Edukasi

Enggang Gading: Maskot Resmi Kalimantan Barat yang Terancam Punah

12/03/2026|Adriana Yupei
Enggang gading spesies burung enggang yang kehidupannya terancam punah Foto Science Photo Library BBC - Enggang Gading Ma...

Enggang gading, spesies burung enggang yang kehidupannya terancam punah. | Foto: Science Photo Library BBC

Gardaanimalia.com - Alam Kalimantan merupakan salah satu bagian penting dari paru-paru dunia. Wilayah ini dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, hutan hujan tropis yang luas, lahan gambut penyimpan karbon, serta menjadi habitat bagi berbagai flora dan fauna endemik.

Budaya di pulau ini pun beragam dan unik karena lekat dengan identitas mereka sebagai tanah Borneo yang kaya. Seperti halnya di Kalimantan Barat yang memilih menetapkan enggang gading (Rhinoplax vigil), sebagai maskot resmi mereka. 

Sebagai ikon daerah, burung ini disakralkan oleh suku Dayak, berperan penting dalam penyebaran biji hutan, dan dilindungi undang-undang karena terancam punah.

Sebenarnya, selain enggang gading, masih ada sekitar tujuh spesies enggang lain yang tersebar di pulau Kalimantan. Beberapa di antaranya seperti enggang cula/rangkong badak (Buceros rhinoceros), kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus), julang jambul (Rhabdotorrhinus corrugatus), dan enggang klihingan (Anorrhinus galeritus).

Lalu, dari beberapa jenis enggang tersebut, mengapa enggang gading yang dipilih sebagai maskot resmi Kalimantan Barat? Berikut penjelasan dan fakta uniknya!

1. Maskot Kalimantan Barat Sejak 1990, tetapi Banyak Masyarakat yang Belum Tahu

Sejak 1990, enggang gading sudah resmi menjadi maskot Kalimantan Barat. Penetapan tersebut mengacu pada SK Menteri Dalam Negeri Nomor 48 Tahun 1989 dan diperkuat melalui Keputusan Gubernur KDH Kalimantan Barat Nomor 257 Tahun 1990 tentang identitas flora dan fauna daerah.

Namun, sampai sekarang, masih banyak masyarakat di Kalimantan Barat yang belum mengetahui penetapan tersebut. Bahkan, mereka sering tertukar dengan enggang cula yang merupakan maskot resmi Sarawak, Malaysia. 

Ketidaktahuan masyarakat disebabkan karena enggang gading tinggal di hutan primer yang jauh dari pemukiman masyarakat, masih banyak yang merasa asing dan belum beruntung untuk bisa melihat burung tersebut secara nyata.

2. Filosofi di Balik Ciri Khasnya sebagai Simbol Kehormatan

Enggang gading tidak dipilih begitu saja sebagai maskot Kalimantan Barat. Penetapan ini berkaitan erat dengan nilai filosofis yang dimilikinya dalam budaya masyarakat Dayak. Burung ini dipandang sebagai simbol yang mencerminkan berbagai nilai kehidupan yang patut dijadikan teladan.

Menurut salah seorang penggagas maskot Kalimantan Barat, Budi Suriansyah, ciri khas enggang gading memiliki makna tersendiri. Kebiasaannya hinggap di tempat tinggi seperti puncak pohon perbukitan dimaknai sebagai simbol keluhuran budi dan jiwa kepemimpinan.

Lalu, kesetiaannya pada satu pasangan sepanjang hidup melambangkan loyalitas dan tanggung jawab. Sementara, kebiasaannya tidak mencari makanan di tanah diartikan sebagai lambang kesucian serta sikap tidak serakah.

Makna filosofis juga tercermin dari karakteristik fisiknya. Suara panggilan (caling) yang melengking keras dianggap melambangkan ketegasan, keberanian, dan budi luhur.

Bentang sayapnya yang lebar dimaknai sebagai simbol perlindungan dan kekuatan, sedangkan ekornya yang panjang menjuntai melambangkan kemakmuran.

3. Cara Berkembang Biak yang Unik dan Protektif

Sebagai bagian dari keluarga burung enggang, enggang gading memiliki cara berkembang biak yang unik dan sangat protektif. Dibandingkan spesies enggang lainnya, proses ini berlangsung lebih lama. Mulai dari masa pengeraman hingga anak-anaknya mampu terbang bebas, keseluruhan prosesnya dapat memakan waktu sekitar lima bulan.

Setelah masa perkawinan, pasangan enggang gading akan mencari pohon tinggi untuk dijadikan sarang, biasanya yang memiliki bonggol atau dahan besar di dekat lubang sarang sebagai pijakan jantan saat mengantarkan makanan kepada betina. 

Setelah menemukan pohon yang ideal, mereka memodifikasi atau memperbesar lubang alami dari pohon tersebut.

Betina kemudian masuk ke dalam sarang, sementara pintu masuknya ditutup menggunakan campuran tanah liat, getah, sisa buah, bahkan kotoran mereka sendiri. Pintu itu hanya menyisakan celah kecil agar jantan dapat menyuapi makanan dari luar dan betina membuang kotoran dari dalam.

Betina akan menghabiskan sekitar 150 hari di dalam sarang sejak masa pengeraman hingga anak-anaknya siap keluar dan terbang.

Selama periode ini, bulu-bulu betina berguguran dan digunakan sebagai alas untuk menjaga kehangatan.

Dalam masa tersebut, peran jantan menjadi sangat penting karena setiap hari harus mencari dan mengantarkan makanan untuk betina dan anak-anaknya. Kelangsungan hidup keluarga kecil ini sangat bergantung padanya.

Jika sesuatu terjadi pada jantan sehingga ia tidak dapat kembali membawa makanan, maka betina dan anak-anaknya yang terkurung di dalam sarang berisiko mengalami kelaparan.

Sistem berkembang biak ini menunjukkan betapa pentingnya peran kedua induk dalam menjaga kelangsungan hidup anak-anak mereka.

Namun, proses yang panjang dan penuh ketergantungan tersebut juga membuat enggang gading menjadi lebih rentan terhadap ancaman kepunahan.

4. Dijuluki “Petani Hutan” karena Perannya Menyebarkan Biji

Enggang gading masuk ke dalam kategori hewan omnivora atau pemakanan segalanya. Makanan utamanya adalah buah-buahan besar, lalu diikuti hewan-hewan kecil seperti serangga, burung, kelelawar, kadal, sampai ular.

Salah satu sumber makanan yang sangat penting adalah buah ara. Saat musim buah ara tiba, burung ini sangat bergantung pada pohon tersebut dan bahkan harus bersaing dengan sesamanya untuk mendapatkan akses ke pohon yang sedang berbuah.

Dalam mencari makanan, enggang gading mampu terbang hingga jarak yang sangat jauh, bahkan mencapai sekitar 100 kilometer. Kemampuan terbang inilah yang membuatnya dijuluki sebagai “Petani Hutan”. 

Saat memakan buah seperti ara, durian hutan, atau kempas, biji-bijinya tidak hancur di dalam sistem pencernaan, melainkan dikeluarkan bersama kotoran di lokasi yang jauh dari pohon induk. Melalui proses inilah enggang gading berperan penting dalam membantu penyebaran biji dan regenerasi hutan.

5. Casque Berharga yang Menjadi Target Perburuan

Enggang gading memiliki sejumlah keunikan fisik yang membedakannya dari spesies lain. Burung ini termasuk salah satu enggang terbesar di Asia dengan panjang tubuh yang dapat mencapai sekitar 1,7 meter.

Ciri khas lainnya adalah paruhnya yang panjang dan melengkung, serta balung atau casque di atas paruh yang lebih keras dan padat dibandingkan spesies enggang lain. Struktur ini berfungsi sebagai ruang resonansi yang memperkuat suara panggilannya.

Namun, keunikan tersebut justru membuat enggang gading menjadi target perburuan ilegal. Bagian casque sering diambil untuk dijadikan bahan ukiran, perhiasan, cincin, belt buckle, dan berbagai ornamen lainnya.

Tekanan perburuan yang tinggi, ditambah dengan hilangnya hutan sebagai habitat utama, menyebabkan populasi enggang gading menurun drastis. Akibatnya, pada akhir tahun 2015 spesies ini secara resmi dimasukkan ke dalam kategori kritis (critically endangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Sebagai maskot resmi Kalimantan Barat, enggang gading bukan hanya sekadar simbol daerah, tetapi juga bagian penting dari ekosistem hutan Kalimantan. 

Perannya dalam menyebarkan biji membantu menjaga regenerasi hutan yang menjadi rumah bagi banyak makhluk hidup.

Oleh karena itu, upaya perlindungan terhadap enggang gading dan habitatnya menjadi langkah penting untuk memastikan burung ikonik ini tetap dapat bertahan di alam liar.