Gardaanimalia.com - Di tengah lebatnya hutan hujan tropis Sumatera bagian utara, seekor primata dengan penampilan tak biasa bergelantungan di antara kanopi pohon. Rambutnya berdiri tegak di bagian kepala, layaknya model mohawk. Tak lupa dengan corak hitam-putih mencolok di wajah dan tubuh hingga menjadikannya sebagai salah satu primata paling mudah dikenali di Asia Tenggara.
Mengenal si Rambut Mohawk
Penampilan khas dengan warna wajah yang unik membuat monyet daun thomas mudah dikenali daripada primata lainnya. Bagian atas tubuhnya berwarna abu-abu kehitaman, sementara perut, dada, dan wajahnya berwarna putih. Rambut yang berdiri tegak di mahkota kepala inilah yang membuatnya mendapat julukan “si rambut mohawk”.
Tubuh dewasanya dapat mencapai panjang sekitar 42-61 sentimeter, dengan ekor yang dapat melebihi panjang tubuhnya sendiri. Di alam liar, primata ini dapat hidup hingga 20 tahun, sedangkan di penangkaran mereka dapat hidup hingga 29 tahun.
Monyet daun thomas (Presbytis thomasi), dikenal juga sebagai Thomas’s Langur atau North Sumatran Leaf Monkey merupakan satwa endemik yang hanya dapat dijumpai di wilayah Sumatera bagian utara.
Dalam bahasa lokal, ia sering disebut sebagai reungkah atau kedih. Populasi terbesar monyet daun thomas berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, khususnya di sekitar Ketambe dan Bukit Lawang, serta di daerah pedalaman hutan di barat laut Sungai Wampu dan di utara Sungai Alas.
Spesies ini dapat mendiami berbagai tipe habitat, termasuk hutan dataran rendah, hutan rawa, dan hutan aluvial dataran rendah, hingga beberapa area perkebunan karet.
Kemampuan adaptasi di berbagai tipe habitat menjadi salah satu keunggulan ekologis sekaligus hambatan bagi para pengamat dalam menentukan perkiraan wilayah jelajahnya.
Apakah Monyet Daun hanya Mengonsumsi Daun?
Meskipun memiliki nama “monyet daun”, ia tidak serta merta mengonsumsi 100 persen dedaunan. Penelitian menemukan bahwa buah-buahan justru mendominasi lebih dari 50 persen diet mereka, terutama buah yang belum matang dengan kandungan pH tinggi.
Pemilihan buah muda tersebut bermanfaat dalam menjaga keseimbangan mikroba di perut yang vital untuk mencerna selulosa dari daun. Buah yang terlalu manis justru dapat mengganggu ekosistem mikrobial di saluran pencernaan mereka.
Selain daun dan buah, ia juga mengonsumsi bunga, biji-bijian, dan terkadang makanan tak terduga, seperti jamur liar, siput, bahkan batang kelapa.
Di area yang terfragmentasi, mereka terpaksa beradaptasi dengan tanaman pertanian sehingga kerap berkonflik dengan manusia.
Struktur Sosial yang Unik
Kehidupan sosial monyet daun thomas terorganisir dalam dua jenis kelompok utara, yaitu kelompok biseksual yang terdiri dari 3-21 individu (rata-rata 8 ekor), dengan satu jantan dewasa dominan dan beberapa betina beserta anak-anaknya, serta kelompok jantan saja (all-male group), berisi para jantan yang belum memiliki kelompok sendiri.
Namun, di dalam kelompok tersebut terdapat hierarki dominasi dan persaingan yang sangat intens. Persaingan antar jantan untuk mendapatkan akses ke kelompok betina bahkan dapat menimbulkan kematian. Pembunuhan bayi oleh pejantan yang datang menjadi ancaman yang telah didokumentasikan.
Perilaku ini tampaknya menjadi hal yang sangat penting bagi Presbytis thomasi untuk mengamankan dominasi mereka dalam kelompok. Oleh karena itu, seringkali seekor betina meninggalkan kelompoknya untuk melindungi anaknya dari pembunuhan bayi.
Status Konservasi: Rentan, tetapi Terlupakan
Berdasarkan penilaian oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) pada 2015, monyet daun thomas dikategorikan sebagai rentan (vulnerable) dengan populasi yang diperkirakan telah menurun sebanyak 30 persen dalam beberapa dekade terakhir.
Beberapa ancaman utama yang menyebabkan populasi primata ini menurun ialah masifnya deforestasi, kebakaran hutan, perburuan liar, perdagangan satwa liar, hingga konflik antara manusia dan satwa.
Perlindungan efektif terhadap monyet daun thomas tidak bisa dipisahkan dari ekosistem hutan Sumatera secara keseluruhan.
Taman Nasional Gunung Leuser menjadi benteng pertahanan paling penting bagi kelangsungan hidup spesies ini, bersamaan dengan kawasan penyangga di sekitarnya.
Sejak 2018 pula, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia telah menetapkan Presbytis thomasi (lutung kedih) sebagai janis satwa yang dilindungi. Langkah tersebut tertuang dengan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 yang berisikan tentang daftar 904 jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.
Satwa dari famili Cercopithecidae ini adalah simbol keanekaragaman hayati Sumatera yang semakin menghilang. Edukasi masyarakat dan program pemberdayaan komunitas lokal menjadi kunci untuk mengurangi konflik dan meningkatkan toleransi terhadap satwa ini.
















