Pada satu sisi, kesadaran global di era modern semakin tinggi terhadap pentingnya menjaga stabilitas ekosistem demi kelangsungan hidup bersama. Namun, di sisi lain masih terdapat sebuah paradoks manusia yang mengkhawatirkan di mana keinginan manusia untuk memelihara, memanfaatkan, dan mendomestikasi satwa liar masih tinggi.
Bahkan di era saat ini, industri perdagangan satwa liar global telah bertransformasi menjadi bisnis raksasa bernilai miliaran dolar. Sekitar 25 persen di antaranya dikuasai oleh jaringan ilegal dengan perputaran uang mencapai 20 miliar dolar AS setiap tahunnya 1.
Ketertarikan yang begitu mendalam terhadap satwa liar ini seringkali mengaburkan kenyataan sosiologis dan ekologis yang pahit bahwa populasi satwa liar di habitat aslinya sedang merosot drastis menuju ambang kepunahan.
Hasrat untuk memindahkan sisi eksotis satwa di alam bebas ke dalam ruang privat manusia mencerminkan sebuah egoisme kultural yang menantang batas-batas konservasi. Akar dari obsesi tersebut sebenarnya bukanlah sebuah fenomena modern yang instan, melainkan sebuah kelanjutan dari pola perilaku yang telah berlangsung selama ribuan tahun dalam sejarah peradaban manusia.
Kepemilikan Satwa Liar Sebagai Lambang Penguasa
Dikutip dari The Pontifical Academy of Sciences, sejak masa kuno, manusia selalu memiliki ketertarikan mendalam untuk interaksi dekat dan menundukkan satwa liar. Pada masa peradaban masa lalu seperti Mesir Kuno, Mesopotamia, hingga Romawi, kepemilikan satwa berukuran besar seperti singa, macan tutul, dan gajah berfungsi sebagai simbol kekuatan politik, legitimasi, hingga status sosial absolut penguasa.
Hewan-hewan ini dikumpulkan dari berbagai penjuru dunia dan dikurung dalam fasilitas privat yang dikenal sebagai menagerie sebagai bukti penaklukan manusia atas alam bebas. Pola interaksi elitis ini kemudian bergeser secara masif memasuki abad ke-19, di mana industrialisasi melahirkan sirkus keliling dan kebun binatang komersial.
Kehadiran institusi hiburan ini mulai membawa satwa liar keluar dari istana raja langsung ke hadapan masyarakat umum sebagai sarana tontonan dan hiburan murni. Memasuki pertengahan abad ke-20, konsep interaksi fisik ini semakin diakomodasi dengan lahirnya area khusus interaksi satwa atau children’s zoo di kota-kota besar seperti London dan Philadelphia.
Meskipun awalnya area ini ditujukan bagi hewan-hewan domestik yang aman, konsep tersebut lambat laun memicu tren komersialisasi global yang lebih ekstrem, seperti penyediaan jasa foto bersama anak-anak predator besar yang hingga kini masih marak diadopsi di berbagai belahan dunia demi memuaskan ego kedekatan manusia dengan penguasa alam liar.
Akar Ketertarikan Manusia Terhadap Satwa Liar
Secara psikologis dan evolusioner, ketertarikan manusia terhadap satwa liar sebenarnya berakar dari sejarah panjang evolusi antara interaksi Homo sapiens dengan alam.
Makhluk hidup yang memiliki perilaku unik, corak warna tak biasa, kesan misterius dari satwa yang memicu rasa kagum, rasa ingin tahu, dan insting membuatnya bertransformasi menjadi hasrat mengoleksi. Sayangnya, apresiasi tersebut seringkali kerap bergeser menjadi keinginan destruktif untuk menguasai secara personal.
Fenomena ini diperparah oleh kecenderungan psikologis yang disebut antropomorfisme, yaitu sebuah bias dimana manusia melekatkan emosi, sifat, dan kebutuhan layaknya manusia kepada hewan liar. Akibatnya, banyak orang yang merasa bahwa memberikan fasilitas domestik atau kasih sayang rumahan, mereka telah memenuhi kebutuhan hidup satwa tersebut, padahal tindakan ini secara perlahan mematikan insting liar dan kesejahteraan biologis sang hewan.
Saat ini, masih dalam jurnal Global Wildlife Trade Across the Tree of Life, diperkirakan ada lebih dari 31.500 spesies terestrial yang diperdagangkan secara global, mencakup sekitar 18 persen dari total spesies yang ada di bumi. Kelompok burung, reptil, dan mamalia menjadi komoditas yang paling mendominasi pasar ini2.
Selain motif pemenuhan emosional, kepemilikan satwa langka dalam perkembangannya telah bergeser menjadi simbol status sosial, prestise, dan komoditas gaya hidup. Pemeliharaan predator besar, reptil langka, atau burung berkicau kini seringkali dianggap sebagai indikator kekayaan dan keunikan personal. Konstruksi sosial ini mendapatkan panggung yang sangat masif sejak dulu, ditambah kini dengan kehadiran media sosial dan internet yang masif membuat pengemasan sosial terhadap seorang pengoleksi satwa liar semakin menarik.
Di Indonesia dan wilayah Asia Tenggara lainnya, transformasi digital telah mengubah pola perdagangan konvensional menjadi berbasis digital. Berbagai platform e-commerce besar hingga media sosial kini kerap disalahgunakan memperjualbelikan satwa asli atau pendatang, termasuk spesies yang statusnya dilindungi dan terancam punah 3.
Minimnya Keberpihakan Pada Satwa
Paparan konten digital yang menampilkan interaksi intim antara manusia dan satwa liar menciptakan normalisasi berbahaya di mata publik, yang pada akhirnya memicu permintaan pasar yang besar tanpa memikirkan dampak besar di ekosistem aslinya.
Ironisnya, dibalik perburuan pengakuan sosial tersebut, terdapat ketidaktahuan yang masif mengenai dampak sistematis dari perdagangan satwa terhadap keanekaragaman hayati. Banyak kolektor satwa eksotis menipu diri mereka sendiri dengan mempercayai bahwa industri yang mereka dukung berjalan secara legal, terkendali, atau bersumber dari penangkaran yang etis.
Pada realitasnya, banyak ditemukan praktek pemutihan komoditas di mana satwa yang ditangkap secara langsung dari alam liar dilabeli sebagai hasil penangkaran buatan agar bisa dijual secara legal.
Pada kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati sekaligus titik hotspot utama bagi perdagangan satwa liar ilegal.
Krisis tersebut diperparah oleh laju deforestasi yang masif, di mana tutupan hutan di Asia Tenggara telah menyusut hampir 15 persen dalam tiga dekade terakhir, sebagian besar dipicu oleh perluasan perkebunan monokultur seperti kelapa sawit.
Kombinasi antara hilangnya habitat dan tingginya angka perburuan membuat kawasan Asia Tenggara kini memegang proporsi spesies terancam punah tertinggi di dunia. Proyeksi kehilangan dapat mencapai 13 hingga 85 persen keanekaragaman hayati pada akhir abad ini jika tren eksploitasi terus dibiarkan 4.
Dampak Hilangnya Satwa dari Alam
Dampak dari hilangnya individu-individu satwa dari alam liar tersebut tidak hanya merugikan spesies yang bersangkutan, melainkan merusak seluruh struktur ekosistem yang menopangnya. Aktivitas perdagangan satwa mampu memicu penurunan populasi spesies hingga 62 persen di wilayah tempat perburuan terjadi, dan melonjak hingga 66-76 persen jika didorong oleh permintaan pasar internasional.
Setiap satwa liar, mulai dari burung, reptil seperti penyu dan ular, hingga primata seperti makaka dan kukang, memegang peran ekologis yang tidak tergantikan sebagai penyebar biji tanaman, penyerbuk, maupun penjaga keseimbangan rantai makanan.
Ketika populasi mereka menyusut, ekosistem akan mengalami degradasi fungsi yang nyata, yang pada akhirnya memicu bencana alam, kegagalan panen, hingga hilangnya sumber daya alam penting bagi manusia.
Selain kehancuran ekologis, domestikasi satwa liar juga menyimpan bom waktu berupa ancaman kesehatan global. Satwa liar merupakan reservoir alami bagi berbagai patogen berbahaya, di mana mamalia yang diperdagangkan memiliki kemungkinan 1,5 kali lebih tinggi untuk berbagai penyakit dengan manusia, yang berpotensi memicu epidemi zoonosis baru dengan kerugian ekonomi dunia yang bisa mencapai ratusan miliar dolar.
Menghadapi krisis moral dan ekologis tersebut, diperlukan adanya penguatan penegakan hukum yang tegas, pemantauan ketat pada platform digital, serta penerapan kuota tangkap yang ketat berdasarkan kajian ilmiah. Menikmati keindahan serta keunikan satwa liar harus dilepaskan dari konsep kepemilikan fisik di dalam kandang rumah, dan dialihkan pada bentuk apresiasi yang lebih bertanggungjawab melalui edukasi publik dan dukungan terhadap konservasi habitat.
1 Scheffers, Brett R., Brunno F. Oliveira, Ieuan Lamb, and David P. Edwards. "Global wildlife trade across the tree of life." Science 366, no. 6461 (2019): 71-76.
2 https://www.researchgate.net/publication/336267529_Global_wildlife_trade_across_the_tree_of_life
3 https://www.scopus.com/pages/publications/85169604845?origin=scopusAI
4 Strang, Kathryn, and Nathan Rusli. "The challenges of conserving biodiversity: A spotlight on Southeast Asia." In Wildlife biodiversity conservation: Multidisciplinary and forensic approaches, pp. 47-66. Cham: Springer International Publishing, 2021.






![Kota yang Membelai dan Mengusir: Zoonosis dan Relasi Manusia–Hewan yang Berubah di Kota Besar [Bagian 1]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/kota-yang-membelai-dan-mengusir-zoonosis-dan-relasi-manusia-hewan-yang-berubah-di-kota-besar-bagian-1.webp)










