Terang Bulan yang Sunyi
Suara daun yang gemrisik tak lagi terdengar
Padahal suara itu ibarat musik yang indah
Tenang dan mendamaikan
dibandingkan suara angin kencang langsung menggesek tanah
Dulu malam bulan purnama dinanti
Semua penghuni hutan berhias diri
Kelinci membersihkan kupingnya yang cantik
Para tupai berlatih menari
Semua satwa akan hadir tak terkecuali
Saat itu gencatan senjata terjadi
Tak ada cerita hewan buas melahap kelinci
Semua asyik bersenang-senang menari di tengah cahaya bulan yang menyinari
Kami bangsa peri dan spirit juga hadir
Kami memainkan musik dan bernyanyi
Ruh dan leluhur hutan juga mengawasi
Ini adalah malam yang indah sekaligus penuh misteri
Pepohonan yang tinggi menjadi pelindung kami
Meski kami menari di bagian hutan yang lapang, tak ada manusia yang bisa melihat kami
Pepohonan rapat itu menutupi
Menjadi dinding dan benteng kami
Kami menari dan bersukaria
Sang harimau memberi semangat
Para gajah menyebarkan kebijaksanaan
Para tupai dan kelinci menyuarakan kebebasan
Kamilah penghuni hutan ini
Inilah rumah kam
Leluhur kami ada di sini
Hutan ini adalah darah kami
Namun, kini semua hanya bak kisah fantasi
Pepohonan tinggi tak lagi bisa melindungi
Semuanya dibabat habis tanpa tersisa kini
Para penghuni hutan ditangkapi atau mati sendiri
Kini hutan ini sunyi
Berganti tanah lapang dan lahan tambang yang terus digali
Aroma dedaunan berganti bau menusuk sekali
Kehidupan menyingkir dari tanah ini
Hanya aku spirit hutan yang tersisa kini
Saudara-saudari telah menyingkir
Aku hanya ingin singgah menengok rumah masa bahagia sekali ini
Dan darahku berdesir antara marah dan sedih
Terang bulan kini sunyi
Para satwa telah mati
Pepohonan telah dibabati
Hanya angin yang terus menangis
Dengarlah Kata Gajah
Gajah si satwa bertubuh besar
Pemilik kebijaksanaan dan kesabaran
Hatinya begitu lapang
Ingatannya begitu tajam
Gajah pemimpin hutan
Kata-katanya didengarkan
Harimau menekuk lututnya
memberikan hormat kepada satwa penjaga
Gajah memiliki ingatan sempurna
Ia mengingat semuanya
Tentang hutan masa lalunya hingga sekarang
Tentang manusia dan kekejamannya
Tak seperti harimau yang emosional
Gajah punya kesabaran super ekstra
Ia masih mau menolong manusia
Meski berkali-kali mereka mengkhianatinya
Hingga suatu ketika anak gajah tewas
Gajah pemimpin terpukul melihat kondisi kawanannya
Induk gajah menangis lemas
Sekali melihat, gajah pemimpin tahu sebabnya
Lagi-lagi manusia penyebabnya
Mereka menggunakan alat berat untuk melukai satwa
Hutan sudah sebagian hilang dan mereka masih tak puas
Mereka tega melukai satwa penghuni hutan
Gajah adalah satwa agung dan bijak
Gajah adalah pelindung hutan
Gajah punya ingatan sempurna
Ketika manusia terus berkhianat, gajah tak lagi bisa membendung amarahnya
Gajah terus mengingat
Amarah dan sedih penghuni hutan disesapinya
Ia berupaya menyabarkan semuanya
Hingga pompa kesabaran itu pecah
Hanya Hutan Kota
Ini ceritaku tentang hutan
Sebuah hutan mungil di tengah kota
Manusia menggunakannya untuk hiburan
Para flora fauna menyebutnya rumah
Mungkin kamu tidak tahu informasi ini
Ada ratusan spesies hidup di sini
Ada pohon tua menjulang tinggi
Ia membanggakan diri karena usianya satu abad lebih
Terlindung semak-semak itu
Ada banyak satwa mungil hidup
Dari semut hingga satwa yang kamu tak pernah tahu
Hati-hatilah menempatkan sepatumu, mereka berhak hidup
Dulu hutan ini begitu lapangnya
Kini menyempit dan disebut hutan kota
Harapan kami hutan mungil ini tak lenyap
Jika hilang, kami akan ke mana
















