Gardaanimalia.com - Jika mendengar nama Gunung Merapi, apa yang terlintas di benakmu? Status siaga, letusan gunung, wedhus gembel, atau kisah juru kunci legendaris?
Semua itu benar. Namun, ada satu hal yang kerap luput disebutkan.
Di balik status siaga dan erupsinya, Gunung Merapi menyimpan keindahan bagi siapa pun yang ingin menguliknya lebih jauh. Keindahan itu hadir lewat para penghuni setia kawasan Merapi, satwa-satwa liar yang hidup dengan lanskap vulkanik yang dinamis.
Mengintip Para Penghuni
Di balik rimbunnya pepohonan dan sunyinya hutan, tersembunyi pesona fauna Nusantara yang sayang jika diabaikan. Sesekali, mereka menemani langkah para pendaki yang singgah sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Siapakah mereka? Yuk, kita berkenalan!
Anis Gunung (Turdus poliocephalus)
Burung ini dikenal ramah dan gemar bernyanyi. Ia sering dijumpai di jalur pendakian, melompat beberapa langkah, berhenti sejenak, lalu melanjutkan lompatannya, seolah menuntun para pendaki.
Sebagian orang percaya, anis gunung tidak boleh diganggu. Mereka yang mengusiknya akan tertimpa kesialan atau musibah.
Di Gunung Merapi, anis gunung dapat dijumpai di sepanjang jalur pendakian Selo hingga mendekati Pasar Bubrah, serta di bekas jalur pendakian Kinahrejo.
Habitatnya berupa semak belukar pegunungan, dan ia akan keluar ke area terbuka saat suasana relatif tenang.
Saat ini, anis gunung berstatus berisiko rendah (least concern) menurut IUCN. Meski demikian, degradasi habitat yang terus terjadi tetap menjadi ancaman jangka panjang bagi keberadaannya.
Paruh Kodok (Batrachostomus javensis)
Dengan paruh lebar menyerupai mulut kodok, burung ini lebih sering beristirahat di dahan pohon rendah pada siang hari. Warna bulunya yang cokelat keabuan berbintik atau merah bata membuatnya sangat piawai berkamuflase menyerupai cabang pohon.
Paruh kodok merupakan satwa nokturnal. Ia aktif berburu serangga pada malam hari, memanfaatkan paruh lebarnya untuk menangkap mangsa di dekatnya.
Di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, burung ini dapat ditemui di wilayah Tegalmulyo (Klaten), Ngargomulyo (Magelang), Bukit Plawangan, dan Bukit Turgo (Sleman).
Menurut IUCN, status konservasinya masih berisiko rendah (least concern). Namun, keberadaannya kini semakin jarang dijumpai sehingga memerlukan penelitian lanjutan.
Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)
(Dok: yiari.or.id)
Lutung jawa memiliki tubuh berwarna hitam pekat dengan perut besar yang menggelambir, tanpa kantung makanan di pipi. Primata ini menyukai bunga, buah, serta pucuk dedaunan sebagai sumber pakan utamanya.
Hidup dalam kelompok kecil, lutung jawa termasuk satwa arboreal yang menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon. Ia bergerak dengan melompat dari satu cabang ke cabang lain menggunakan keempat tungkainya secara bersamaan (quadrupedal).
Dalam sistem sosialnya yang kooperatif, seekor betina hanya melahirkan satu anak. Anak tersebut diasuh secara bergantian oleh betina lain dalam kelompok yang sama. Sebaliknya, kelompok ini akan bersikap agresif terhadap betina dari kelompok lain.
Lutung jawa merupakan satwa dilindungi dan tercantum dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2018. Menurut IUCN, status konservasinya adalah rentan (vulnerable).
Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)
Elang jawa merupakan satwa yang kerap disebut sebagai representasi burung garuda, lambang negara Indonesia.
Sebagai pemangsa puncak, elang jawa umumnya menghuni kawasan lereng berhutan di pegunungan Pulau Jawa hingga ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut.
Menurut IUCN, elang jawa berstatus terancam (endangered) dan dilindungi melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.
Satwa ini membangun sarang di pohon-pohon tinggi, sehingga deforestasi menjadi ancaman utama kelestariannya. Selain itu, elang jawa betina hanya bertelur satu butir dalam satu periode reproduksi.
Mangsa utamanya meliputi hewan kecil seperti tupai, kelelawar, luwak, hingga anak monyet. Di Gunung Merapi, elang jawa kerap terlihat terbang berputar dari lereng selatan hingga lereng timur.
Poksai Kuda (Garrulax rufifrons)
Poksai kuda memiliki bulu cokelat keabuan dengan mata oranye pucat dan bercak cokelat berangan gelap di dahi. Sayap dan ekornya dihiasi sapuan merah karat yang lebih cerah.
Meski tampak kusam, kicauan burung ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar burung kicau. Suaranya berupa nada melengking panjang yang menurun, diselingi panggilan tajam. Keindahan suara inilah yang membuatnya rentan diburu.
Berdasarkan asesmen terbaru IUCN pada 2024, poksai kuda berstatus terancam (endangered), setelah sebelumnya berstatus sangat terancam punah(cirtically endangered) pada 2018.
Nah, sekarang sudah tahu, kan?
Di balik citra Gunung Merapi yang sarat misteri dan ancaman bencana, tersimpan kekayaan fauna Nusantara dengan segala pesonanya.
Tertarik mengamati para penghuni liar Gunung Merapi di habitat alaminya?














