Puisi

"Dengarlah Kata Gajah" dan Dua Puisi Lainnya

11/06/2026|Dewi Puspasari
Ilustrasi alih fungsi hutan menjadi tambang Foto Betahita - Dengarlah Kata Gajah dan Dua Puisi Lainnya

Ilustrasi alih fungsi hutan menjadi tambang. | Foto: Betahita

Terang Bulan yang Sunyi


Suara daun yang gemrisik tak lagi terdengar

Padahal suara itu ibarat musik yang indah

Tenang dan mendamaikan

dibandingkan suara angin kencang langsung menggesek tanah


Dulu malam bulan purnama dinanti

Semua penghuni hutan berhias diri

Kelinci membersihkan kupingnya yang cantik

Para tupai berlatih menari


Semua satwa akan hadir tak terkecuali

Saat itu gencatan senjata terjadi

Tak ada cerita hewan buas melahap kelinci

Semua asyik bersenang-senang menari di tengah cahaya bulan yang menyinari


Kami bangsa peri dan spirit juga hadir

Kami memainkan musik dan bernyanyi

Ruh dan leluhur hutan juga mengawasi

Ini adalah malam yang indah sekaligus penuh misteri


Pepohonan yang tinggi menjadi pelindung kami

Meski kami menari di bagian hutan yang lapang, tak ada manusia yang bisa melihat kami

Pepohonan rapat itu menutupi

Menjadi dinding dan benteng kami


Kami menari dan bersukaria

Sang harimau memberi semangat

Para gajah menyebarkan kebijaksanaan

Para tupai dan kelinci menyuarakan kebebasan


Kamilah penghuni hutan ini

Inilah rumah kam

Leluhur kami ada di sini

Hutan ini adalah darah kami


Namun, kini semua hanya bak kisah fantasi

Pepohonan tinggi tak lagi bisa melindungi

Semuanya dibabat habis tanpa tersisa kini

Para penghuni hutan ditangkapi atau mati sendiri


Kini hutan ini sunyi

Berganti tanah lapang dan lahan tambang yang terus digali

Aroma dedaunan berganti bau menusuk sekali

Kehidupan menyingkir dari tanah ini


Hanya aku spirit hutan yang tersisa kini

Saudara-saudari telah menyingkir

Aku hanya ingin singgah menengok rumah masa bahagia sekali ini

Dan darahku berdesir antara marah dan sedih


Terang bulan kini sunyi

Para satwa telah mati

Pepohonan telah dibabati

Hanya angin yang terus menangis 


Dengarlah Kata Gajah

Uploaded content
Ilustrasi kawanan gajah yang bijak. | Foto: Indozone

Gajah si satwa bertubuh besar

Pemilik kebijaksanaan dan kesabaran

Hatinya begitu lapang

Ingatannya begitu tajam


Gajah pemimpin hutan

Kata-katanya didengarkan 

Harimau menekuk lututnya

memberikan hormat kepada satwa penjaga


Gajah memiliki ingatan sempurna

Ia mengingat semuanya

Tentang hutan masa lalunya hingga sekarang

Tentang manusia dan kekejamannya


Tak seperti harimau yang emosional

Gajah punya kesabaran super ekstra

Ia masih mau menolong manusia

Meski berkali-kali mereka mengkhianatinya 


Hingga suatu ketika anak gajah tewas

Gajah pemimpin terpukul melihat kondisi kawanannya

Induk gajah menangis lemas

Sekali melihat, gajah pemimpin tahu sebabnya


Lagi-lagi manusia penyebabnya 

Mereka menggunakan alat berat untuk melukai satwa

Hutan sudah sebagian hilang dan mereka masih tak puas

Mereka tega melukai satwa penghuni hutan


Gajah adalah satwa agung dan bijak

Gajah adalah pelindung hutan

Gajah punya ingatan sempurna

Ketika manusia terus berkhianat, gajah tak lagi bisa membendung amarahnya


Gajah terus mengingat

Amarah dan sedih penghuni hutan disesapinya

Ia berupaya menyabarkan semuanya

Hingga pompa kesabaran itu pecah 


Hanya Hutan Kota

Uploaded content
Ilustrasi menari di hutan. Ini adalah tari kejei yang merupakan tarian tradisional khas suku Rejang, Bengkulu. | Foto: Wonderful Indonesia

Ini ceritaku tentang hutan

Sebuah hutan mungil di tengah kota

Manusia menggunakannya untuk hiburan

Para flora fauna menyebutnya rumah


Mungkin kamu tidak tahu informasi ini

Ada ratusan spesies hidup di sini

Ada pohon tua menjulang tinggi

Ia membanggakan diri karena usianya satu abad lebih


Terlindung semak-semak itu

Ada banyak satwa mungil hidup

Dari semut hingga satwa yang kamu tak pernah tahu

Hati-hatilah menempatkan sepatumu, mereka berhak hidup


Dulu hutan ini begitu lapangnya

Kini menyempit dan disebut hutan kota

Harapan kami hutan mungil ini tak lenyap

Jika hilang, kami akan ke mana