Edukasi

Burung sebagai Pengendali Hama Alami di Ekosistem Pertanian

02/07/2026|Zidan Raihan Rafi
Serak jawa Tyto alba memangsa tikus Foto Joaquim Coelhoflickrcom - Burung sebagai Pengendali Hama Alami di Ekosistem Pert...

Serak jawa (Tyto alba) memangsa tikus. | Foto: Joaquim Coelho/flickr.com

Gardaanimalia.comBurung, sebagaimana satwa liar lainnya, memiliki jasa ekosistem yang penting bagi lingkungan tempat mereka hidup. Salah satu ekosistem yang terdampak akan kehadiran burung adalah ekosistem pertanian. Pada ekosistem pertanian jasa ekosistem yang terkadang suka terlupakan adalah peran burung sebagai pengendali hama alami 

Burung Sebagai Pengendali Hama Alami 

Burung pemakan serangga (insektivora) di seluruh dunia diperkirakan mengonsumsi sekitar 400–500 juta ton serangga setiap tahunnya1Sebanyak 75 persen dari total konsumsi tersebut, atau sekitar 300 juta ton per tahun, berasal dari burung insektivora yang hidup di hutan. Sementara itu, sisanya berasal dari ekosistem padang rumput (grassland), sabana (savanna), semak belukar mediterania (Mediterranean shrubland), lahan pertanian (cropland), dan tundra Arktik (Arctic tundra). 

Adapun ekosistem pertanian sendiri menyumbang sekitar 7 persen dari total konsumsi, atau kurang lebih 28 juta ton serangga per tahun. Burung sebagai predator alami serangga secara tidak langsung juga berperan penting dalam mengendalikan hama pada ekosistem pertanian, perkebunan, dan habitat sejenisnya. 

Salah satu contoh peran burung sebagai pengendali hama alami ditunjukkan dalam penelitian disertasi yang dilakukan oleh Dimas Haryo Pradana, doktor dari FMIPA Uiversitas Indonesia. 

Penelitian tersebut menunjukkan, burung bubut besar (Centropus sinensis) merupakan salah satu predator alami ulat api, yaitu hama yang umum ditemukan pada lahan perkebunan kelapa sawit monokultur di wilayah Pulau Rupat, Riau, dan Kalimantan. 

Contoh lain spesies burung yang berperan sebagai predator alami di ekosistem pertanian adalah burung kacamata laut (Zosterops chloris).

Dijelaskan dari sekitar 50 jenis burung insektivora yang dijumpai di perkebunan kakao terbesar di Indonesia yang berlokasi di Sulawesi Tengah, burung kacamata laut merupakan spesies dengan populasi paling melimpah 2

Burung ini juga diketahui berperan sebagai predator alami bagi berbagai serangga hama yang umum ditemukan di perkebunan kakao tersebut. 

Burung lainnya yang juga sering dipakai sebagai pengendali hama alami adalah burung serak jawa (Tyto alba). Penelitian yang dilakukan oleh Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yudhistira Nugraha, mengatakan bahwa burung hantu serak jawa memiliki kemampuan memangsa tikus dalam jumlah signifikan di alam terbuka. 

Seekor burung hantu dewasa mampu memakan beberapa ekor tikus per malam. Hal inilah yang membuat mereka dipilih sebagai predator alami tikus sawah dan menjaga populasi tikus di ekosistem pertanian.

Peran burung hantu serak jawa sebagai pengendali populasi tikus tidak hanya berdampak secara ekologis saja, tapi juga secara ekonomis.

Berdasarkan penelitian tesis yang dilakukan Ferril Muhammad,  penggunaan burung hantu serak jawa yang cukup efektif dalam mengendalikan populasi tikus sawah membuat para petani lebih hemat dan tidak perlu menggunakan metode pengendalian tikus lainnya seperti rodentisida pada beberapa area sawah yang ada di Kabupaten Jember, Jawa Timur 3

Dalam penelitian tersebut juga menemukan kehadiran burung hantu serak jawa sebagai pengendali hama tikus yang efektif juga meminimalisir kerugian yang diakibatkan daya rusak tikus yang ada di area sawah. Bahkan penelitian tersebut juga berkurangnya populasi tikus ini membuat rata-rata hasil panen meningkat sebesar 1,02 ton gabah kering giling (GKP). 

Melihat berbagai contoh yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa burung memiliki peranan penting dalam mengendalikan populasi hama di ekosistem pertanian dan perkebunan. 

Penurunan Populasi, Ancaman Untuk Ekosistem

Penurunan populasi burung di suatu ekosistem dapat berdampak langsung terhadap meningkatnya populasi serangga hama. Salah satu contoh yang sering dikutip adalah kampanye pembasmian burung gereja yang terjadi di Tiongkok pada akhir 1950-an. Shaoda Wang, asisten profesor dari University of Chicago, dalam artikel ilmiahnya di VoxDev menjelaskan bahwa kampanye politik Tiongkok untuk membasmi burung gereja pada tahun 1958 menyebabkan penurunan hasil panen padi sekitar 8–9 persen. 

Penurunan tersebut terjadi akibat hilangnya peran burung sebagai pengontrol alami populasi serangga hama pertanian. Indonesia juga memiliki penelitian yang membahas dampak hilangnya burung terhadap ekosistem pertanian. 

Di perkebunan kakao Sulawesi Tengah menemukan bahwa hilangnya burung dan kelelawar sebagai pengendali alami hama dapat menyebabkan penurunan hasil panen hingga 31 persen 4

Dampak ekonomi dari kehilangan kedua kelompok satwa tersebut diperkirakan setara dengan sekitar USD 730 atau Rp8,6 juta per hektare per tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan burung dan kelelawar sebagai musuh alami serangga hama memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi sistem perkebunan. 

Dengan demikian, keberadaan burung tidak hanya penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga memiliki kontribusi nyata terhadap keberlanjutan sektor pertanian dan perkebunan. 

Peran burung sebagai predator alami serangga membantu menekan populasi hama secara alami sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia yang berpotensi merusak lingkungan. 

Berbagai penelitian yang telah dipaparkan menunjukkan bahwa menurunnya populasi burung dapat berdampak langsung terhadap penurunan produktivitas pertanian. Oleh karena itu, upaya pelestarian burung dan habitat alaminya perlu menjadi perhatian bersama, baik oleh pemerintah, peneliti, maupun masyarakat, demi menjaga stabilitas ekosistem dan ketahanan pangan di masa mendatang. 


1 Nyffeler M, Şekercioğlu ÇH, Whelan CJ. 2018. Insectivorous birds consume an estimated 400 – 500 million tons of prey annually. Sci Nat. 105(47):1–13. doi:10.1007/s00114-018-1571-z. Insectivorous birds consume an estimated 400–500 million tons of prey annually | The Science of Nature | Springer Nature Link
2 Maas B, Tscharntke T, Tjoa A, Saleh S, Edy N, Anshary A, Mahfudz, Basir M. 2018. Dampak Jasa Ekosistem yang Diberikan oleh Burung dan Kelelawar di Kebun Kakao Rakyat di Sulawesi Tengah. Gőttingen: Göttingen University Press. Effects of ecosystem services provided by birds and bats in smallholder cacao plantations of Central Sulawesi
3 Nur FM. 2023. Keefektivan pengendalian tikus sawah (Rattus argentiventer rob. & klo.) menggunakan burung hantu (Tyto alba sco.) di Kabupaten Jember [tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Keefektivan Pengendalian Tikus Sawah (Rattus argentiventer Rob. & Klo.) Menggunakan Burung Hantu (Tyto alba Sco.) di Kabupaten Jember
4 Maas B, Tscharntke T, Tjoa A, Saleh S, Edy N, Anshary A, Mahfudz, Basir M. 2018. Dampak Jasa Ekosistem yang Diberikan oleh Burung dan Kelelawar di Kebun Kakao Rakyat di Sulawesi Tengah. Gőttingen: Göttingen University Press. Effects of ecosystem services provided by birds and bats in smallholder cacao plantations of Central Sulawesi