Gardaanimalia.com - Upaya pemulihan habitat satwa liar di bentang alam Batang Toru memasuki tahap baru. Sebanyak 159 hektare lahan terdampak banjir dan longsor yang terjadi pada akhir 2025 di Desa Aek Haminjon, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mulai direstorasi melalui skema kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan lembaga konservasi.
Program restorasi tersebut dijalankan melalui kesepakatan konservasi masyarakat yang disusun oleh Konservasi Indonesia bersama Sumatra Rainforest Institute (SRI) dengan melibatkan warga setempat.
Kawasan yang dipulihkan berada di wilayah penyangga Cagar Alam Dolok Sipirok, bagian penting dari Ekosistem Batang Toru yang dikenal sebagai habitat berbagai satwa langka Sumatera.
Selain memulihkan fungsi ekologis kawasan, program ini juga dirancang untuk memperkuat penghidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan.
Restorasi dilakukan dengan menanam 35 ribu hingga 49 ribu bibit tanaman produktif seperti kopi, karet, kakao, dan durian di lahan milik masyarakat.
Sundaland Program Director Konservasi Indonesia, Jeri Imansyah, mengatakan Desa Aek Haminjon memiliki posisi strategis dalam upaya perlindungan satwa liar karena berbatasan langsung dengan Cagar Alam Dolok Sipirok di Blok Timur Ekosistem Batang Toru.
“Mayoritas penduduk Desa Aek Haminjon menggantungkan hidup pada aktivitas pertanian, perkebunan, serta pemanfaatan hasil hutan. Wilayah ini memegang posisi yang sangat strategis dalam konservasi karena berbatasan langsung dengan Cagar Alam Dolok Sipirok,” kata Jeri, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, kawasan tersebut merupakan salah satu habitat penting orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies kera besar paling langka di dunia yang berstatus kritis (critically endangered) dalam Daftar Merah IUCN. Populasinya di alam diperkirakan tersisa sekitar 800 individu yang seluruhnya hidup di bentang alam Batang Toru.
Jeri menjelaskan, hasil analisis citra satelit menunjukkan sedikitnya 11 hektare kawasan yang berbatasan langsung dengan desa mengalami deforestasi akibat aktivitas manusia dan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan.
Berkurangnya tutupan vegetasi meningkatkan risiko erosi, menurunkan kualitas lingkungan, dan mempersempit ruang hidup satwa liar.
“Pentingnya pemulihan bagi wilayah Desa Aek Haminjon didasari atas fungsinya yang vital sebagai habitat satwa liar di zona penyangga kawasan konservasi seperti orangutan tapanuli, harimau sumatera, tapir, trenggiling, serta berbagai jenis fauna yang memiliki nilai konservasi tinggi,” ujarnya.
Direktur Sumatra Rainforest Institute (SRI), Dony Saputra, mengatakan program restorasi disusun berdasarkan kajian ilmiah yang mencakup pemetaan tutupan lahan menggunakan foto udara serta survei keanekaragaman hayati untuk mengukur efektivitas pemulihan habitat dalam jangka panjang.
Ia menyebut hilangnya tutupan hutan menjadi salah satu faktor utama yang memperparah bencana longsor dan banjir di kawasan tersebut, sekaligus memicu fragmentasi habitat yang berdampak pada penurunan populasi satwa liar.
“Berdasarkan hasil survei yang terhimpun sejak 2020, kehilangan tutupan hutan merupakan faktor utama penyebab longsor dan banjir serta penurunan populasi satwa selain fragmentasi dan perburuan. Oleh karena itu, intervensi pengayaan lahan perkebunan masyarakat ini menjadi strategi konservasi yang aman karena memulihkan kualitas ekologi tanpa mengorbankan ketahanan pangan warga,” kata Dony
Dalam pelaksanaannya, restorasi dilakukan secara bertahap melalui dua zona pemulihan. Zona pertama mencakup area dengan tingkat kerusakan tinggi yang ditandai oleh lahan terbuka, kebun karet tua, dan lahan jagung yang minim tutupan pohon.
Sementara, zona kedua merupakan kawasan hutan sekunder yang masih relatif rapat, tetapi memerlukan pengayaan vegetasi. Kebutuhan bibit pada kedua zona tersebut diperkirakan berkisar antara 200 hingga 400 batang per hektare.
Selain penanaman, masyarakat juga dilibatkan dalam proses pembibitan, pemeliharaan, hingga pengawasan kawasan untuk memastikan keberlanjutan program.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menilai kolaborasi pemulihan ekosistem berbasis masyarakat menjadi model yang dapat diterapkan di kawasan penyangga konservasi lainnya.
Menurutnya, pelibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pengawasan akan memperkuat perlindungan habitat sekaligus menciptakan manfaat ekonomi jangka panjang bagi desa.
“Dengan pulihnya fungsi ekologis habitat satwa di Desa Aek Haminjon, diharapkan keanekaragaman hayati endemik yang berstatus kritis dapat hidup berdampingan secara aman dengan manusia,” ujarnya.
Ekosistem Batang Toru merupakan satu-satunya habitat yang tersisa bagi orangutan tapanuli. Selain spesies tersebut, kawasan ini juga menjadi rumah bagi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), tapir asia (Tapirus indicus), trenggiling sunda (Manis javanica), beruang madu (Helarctos malayanus), serta berbagai jenis burung dan mamalia endemik Sumatera.
Karena itu, keberhasilan restorasi di wilayah penyangga dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga konektivitas habitat dan keberlangsungan populasi satwa liar di salah satu bentang alam paling penting di Pulau Sumatera.















