Edukasi

Di Mana Komodo Tinggal dan Berapa Populasinya Kini?

29/05/2026|Irvan Sjafari
Ilustrasi komodo reptil purba yang hidup di Indonesia dan memiliki air liur yang mematikan Foto Instagram BBKSDA NTT - Di...

Ilustrasi komodo, reptil purba yang hidup di Indonesia dan memiliki air liur yang mematikan. | Foto: Instagram BBKSDA NTT

Gardaanimalia.com - Kawan Satwa, tahukah kamu bahwa spesies kadal purba terbesar di dunia masih hidup di Indonesia?

Ya, dialah komodo (Varanus komodoensis), satwa endemik yang dapat kita temui hanya jika kita menelusuri luasnya sabana di Nusa Tenggara Timur

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur Adhi Nurul Hadi mengungkapkan bahwa komodo dapat ditemukan di beberapa pulau pada wilayah Taman Nasional Komodo, beberapa lokasi di daratan Flores, serta beberapa pulau kecil di utara Flores.

Dalam Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Komodo 2025-2035, komodo tersebar di lima pulau, yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Motang, Pulau Kode, dan Pulau Padar. Seluruhnya merupakan kawasan konservasi Taman Nasional Komodo.

Kawasan hutan konservasi lain yang menjadi habitat komodo adalah Cagar Alam (CA) Riung, Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau, dan CA Wolo Tadho di lanskap utara, serta CA Wae Wuul di lanskap barat dan selatan. Secara administrasi, habitat-habitat tersebut termasuk ke dalam Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai Timur, dan Kabupaten Ngada.

Berdasarkan status kawasannya, habitat komodo tidak hanya tersebar di hutan konservasi, tetapi juga di beberapa fungsi hutan lain, yaitu hutan lindung (HL), hutan produksi (HP), dan area penggunaan lain (APL).

“Sebagian habitat biawak komodo berada pada hutan konservasi. Namun demikian, sebagian populasi biawak komodo, baik di lanskap utara maupun barat-selatan, terdapat di area penggunaan lain (APL),” ungkap Adhi Nurul Adi kepada Garda Animalia melalui WhatsApp, Sabtu (23/5/2026).

Karena sebarannya tidak terbatas pada kawasan konservasi, maka pengelolaan habitat komodo terbagi pada dua instansi, yaitu Taman Nasional Komodo dikelola oleh Balai Taman Nasional Komodo, dan habitat di luar taman nasional dikelola oleh BBKSDA NTT.

Sementara di Pulau Flores, populasi komodo tersebar membentuk kantung-kantung populasi pada dua lanskap, yaitu Lanskap Pesisir Pantai Barat dan Selatan, serta Lanskap Pesisir Pantai Utara dan Pulau Longos.

Berdasarkan hasil survei BBKSDA NTT bersama Yayasan Komodo Survival Program (KSP) pada 2015- 2018, komodo dapat ditemukan di sepanjang Flores bagian utara, meliputi Cagar Alam (CA) Wolo Tadho, Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Tujuh Belas Pulau Riung, CA Riung, Torong Padang, Golo Lijun, Pota, dan Pulau Longos. Lalu, pada bagian barat hingga selatan, meliputi CA Wae Wuul, Golo Mori, Kereta Mese, dan Nanga Bere.

Pada bagian barat pulau Flores, khususnya di Golomori, populasi komodo juga terdapat di area yang dikelola oleh badan usaha PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC).

Pada umumnya, komodo di wilayah Flores ditemukan pada karakteristik habitat berupa savana dan hutan gugur terbuka.

Selain di habitat alaminya, komodo juga ditemukan di lahan garapan musiman yang terdapat satwa mangsa.

Sejauh ini, berdasarkan informasi data kehadiran satwa komodo di pulau Flores, komodo hanya ditemukan pada ketinggian dari pesisir pantai hingga 300 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Upaya pengumpulan data populasi komodo telah dilakukan oleh BBKSDA NTT bersama KSP sejak 2009 dengan menggunakan metode Capture Mark Release and Recapture (CMRR) dan Site Occupancy.

Analisis kelimpahan populasi dilakukan melalui pendekatan metode Site Occupancy pada beberapa site monitoring di dua lanskap, yaitu CA Wolo Tadho, CA Riung, Torong Padang, Golo Lijun, Pota, Pulau Ontoloe dan Pulau Longos di wilayah pesisir Pantai utara, serta CA Wae Wuul, Golo Mori, Kerita Mese, dan Nanga Bere di wilayah pesisir pantai barat dan selatan.

“Hasil analisis terhadap data tersebut menunjukan populasi biawak komodo di Pulau Flores berkisar antara 131-701 individu,” imbuh Adhi.