Mendalam

Menyelam ke Dunia Kerang lewat Museum Zoologi

06/07/2026|Ajmal Fajar Sidiq
Papan Museum Vianney salah satu museum zoologi di Indonesia Rata-rata koleksinya adalah moluska Foto Ajmal Fajar Sidiq -...

Papan Museum Vianney, salah satu museum zoologi di Indonesia. Rata-rata koleksinya adalah moluska. | Foto: Ajmal Fajar Sidiq

Gardaanimalia.com - "Ingatan kita terdiri dari ingatan individu dan ingatan kolektif kita. Keduanya terkait erat. Dan sejarah adalah ingatan kolektif kita. Jika ingatan kolektif kita diambil dari kita—ditulis ulang—kita kehilangan kemampuan untuk mempertahankan jati diri kita yang sebenarnya." — Haruki Murakami (dari 1Q84).

Irwan Basultor duduk di meja kerjanya dan menunjukkan koleksi kerang di rak kurasi museum. Baru seperempat waktu, ia gegas menjelaskan, “Itu kerang-kerang yang dikirim oleh teman-teman komunitas,” kata Irwan sambil memilah kerang, sebagian yang lolos kurasi sudah ditata rapi pada rak pengunjung.

Beberapa waktu setelahnya, Irwan menjelaskan bahwa ada tiga museum zoologi besar di Indonesia. Museum Zoologi Malang Vianney ini tidak termasuk di antara ketiganya. Akan tetapi, museum ini mejadi penggenap karena merupakan satu-satunya museum zoologi dengan koleksi rata-rata moluska.

Saya bersyukur museum ini ada. Tempat ini merupakan museum kedua di Indonesia yang memiliki koleksi gastropoda dan masih aktif menyimpannya dengan mempertahakan keadaan alami spesimen tersebut.

Kerang dan siput, barangkali menjadi satu dari puluhan hewan yang tersimpan dalam benak anak-anak, yang muncul dari buku bergambar dan waktu bermain; siput di pinggiran kali atau pinggiran pantai ketika hari libur sekolah tiba. Kadang pula, ingatan tiba dari karya seni artifisial, seperti kartun animasi spongebob yang ikonik: halo, kerang ajaib!

Kini, Indonesia juga punya Irwan sebagai salah seorang jembatan yang hadir dalam ingatan anak-anak.

Pada kurun 17 - 22 Mei 2026 misalnya, Irwan menemani anak Taman Kanak-Kanak yang mengunjungi Museum Zoologi Malang. 

Ia mengenalkan pada mereka, apa itu kerang terompet, bagaimana kerang ajaib sungguhan, dan ihwal lain tentang moluska.

“Maaf, kemarin saya menemani sebanyak 250 anak taman kanak-kanak belajar,” kata Irwan meminta maaf sebab tak cepat membalas pesan saya.

Makna Pengunjung Museum Bagi Pengelola

Museum Zoologi Malang bisa menerima kunjungan sampai 200 pengunjung selama satu minggu. Rata-rata pengunjung adalah anak-anak sekolah dengan ragam jenjang, mulai dari Kelompok Bermain sampai SMA. Lalu, manakala ada tawaran datang dari kampus-kampus, sekira puluhan mahasiswa bisa turut beraktivitas di museum ini. 

Ini tampak seperti hanya angka, tetapi apa arti 200 pengunjung bagi museum ini?

Irwan sebetulnya tak yakin semua usahanya dalam berbagi pengetahuan bagi pengunjung, khususnya yang ia sebut generasi muda, akan dipahami sepenuhnya.

Hanya saja, di sisi lain, Irwan juga berharap, jika ada 20 anak mengikuti program edukasinya, setidaknya satu dari mereka merasa penting memahami lingkungan sekitar, khususnya ekosistem laut. Sehingga barangkali, beberapa waktu mendatang, ketika satu anak ini tertarik, ia bisa berbagi dan menarik orang lain pula.

Satu demi satu, tumbuh menjadi seribu, kira-kira demikian keyakinan dalam hatinya.

Harap ini sebetulnya yang membuka jalan Irwan menjadi penjaga museum zoologi. Hari ketika ia menjadi penjaga museum, adalah masa gelisahnya sebagai pemuda.

Barangkali Irwan satu dari sekian banyak pemuda seusianya yang termasuk beruntung. Sebab sejak lulus kuliah dari Fakultas Kelautan dan Perikanan UB pada 2018, ia sudah mampu menghasilkan uang sendiri.

Ketika di Malang, misalnya, Irwan kerap menjadi pelatih renang tersertifikasi. Selain itu, ia juga memiliki sertifikat selam. Profesi yang rata-rata pemasukannya mencapai puluhan juta. Profesi yang memiliki untung lebih dari cukup bagi pemuda seusianya.

Namun, semua ia tinggalkan. Berbekal rasa rindu, ia kembali ke kampung halamannya: Raja Ampat, sekitar tahun 2020-an.

Sampai di Raja Ampat, ia tak menjadi pelatih renang sebagaimana profesi sebelumnya, melainkan pemandu wisata pengunjung Raja Ampat. Tempat yang kerap dipromosikan karena keindahan ekosistem lautnya.

Irwan mengatakan, usahanya bekerja di bidang ini sudah terhitung lebih dari cukup. Hingga suatu ketika, perasaan gelisah hinggap tanpa tahu sumbernya dari mana. Sembari mencoba berpikir pelan-pelan, perlahan ia menyadari pekerjaannya tak membantunya menerjemahkan keajaiban pengetahuan.

Ia gelisah setiap melihat perilaku pengunjung wisata yang kadang kala menyebabkan terumbu karang rusak. Lagi-lagi, sesuatu yang bertentangan dengan ilmu yang ia pelajari semasa kuliah.

Beberapa waktu mendatang, Irwan akhirnya memutuskan kembali ke Malang. Di kota tempat ia belajar ini, dirinya tertarik untuk berkontribusi Museum Zoologi Malang. Museum yang tengah kesulitan mencari penerus Frater Clemens, seorang Biarawan Katolik yang menyukai dunia biologi.

Sebetulnya, Frater Clemens sudah lama mencari cikal penerus untuk mengelola museum ini, tetapi belum sampai bertemu, pada 2022 ia keburu berpulang.

Hari ketika Frater Clemens meninggal, bukanlah hari Irwan segera menjadi pengganti Clemens.

Irwan belum bertemu Clemens secara langsung dan melakukan serah terima jabatan kendati ia sudah lama kembali ke Malang dan aktif kembali di Yayasan Mardiwiyata - Yayasan Katolik tempat Museum Zoologi bernaung.

Uploaded content
Irwan Basultor menjelaskan Kerang Cowrie, kerang yang pernah digunakan sebagai mata uang. | Foto: Ajmal Fajar Sidiq

Meski tak bertemu langsung, akhirnya Irwan menjadi pengelola museum. Rasa gelisahnya terjawab setelah menjadi pengelola museum. Apa yang ia harapkan, wadah untuk mengaktualisasikan pengetahuannya hadir dalam bentuk museum. Sesuatu yang mulanya belum pernah tergambar sama sekali bakal jadi jalan hidupnya.

Meskipun ia menyayangkan tidak memiliki waktu untuk bertemu langsung dengan Frater Clemens, tetapi Irwan mengungkapkan besarnya rasa syukur yang ia peroleh.

Ia bisa membagikan pengetahuannya ke khalayak luas, utamanya menceritakan dunia lain di luar manusia, dunia makhluk hidup laut, dunia moluska, dunia siput dan kerang-kerangan beserta kawanannya. Inilah arti dari ratusan pengunjung museum baginya.

Bagi Irwan, fungsi pengetahuan selain untuk berbagi kesadaran dari rasa gelisah orang hari ini, juga berfungsi sebagai alat untuk membaca dunia yang penuh dengan narasi kehancuran. Seperti krisis iklim, melelehnya es di antartika dan perasaan lain yang mendekatkan orang pada imajinasi kehancuran bumi. 

Cikal Bakal Museum Zoologi

"Murid ajaib lahir dari guru ajaib" adalah perumpamaan yang diyakini dan ditempel di pelakat peribahasa lama. Peribahasa ini bisa diubah dengan konotasi lain yang maknanya tetap sama. Misalnya, menjadi "murid baik lahir dari guru baik". Kira-kira demikianlah kisah awal museum ini.

Frater Clemens, murid dari Frater Vianney. Frater Clemens lama berguru pada Frater Vianney mengenai biologi sejak masa belia. Nama Frater Vianney, kala Clemens berguru sudah mentereng di banyak daerah Kupang dan sekitarnya. Ia dikenal dengan nama "Frater Ular" karena kegemarannya mengoleksi, mempelajari dan membagikan pengetahuan seputar reptil ke murid-muridnya, khususnya soal ular.

Uploaded content
Profil Frater Vianney dan Frater Clemens dalam salah satu sampul buku. | Foto: Ajmal Fajar Sidiq

Pertemuan dengan guru ajaib ini, membawa Clemens terlibat sebagai guru setelah menuntaskan pendidikan Sekolah Guru A yang diadakan oleh lembaga katolik. Nantinya, berkat pendidikan ini, Frater Clemens mendedikasikan hampir seluruh hidupnya menjadi guru di lembaga pendidikan katolik. Melalui Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (BHK), lelaki bernama Johanes Djuang Keban ini memperoleh nama baptisnya: Frater Clemens. Ialah seorang yang akhirnya meneruskan jejak Frater Vianney.

Selain faktor nilai kasih dalam diri Vianney yang lama dikagumi Clemens, ia juga kagum bagaimana cara Vianney menuntun muridnya memahami cara kerja dunia dalam kacamata biologi. Misalnya, tak jarang ia kerap menunjukkan muridnya langsung hewan yang dipelajarinya.

Selain itu, cara Frater Vianney mengajar pun atraktif. Kata Clemens dalam catatannya, ia kadang kala berlagak macam mayoret jika mengajar. Kerap memutar-mutar tongkat ajar di hadapan murid-muridnya. 

Di luar aktivitas harian mengajar yang membuat Frater Clemens takjub, sebetulnya kisah perjalanan Frater Vianney menyandang gelar Biarawan Ular-lah inspirasi lainnya.

Vianney lahir di Abcoude pada 22 November 1920. Tahun ketika ia lahir adalah tahun-tahun di mana Pertumbuhan Penganut Katolik di Indonesia tumbuh pesat.

Menurut catatan Karel Steenbrink dalam buku Catholics In Indonesia, 1808 - 1942 A Documented History, periode 1920 - 1940 adalah puncak pesatnya pertumbuhan umat katolik. Dalam catatan arsip kolonial, terhitung sebanyak hampir 70 juta penduduk Indonesia menganut agama Katolik dalam periode ini.

Dalam rentang 1903 - 1940, penganut katolik di Indonesia bertambah dari 53.000 menjadi 636.766 penganut. Sebagian besar kenaikan penganut terjadi pada rentang 1920 - 1940.

Vianney lahir pada masa puncak Umat Katolik menyebarkan nilai-nilai agamanya. Di sela ini, penting dicatat, bahwa nilai agama juga diiringi dengan perkembangan pengetahuan modern di Eropa. Hal ini menyebabkan tiap-tiap biarawan yang ditugaskan pergi ke Indonesia, turut serta membawa nilai pengetahuan modern.

Salah satunya adalah Frater Vianney yang memperoleh tugas kebiarawanan pada tahun 1941 (resmi baptis) dan berangkat menuju Indonesia beberapa tahun setelahnya. Berbekal pengetahuan modern, dan secara khusus biologi, Vianney pergi menuju daerah tugas utamanya, yaitu daerah Nusa Tenggara Timur, khususnya daerah Kupang.

Perjalanannya menjadi guru yang ditugaskan gereja, tak diabaikannya secara cuma-cuma. Sepanjang perjalanan, ia kerap singgah di beberapa tempat yang membuatnya takjub. Kondisi alam Asia Tenggara, alam yang lebih dekat dengan garis khatulistiwa, sehingga keragaman makhluk hidup jauh lebih tinggi dibanding belahan dunia wilayah utara, seperti tempat tinggalnya, yaitu Eropa.

Berdasarkan catatan Irwan, suatu ketika, salah satu asal mula mengapa Vianney memperoleh julukan "Frater Ular" berkat perjalanannya keluar masuk hutan di wilayah Mindanao, salah satu kepulauan di Filipina. 

Sering ia mencatat ragam reptil yang ia temui dan tak jarang ia melakukan klasifikasi spesies di sepanjang perjalannya. Hanya saja, selain senang mencatat reptil, ia juga beberapa kali mencatat jenis mamalia di sekitar perjalanan yang ia lalui. Bahkan, moluska yang menjadi bakal koleksi Museum Zoologi Malang itu berasal dari perjalanan tak sengajanya.

Sesekali, bila ia jenuh keluar masuk hutan, ia istirahat di wilayah pesisir pantai. Di sepanjang waktu istirahat, ia kerap melihat anak-anak, atau seorang pengunjung pantai membolak balik cangkang kerang, dan berkat inilah ia tertarik mengumpulkan jenis moluska larantuka.

Bertahun-tahun kemudian, setelah ia singgah di wilayah tugasnya, mendarat pertama di Larantuka, ia tak pernah luput mengumpulkan jenis-jenis karang di pesisir. 

Uploaded content
Nusa Tenggara Timur tempat Frater Vianney pertama bekerja masih merupakan daerah di bawah kekuasaan Kolonial Hindia-Belanda. | Foto: Buku Catholics In Indonesia 1808-1942: A Documented History - The Spectacular Growth of A Self-Confident Minority, 1903-1942

Kisah Frater Vianney, adalah kisah lazim orang-orang Eropa yang pergi ke Nusantara, atau dalam benak orang Eropa yang banyak mengacu pada catatan Alfred Russel Wallace, penulis The Malay Archipelago.

Kala itu, Eropa mulai memasuki fase perkembangan pengetahuan modern, dan beberapa pengetahuan ini tersebar di Nusantara, salah satunya melalui persebaran nilai agama melalui agama Katolik. 

Uploaded content
Potret modernitas sains di bagian Indonesia Timur sebagian besar dibawa melalui interaksi Gereja Katolik. | Foto: Jesuit Archives

Perilaku Vianney, sama seperti perilaku pendidik, guru, ilmuwan dan akademisi masa itu. Pergi ke Nusantara, takjub dengan dunia tropis, kemudian mendokumentasikan ragam hal di tempat ini.

Menurut catatan sejarah, dorongan ini juga diprakarsai dengan semakin banyaknya buku beredar tentang perkembangan sains. Satu di antaranya adalah Vianney. Pada masa mula mula Vianney mengumpulkan reptil, menurut catatan Clemens, ia tengah bergelut banyak dengan buku Evolusi berjudul The Phenomenon Of Man yang ditulis oleh Pierre Teilhard de Chardin. Salah seorang Evolusionis besar Eropa yang mendorong paham bahwa evolusi selalu menyertai dinamika perubahan yang kompleks. Alasan lainnya, Teilhard dikenal sebagai seorang pastor. Buku inilah yang kerap menjadi rujukan Vianney mencari tahu banyak hal di belahan dunia lain luar Eropa.

Belakangan, pengaruh buku ini juga terjadi pada cara Vianney mengajari Clemens, seperti metode ajar menangkap laron, melakukan identifikasi dan tak jarang menangkap beberapa reptil seperti biawak.

Vianney tak kekurangan asupan buku-buku lain, kendati pada masa itu di Indonesia belum ada universitas dengan jurusan spesifik membahas biodiversitas, Vianney kerap memperoleh koleksi buku dari Eropa. Salah satu buku yang sempat ia berikan pada Clemens adalah buku A Field Guide to Shells of the Pacific Coast and Hawaii pada masa kerjanya di Kupang periode 1963 - 1967.

Pertemuan dan kerja sama keduanya kelak berujung pada kerjasama mereka ketika bertemu di Malang. Nantinya, mereka yang berada dalam naungan Yayasan Konsigerat Roh Hati Bunda Kudus ini mendirikan Museum Zoologi Malang. Meskipun Vianney lebih dulu meninggalkan Clemens karena meninggal dunia pada 5 Maret 1970. 

Frater Vianney sudah mendiang, barangkali ia pun tak pernah membayangkan jika koleksi kerang milikinya akan menjadi bahan ajar pamungkas di Museum Zoologi Malang.

Kerang sebagai Persimpangan antara Sains dan Estetika

Dalam konteks moluska, seperti kerang koleksi Vianney, bahkan sedari pelayaran Rumphius, seorang dokumentator ilmu herbal nusantara yang bermukim di Ambon, kerang dianggap barang mewah di Eropa. Beberapa jenisnya digunakan untuk perhiasan bangsawan Eropa. Salah satu kisah terkenal dalam The Malay Archipelago, misalnya, hampir 93 kisah ia menyebutkan tentang kerang dalam bukunya dengan ragam konteks kisah di dalamnya.

Wallace berkali-kali menulis tentang kekayaan biota laut di Ambon, Maluku, dan wilayah timur Nusantara, termasuk kerang dan moluska yang menurutnya memiliki bentuk dan variasi yang jauh berbeda dibanding spesies di Eropa, 

Bagi Wallace, kerang bukan sekadar benda eksotik, tetapi bagian penting dari tradisi natural history Eropa. Spesimen laut dikumpulkan, dicatat asalnya, dibandingkan bentuknya, lalu dimasukkan ke dalam sistem klasifikasi ilmiah. Praktik ini umum dilakukan naturalis abad ke-19 yang datang ke wilayah kolonial untuk mengubah alam tropis menjadi objek penelitian.

Kerang memiliki posisi khusus karena berada di persimpangan antara sains dan estetika. Bentuk spiral nautilus, kilau permukaan mutiara, serta pola cangkang laut tropis dianggap menunjukkan kompleksitas alam yang menarik secara visual sekaligus ilmiah.

Di satu sisi, kerang dipelajari sebagai objek untuk diklasifikasi, dicatat asal-usulnya, dan dimasukkan ke dalam katalog ilmiah. Di sisi lain, kerang diperlakukan sebagai benda dekoratif dan simbol status sosial. Beberapa cangkang bahkan dipasang dengan ornamen emas atau perak untuk dijadikan gelas minum aristokrat Eropa. 

Karena itu, kerang dari Nusantara banyak dikirim ke Eropa untuk museum, kabinet koleksi pribadi, dan penelitian zoologi.

Pengumpulan spesimen juga menjadi bagian dari proyek pengetahuan kolonial. Laut Nusantara dipandang sebagai wilayah biologis yang dapat dipetakan dan diinventarisasi melalui koleksi. Wallace sendiri mengumpulkan ribuan spesimen selama ekspedisinya di Kepulauan Melayu, dibantu nelayan lokal, pemburu, dan pekerja pesisir yang mencari organisme dari hutan maupun laut.

Dalam Conchophilia: Shells, Art, and Curiosity in Early Modern Europe, kerang dijelaskan bukan sekadar sebagai objek biologi laut, tetapi sebagai benda yang memiliki nilai estetika, simbolik, dan politik dalam budaya Eropa awal modern. Buku ini menunjukkan bagaimana kerang tropis—termasuk dari Nusantara—berubah menjadi bagian penting dari budaya koleksi Eropa sejak abad ke-16 hingga ke-18.

Uploaded content
Lembar keanehan nilai kerang di Eropa dari buku Conchophilia: Shells, Art, and Curiosity in Early Modern Europe. Terjemahan: Sungguh mengejutkan bahwa ada orang-orang luar biasa yang menghabiskan sejumlah besar uang untuk cangkang kerang dan cangkang berlumpur yang tidak memiliki keindahan apapun selain kesengsaraan belaka, dan itu karena mereka menyadari bahwa ada penguasa besar, bahkan para Kaisar dan Raja, yang memelihara hewan-hewan mengerikan seperti itu dan membayar mahal untuknya. Hei, Tuan-tuan Monyet, kalian tidak memahaminya dalam permainan ini. Raja Louis dari Prancis, yang kesebelas dari nama itu, mendatangkan hewan-hewan terkenal dari kerajaan tetangganya, untuk membuat namanya terkenal bahwa ia masih memiliki semangat yang besar dalam hidupnya, meskipun pada saat itu ia secara fisik sangat lemah. Saya tidak ingin mengkritik mereka yang mencari nafkah darinya untuk mendapatkan keuntungan darinya, jika dasar-dasar bisnis tersebut dapat dipenuhi. Mereka tidak bodoh jika tidak menemukan tujuan yang baik untuk bagian mereka.

Museum Zoologi dan Krisis Iklim

Banyak kepunahan yang tercatat, barangkali juga lebih banyak yang tak tercatat. Laju dunia, kebijakan politik dan sejenisnya masih belum banyak berpihak pada krisis iklim. Ekosistem paling mengkhawatirkan, menurut banyak ilmuwan adalah ekosistem laut. Maka dari itu, ilmuwan banyak menjadikan kenaikan tingkat keasaman air laut menjadi salah satu indikator gawat darurat krisis iklim.

Pemutihan karang, kepunahan beberapa jenis ikan, dan potensi berkurangnya air tawar menjadi problem nyata yang harus dihadapi dengan cicilan pelan-pelan, setidaknya itu menurut keyakinan Irwan.

Hanya saja, lebih dari sekedar museum, hal pentingnya adalah menyicil kesadaran pelan-pelan. Menurut Irwan, dunia banyak mengalami disrupsi informasi, kadangkala banyak lembaga tak memadai untuk mewadahi kesadaran atas krisis iklim. Sehingga, adanya wadah berbagi kesadaran seperti edukasi. 

Uploaded content
Infografis data dan sejarah kerang di Indonesia. | Infografis: Ajmal Fajar Sidiq

“Tidak ada normalisasi bilang, 'Ah, dia masih SD, belum waktunya untuk mengerti tentang karang'. Enggak bisa. Justru dia masih SD itu yang harus dibentuk. Nah, jadi jangan sampai bilang nantilah dia SMA mau kuliah baru belajar tentang itu, enggak bisa,” tutur Irwan gelisah.

"Makanya perlu diajarkan dan ditanamkan dari sekarang. Karena konservasi itu untuk kita semua dan untuk generasi mendatang, tidak bisa ditunda dan tidak bisa ditahan. Iklim yang akan sangat panas di tahun 2050 sudah diprediksi. Jadi, ya, pesannya konservasi untuk kita, kita untuk konservasi dan anak-anak perlu paham tentang itu,“ kata Irwan memungkasi.