasan. Karakternya yang lincah, agresif dan berani menghadapi predator yang lebih besar dimaknai sebagai lambang ketangkasan dan keberanian. Nilai tersebut yang ingin direpresentasikan oleh Kota Jakarta Timur yang cepat, dinamis dan berani untuk berkembang.5
Melansir akun Instagram Pemkot Jakarta Timur, posisi kepala srigunting dalam lambang Jakarta Timur yang menghadap ke kanan merupakan simbolisasi jalan kebenaran.
Sedangkan bambu pada lambang berjumlah 10 batang dan daun sejumlah 65 helai menyimbolkan 10 kecamatan dan 65 kelurahan di Jakarta Timur serta ujung bambu digambarkan runcing menyimbolkan perjuangan.6
Meski menjadi fauna identitas kota terluas di provinsi DKI Jakarta, menurut Ady Kristanto, secara historis srigunting hitam memang cocok merepresentasikan ekosistem Jakarta Timur di masa lalu. Namun, baginya srigunting kini tidak lebih sebagai “peringatan”.
“Keberadaan srigunting justru lebih tepat dibaca sebagai maskot peringatan, bukan maskot yang masih kuat merepresentasikan kondisi aktual,” ujar Ady.
Artinya, sulitnya menemukan srigunting hitam di Jakarta Timur bukan sekadar soal berkurangnya satu jenis burung dari langit kota. Lebih dari itu, kondisi tersebut dapat menjadi pertanda bahwa Jakarta perlahan kehilangan ruang terbuka yang masih mampu mendukung kehidupan burung-burung insektivora.
Ketika spesies yang dulunya akrab di lanskap terbuka semakin jarang terlihat, yang menghilang sesungguhnya bukan hanya satwanya, tetapi juga ruang hidup yang menopang keseimbangan ekosistem kota.
















