Edukasi

Mengenal Sanca Timor, Penghuni Nusa Tenggara yang Terancam Punah

01/07/2026|Arzha Ali Rahmat
Ular sanca timor Malayopython timoriensis satwa endemik Nusa Tenggara Foto Tylwyth EldarWikimedia Commons - Mengenal Sanc...

Ular sanca timor (Malayopython timoriensis) satwa endemik Nusa Tenggara | Foto: Tylwyth Eldar.Wikimedia Commons

Gardaanimalia.com - Indonesia menjadi rumah bagi puluhan spesies sanca, salah satunya adalah sanca timor (Malayopython timoriensis). Ia merupakan satwa endemik Indonesia yang terbilang cukup underrated. Sebab, banyak yang kurang kenal dengan satwa ini, pamornya selalu kalah dari spesies lain seperti sanca kembang dan sanca bodo. 

Meski begitu, sanca timor bukan ular yang bisa diremehkan. Jika diulik lebih dalam, reptil tersebut memiliki segudang hal unik yang tercermin dari kebiasaan, makanan, hingga hubungannya dengan manusia. Yuk, kita ulik semua hal tersebut agar kamu makin mengenal sanca timor!

Ciri Fisik dan Ukuran Sanca Timor 

Mengutip dk pythons, panjang rata-rata sanca timor sekitar 1.5-2 meter. Namun, di kasus ekstrem ular ini juga bisa tumbuh hingga sepanjang 3 meter. Bobot maksimalnya juga tak bisa diremehkan, yaitu berada di angka 13 pounds atau sekitar 5.9 kilogram. 

Secara umum tubuh sanca timor didominasi dua warna, yaitu cokelat dan kuning keemasan. Warna cokelat terlihat di bagian atas tubuh, tepatnya pada corak kotak, garis, atau pola acak yang menyelimuti tubuhnya dari kepala hingga ekor. 

Di sisi lain, warna kuning yang lebih cerah terlihat di samping tubuh hingga perut. Perpaduan corak dan warna tersebut bisa digunakan untuk berkamuflase dengan sempurna, khususnya di pepohonan, semak-semak, dan dedaunan kering. 

Tidak seperti spesies sanca lain yang agak gemuk, sanca timor punya tubuh yang ramping dan memanjang. Namun, ototnya tetap kuat dan sangat ideal untuk memanjat pepohonan tinggi.  

Sanca Timor Berkerabat Dekat dengan Sanca Kembang 

Sanca timor masuk ke genus Malayopython. Nah, genus tersebut sering disebut sebagai malay python atau sanca malaya. Jika melihat taksonominya, maka sanca timor hanya memiliki satu kerabat dekat, yaitu sanca kembang (Malayopython reticulatus). Menariknya, sebelum masuk ke genus Malayopython sanca timor pernah diklasifikasikan ke genus lain seperti Python, Liasis, dan Broghammerus. Barulah pada 2014 sanca timor secara resmi diklasifikasikan ke genus Malayopython bersama dengan sanca kembang.

Wilayah Penyebaran dan Habitat Sanca Timor 

Jika dibandingkan dengan spesies lain, sanca timor memiliki penyebaran yang sangat sempit. Dilansir dari The Reptile Database, ular ini hanya bisa ditemukan di Kepulauan Nusa Tenggara, tepatnya di Pulau Lomblen dan Flores. Di sisi lain, kehadirannya di Pulau Timor masih menjadi tanda tanya. Habitat utama sanca timor adalah hutan dengan pepohonan lebat. Ia kerap bertengger di ranting pohon, bersembunyi di semak-semak, atau bersantai di lantai hutan. Selain itu, area bebatuan, daerah lembap seperti hutan hujan tropis, dan rerumputan juga menjadi habitat reptil ini.

Kebiasaan dan Makanan Sanca Timor 

Sanca timor merupakan hewan semi-arboreal yang menghabiskan banyak waktu di atas pohon, memiliki sifat pemalu, dan selalu waspada. Ular ini tidak agresif dan sebisa mungkin akan menghindari kontak fisik dengan manusia. 

Sanca timor juga jarang beraktivitas pada siang hari. Sebaliknya, ia sangat aktif untuk berburu setelah matahari terbenam. Artinya, ular ini adalah hewan nokturnal. Soal makanan, sanca timor termasuk kategori karnivor (pemakan daging). 

Makanannya mencakup berbagai hewan kecil hingga menengah seperti burung, tikus, dan celurut yang biasanya mudah dijumpai di pepohonan. Hewan ini mengandalkan strategi penyergapan (ambush) ketika berburu. Jadi, sanca timor akan berdiam diri sembari berkamuflase. Setelah mangsa mendekat, barulah ia akan menyergap dan melilitnya sekuat tenaga. Lilitan tersebut mampu meremukkan tulang, membuat mangsa mati kehabisan nafas, dan akhirnya sanca timor bisa menelannya bulat-bulat.

Hubungan Sanca Timor dengan Manusia dan Status Konservasinya 

Sanca timor termasuk ular tak berbisa yang tidak berbahaya bagi manusia. Di alam liar dan penangkaran ular ini juga tergolong tenang. Beberapa sumber juga menjelaskan, sanca timor tidak akan menggigit manusia, bahkan jika disentuh sekalipun. Hingga kini juga tak ada catatan resmi terkait serangan sanca timor terhadap manusia. Data terkait konflik sanca timor dengan manusia juga tidak ada. 

Hal tersebut mengisyaratkan bahwa sanca timor bisa hidup berdampingan dengan manusia. Namun, keharmonisan tersebut tak menjamin sanca timor bisa hidup tenang. Sebaliknya, ia merupakan hewan terancam punah yang populasinya terus menurun. Berdasarkan data IUCN Red List, sanca timur masuk ke kategori vulnerable atau rentan. Ia juga dihantui oleh beberapa ancaman, seperti kerusakan habitat, industrialisasi, perburuan  hewan terestrial, dan aktivitas perkebunan. 

Jika mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, sanca timor termasuk hewan yang dilindungi oleh pemerintah. Karena itu, masyarakat dilarang untuk menangkap, memperdagangkan, memiliki, atau membunuhnya. 

Nama sanca timor mungkin masih asing di telinga kebanyakan orang. Namun, bukan berarti ular tersebut bisa dipandang sebelah mata. Setelah mengenal sanca timor lebih dalam, justru kamu harus sadar bahwa hewan tersebut wajib dilindungi dan dijaga. Jika bukan kita yang melindunginya, maka siapa lagi?