Wawancara

Kebakaran Hutan Ancam Eksistensi Gajah

18/09/2026|Irvan Sjafari
Ilustrasi gajah sumatera Foto Wikimedia Commons - Kebakaran Hutan Ancam Eksistensi Gajah

Ilustrasi gajah sumatera. | Foto: Wikimedia Commons

Gardaanimalia.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat membuat gajah sumatera semakin kehilangan ruang hidup. Ancaman yang dihadapi bukan hanya api dan asap, tetapi juga berkurangnya ketersediaan pakan dan air, terputusnya jalur pergerakan, serta meningkatnya risiko konflik dengan manusia. Habitat gajah yang terdampak kebakaran telah dilaporkan di sejumlah wilayah Sumatera. 

Namun, informasi mengenai gajah liar yang secara khusus sakit atau mati akibat menghirup asap masih terbatas. Karena itu, penanganan dampak karhutla terhadap gajah tidak cukup hanya dengan memadamkan api. 

Pencegahan kebakaran, perlindungan habitat dan jalur pergerakan, pemantauan kesehatan, kesiapan tim medis, keterlibatan masyarakat, serta pemulihan kawasan perlu dilakukan secara bersama-sama. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Prof. drh. Wisnu Nurcahyo, yang banyak mendalami penelitian mengenai gajah sumatera. 

Peraih gelar Doktor der Veterinarmedizin (Dr. Vet. Med.) dalam bidang Parasitologi Molekuler dari Freie Universität (FU) Berlin tersebut menjelaskan, gajah cenderung menghindari kebakaran hutan dan lahan. Reaksi ini meningkatkan risiko gajah memasuki perkebunan dan permukiman warga. 

Berikut wawancara Garda Animalia dengan Wisnu Nurcahyo pada Senin (14/9/2026) 

Apa dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap gajah sumatera? 

Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak tumbuhan, tetapi juga mengancam kehidupan satwa liar yang tinggal di dalamnya, termasuk gajah sumatera. Gajah membutuhkan wilayah yang luas untuk mencari makan, mendapatkan air, beristirahat, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ketika hutan terbakar, kebutuhan dasar tersebut menjadi semakin sulit dipenuhi. 

Apakah gajah sumatera akan semakin terdesak karena karhutla? 

Kebakaran dapat membuat ruang hidup gajah semakin sempit. Tumbuhan yang menjadi sumber pakan terbakar, sumber air berkurang atau tercemar abu, dan jalur pergerakan gajah dapat terputus. 

Untuk menyelamatkan diri dan mencari makan, kelompok gajah biasanya bergerak menjauhi lokasi kebakaran. Masalahnya, di luar kawasan hutan sering terdapat perkebunan, permukiman, dan jalan raya. 

Akibatnya, gajah lebih sering masuk ke kebun atau mendekati permukiman warga. Keadaan ini dapat meningkatkan konflik antara manusia dan gajah. Tanaman pertanian mungkin rusak, masyarakat merasa takut, sedangkan gajah menghadapi risiko diusir, terkena jerat, tersengat pagar listrik, diracun, atau dibunuh. Kebakaran juga dapat memisahkan anak gajah dari induknya. Dalam situasi panik, kelompok dapat berpencar dan berpindah ke daerah yang belum mereka kenal. Walaupun api sudah padam, dampaknya masih dapat berlangsung lama karena tumbuhan dan sumber pakan membutuhkan waktu untuk pulih.

Apa risiko kesehatan jika gajah terpapar asap? 

Asap kebakaran mengandung debu dan partikel sangat halus, karbon monoksida, serta berbagai bahan berbahaya lainnya. Partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Gajah yang terpapar asap dapat mengalami mata merah dan berair, keluar cairan dari hidung, batuk, kesulitan bernapas, tubuh lemah, dan kehilangan nafsu makan. 

Pada paparan yang berat, gajah dapat mengalami kekurangan oksigen, gangguan paru-paru, kehilangan keseimbangan, bahkan pingsan. Gajah yang berada terlalu dekat dengan api juga dapat mengalami luka bakar pada kulit, belalai, mata, dan telapak kaki. 

Panas yang tinggi serta sulitnya memperoleh air dapat menyebabkan dehidrasi. Jika paparan asap berlangsung lama atau terjadi berulang kali, kondisi paru-paru dapat memburuk. Daya tahan tubuh juga dapat menurun sehingga gajah menjadi lebih mudah terkena infeksi. 

Kekurangan pakan dan stres berkepanjangan akan memperburuk keadaan, terutama pada anak gajah, gajah tua, gajah bunting, dan gajah yang sebelumnya sudah sakit. Stres, kekurangan nutrisi, dan menurunnya daya tahan tubuh juga dapat memengaruhi penyakit parasit. 

Selain itu, ketika gajah mendekati peternakan atau permukiman, kemungkinan kontak dengan hewan lain ikut meningkat. 

Apakah sudah pernah terjadi kasus gajah terdampak kebakaran? 

Sudah ada laporan mengenai kebakaran yang merusak habitat gajah sumatera dan menyebabkan gajah berpindah ke luar kawasan hutan. Pada kebakaran tahun 2019, sebagian habitat dan jalur pergerakan gajah di Suaka Margasatwa Padang Sugihan–Sebokor, Sumatera Selatan, dilaporkan mengalami kerusakan. 

Pada tahun yang sama, seekor gajah di sekitar Tesso Nilo, Riau, dilaporkan memasuki perkebunan setelah habitatnya terdampak kebakaran. Pada Agustus 2026, kebakaran juga terjadi di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. 

Sekitar 673 hektare kawasan diperkirakan terdampak. Namun, berdasarkan pemantauan petugas, kelompok gajah liar berada jauh dari lokasi kebakaran. Gajah yang berada di Pusat Konservasi Gajah juga dilaporkan aman dan tidak terkena dampak langsung. 

Dengan demikian, kerusakan habitat dan perpindahan gajah akibat kebakaran memang sudah terjadi. Namun, laporan yang secara pasti menyatakan bahwa gajah sumatera liar sakit atau mati hanya karena menghirup asap masih sangat terbatas. Hal ini bukan berarti asap tidak berbahaya. Kondisi kesehatan gajah liar sulit diperiksa secara langsung. Gajah yang sakit ringan mungkin tidak terdeteksi, sedangkan bangkai yang terlambat ditemukan akan sulit diketahui penyebab kematiannya.

Bagaimana upaya mitigasinya? 

Langkah paling penting adalah mencegah kebakaran sebelum terjadi. Daerah yang sering terbakar perlu dipetakan dan dibandingkan dengan lokasi habitat, jalur pergerakan, serta sumber air yang digunakan gajah. Pengawasan harus ditingkatkan selama musim kemarau. 

Masyarakat sekitar hutan perlu dilibatkan dalam patroli dan pelaporan dini. Pembukaan lahan dengan cara membakar harus dicegah, sedangkan pelanggaran perlu ditindak dengan tegas. Ketika kebakaran terjadi, petugas perlu memantau arah api, arah angin, ketebalan asap, dan pergerakan kelompok gajah. Jalur yang digunakan gajah untuk menjauh dari api sebaiknya tidak ditutup. Gajah harus diberi kesempatan bergerak menuju tempat yang lebih aman dan memiliki sumber air. Masyarakat di sekitar jalur pergerakan gajah juga perlu segera diberi informasi. Tim penanganan konflik harus disiapkan agar warga tidak mengusir gajah dengan api, petasan berlebihan, racun, jerat, atau pagar listrik yang berbahaya. Pemindahan atau pembiusan gajah tidak selalu menjadi pilihan pertama. Mengejar dan membius gajah ketika udara dipenuhi asap justru dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Tindakan tersebut sebaiknya hanya dilakukan jika gajah benar-benar terjebak atau berada dalam bahaya, serta harus berada di bawah pengawasan dokter hewan dan petugas berpengalaman.

Bagaimana cara merawat gajah yang terdampak? 

Gajah yang diduga terkena asap perlu diperiksa kondisi pernapasan, mata, belalai, kulit, telapak kaki, tingkat kesadaran, suhu tubuh, nafsu makan, dan keadaan cairan tubuhnya. Jika diperlukan, gajah dapat diberikan oksigen, cairan, perawatan luka, obat untuk mengurangi rasa sakit, serta pengobatan lain sesuai hasil pemeriksaan dokter hewan. Setelah api padam, sumber air harus diperiksa untuk memastikan tidak tercemar abu. Ketersediaan pakan juga perlu dinilai. Daerah yang terbakar harus dipulihkan dengan menanam kembali tumbuhan pakan alami dan memperbaiki jalur pergerakan gajah. Pemantauan sebaiknya tetap dilakukan selama beberapa bulan karena konflik dengan manusia biasanya tidak langsung berhenti setelah kebakaran selesai. Kondisi tubuh, kesehatan, kelahiran, kematian, pergerakan kelompok, dan penyakit pada gajah perlu terus diamati.