Indonesia Jadi Episentrum Ancaman Kepunahan Antroposen

Indonesia Jadi Episentrum Ancaman Kepunahan Antroposen
Ilustrasi satwa liar di Indonesia yang terancam punah. Foto: Berbagai Sumber

Gardaanimalia.com – Sekitar 66 juta tahun yang lalu, asteroid berdiameter 15 km menumbuk Bumi di lokasi yang saat ini menjadi Kawah Chicxulub di Semenanjung Yucatan, Meksiko. Tumbukan ini menjadi penyebab dari punahnya tiga perempat spesies hewan dan tumbuhan, termasuk di antaranya dinosaurus. Peristiwa ini, bersama dengan empat peristiwa sebelumnya, dikenal sebagai peristiwa kepunahan massal (mass extinction event) di mana biodiversitas Bumi turun secara signifikan pada waktu yang sangat singkat. Ilmuwan percaya, saat ini kita sedang berada pada kepunahan massal yang keenam.

Kepunahan massal yang keenam disebut juga sebagai kepunahan Antroposen (Anthropocene extinction) karena penyebab utamanya yang berasal dari aktivitas manusia (antropogenik). Ilmuwan memperkirakan bahwa laju kepunahan saat ini lebih cepat 100 hingga 1000 kali lipat dibandingkan dengan laju kepunahan normal (Gambar 1).[1]Ripple, W.J., Wolf, C., Newsome, T.M., Galetti, M., Alamgir, M., Crist, E., Mahmoud, M.I. Laurance, W.F. 2017. “World Scientists’ Warning to Humanity: A Second Notice”. BioScience. 67(12): … Continue reading

Indonesia Jadi Episentrum Ancaman Kepunahan Antroposen
Gambar 1. Laju kepunahan spesies hewan sebelum 1900 (biru) dan pasca 1900 (merah). Dibandingkan dengan laju normal (background rate), laju kepunahan organisme mencapai 1000 kali lipat lebih tinggi (sumber gambar: Our World in Data, 2021).

Laporan Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services tahun 2019 memperkirakan terdapat satu juta spesies hewan dan tumbuhan yang saat ini terancam punah, banyak dalam kurun waktu yang sangat dekat.[2]Staf. 2019. “Media Release: Nature’s Dangerous Decline ‘Unprecedented’; Species Extinction Rates ‘Accelerating’”. Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem … Continue reading Jika laju ini tidak dihentikan, 50% dari seluruh spesies hewan dan tumbuhan kompleks di muka Bumi akan punah pada tahun 2100.[3]Wilson, E.O. 2002. The Future of Life. Knopf: New York. 229 hal.

Ilmuwan sudah tidak meragukan kalau aktivitas manusia adalah faktor utama dari kepunahan Antroposen ini. Setidaknya ada tiga hal yang menjadi penyebabnya, yaitu perburuan berlebihan, penggunaan lahan yang tidak seimbang, dan pemanasan global.

Perburuan Berlebihan

Dalam ekosistem, manusia punya posisi yang unik dan berbahaya sebagai “unsustainable global super predator”.[4]Darimont, C.T., Fox, C.H., Bryan, H.M., Reimchen, T.E. 2015. “The unique ecology of human predators”. Science. 349(6250): 858-860. DOI: 10.1126/science.aac4249 Karena teknologi yang dimilikinya, manusia menjadi predator puncak pada skala global yang mengancam populasi hewan dan tumbuhan di seluruh dunia. Selain itu, manusia memburu hewan dewasa dengan jumlah yang jauh lebih tinggi ketimbang predator lain. Karena jumlah hewan dewasa turun signifikan, banyak spesies tidak bisa bereproduksi dan mempertahankan populasinya. Karena itulah perburuan oleh manusia disebut unsustainable.

Hal ini bisa dilihat pada kasus overfishing, yaitu aktivitas penangkapan ikan berlebihan hingga banyak spesies ikan tidak bisa lagi mempertahankan populasinya lewat reproduksi alami.[5]Coll, M., Libralato, S., Tudela, S., Palomera, I., Pranovi, F. 2008. “Ecosystem Overfishing in the Ocean”. PLoS ONE. 3(12): e3881. DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0003881 Overfishing tidak hanya mengancam spesies tertentu, tapi seluruh ekosistem laut. Metode penangkapan yang destruktif seperti penggunaan cantrang dan bahan peledak melenyapkan seluruh habitat di sekitarnya. Selain itu, overfishing yang terjadi pada predator puncak seperti hiu dan tuna menyebabkan ketidakstabilan seluruh sistem jaring-jaring makanan.

Penggunaan Lahan

Pengalihfungsian daerah alami semakin meradang terjadi dan semakin banyak hewan liar yang kehilangan habitatnya. Saat ini, lahan yang dipakai untuk kegiatan agrikultur (50%) jauh lebih tinggi dibandingkan dengan total tutupan hutan (37%).[6]Ritchie, H., dan Roser, M. 2013. “Land Use”. Our World in Data. Diakses dari https://ourworldindata.org/land-use#citation pada 23 Agustus 2021. Bahkan, sebuah penelitian menunjukkan hanya 3% dari seluruh habitat daratan di muka Bumi yang masih benar-benar tidak tersentuh oleh aktivitas manusia.[7]Plumptre, A.J., Baisero, D., Belote, R.T., Várquez-Dominguez, E., Faurby, S., Jedrzejewski, W., Kiara, H., Kühl, H., Benitez-López, A., Luna-Aranguré, C., Voigt, M., Wich, S., Wint, W., … Continue reading Luasan ini hanya sedikit lebih besar dari luas daratan Indonesia.

Baca juga: Alasan Mengapa Tiong Nias Tak Boleh Punah

Pergeseran fungsi lahan ini membawa ketidakstabilan biomassa di muka Bumi. Dari seluruh mamalia yang ada di darat, 60% merupakan hewan ternak (0,1 Gigaton karbon), 36% merupakan manusia (0,06 Gigaton karbon), sedangkan mamalia liar hanya mengisi sisa 4%-nya (0,007 Gigaton karbon) (Gambar 2). Selain itu, dari seluruh burung yang ada di dunia, 70% merupakan unggas ternak sedangkan hanya 30% yang merupakan burung liar.[8]Bar-on, Y.M., Phillips, R., Milo, R. 2018. “The biomass distribution on Earth”. PNAS. 115(25): 6506-6511. DOI: https://doi.org/10.1073/pnas.1711842115[9]Carrington, D. 2018. “Humans just 0.01% of all life but have destroyed 83% of wild mammals—study”. The Guardian. Diakses dari … Continue reading Perbandingan jumlah ini semakin tidak berimbang dengan persentase hewan liar yang semakin menurun drastis.

Indonesia Jadi Episentrum Ancaman Kepunahan Antroposen
Gambar 2. Perbandingan biomassa makhluk hidup yang ada di Bumi. Pada gambar B, dapat dilihat bahwa hewan ternak (livestock) dan manusia memiliki biomassa yang lebih tinggi dibandingkan dengan hewan liar. Mereka bertiga berturut-turut menyumbang biomassa sebesar 0,1 Gt karbon, 0,06 Gt karbon, dan 0,007 Gt karbon (sumber gambar: Bar-on dkk., 2018).

Pemanasan Global

Saat ini, pemanasan global merupakan ancaman terkuat dan penyebab utama dari kepunahan Antroposen, melampaui perburuan berlebihan dan penggunaan lahan.[10]Hansen, J., Khareca, P., Sato, M., Masson-Delmotte, V., Ackerman, F., Beerling, D.J., Hearty, P.J., Hoegh-Guldberg, O., Hsu, S., Parmesan, C., Rockstrom, J., Rohling, E.J., Sachs, J., Smith, P., … Continue reading Pemanasan global terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca seperti karbondioksida (CO2) dan metana (CH4) di atmosfer yang disebabkan oleh aktivitas manusia, khususnya di bidang industri. Suhu Bumi yang meningkat mengakibatkan es kutub mencair dan menyusutnya habitat alami bagi hewan-hewan darat (Gambar 3). Di laut, tingginya suhu air dapat meningkatkan keasaman dan menurunkan kadar oksigen, membuat air laut beracun bagi organisme yang hidup di dalamnya.[11]Turley, C., Keizer, T., Williamson, P., Gattuso, J-P., Ziveri, P., Monroe, R., Boot, K., Huelsenbeck, M. 2013. Hot, Sour and Breathless—Ocean under stress. Plymouth Marine Laboratory, UK Ocean … Continue reading

Indonesia Jadi Episentrum Ancaman Kepunahan Antroposen
Gambar 3. Kenaikan muka air laut rata-rata dari tahun 1880-2020. Dapat dilihat jika muka air laut terus menerus naik secara konsisten hingga mencapai tinggi 10 inci (25 cm) dari keadaan normal di tahun 1880 (sumber gambar: U.S. Environmental Protection Agency, 2021).

Pemanasan global juga memicu bencana-bencana ekologi skala masif. Tiga miliar hewan terbunuh atau terluka karena kebakaran hutan Australia di awal tahun 2020 lalu.[12]2020. “New WWF report: 3 billion animals impacted by Australia’s bushfire crisis”. World Wildlife Fund. Diakses dari … Continue reading

Pada Juli 2021, gelombang panas diperkirakan membunuh lebih dari satu miliar organisme laut di sekitar pesisir barat Kanada.[13]Yurk, V., 2021. “Pacific Northwest Heat Wave Killed More Than One Billion Sea Creatures”. Scientific American. Diakses dari … Continue reading Dari dua kejadian ini saja, empat miliar organisme sudah terbunuh atau terluka sebagai dampak tidak langsung pemanasan global, jumlah yang setara dengan setengah populasi manusia di dunia.

BACA JUGA:
Kekah Natuna, Terkenal sebagai Primata Pemalu dan Berkacamata

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia merupakan habitat paling beragam di dunia bersama dengan Brazil.[14]“Indonesia Biodiversity Facts”. Convention on Biological Diversity. Diakses dari https://www.cbd.int/countries/profile/?country=idpada 23 Agustus 2021. Dengan hanya mencakup 1% dari seluruh daratan di Bumi, Indonesia memiliki 10% dari seluruh spesies tumbuhan, 12% dari seluruh spesies mamalia, dan 17% dari seluruh spesies burung di dunia. Ironisnya, Indonesia juga memiliki jumlah mamalia terancam punah (135 spesies) dan burung terancam (114 spesies) terbanyak dibandingkan negara-negara lainnya (Gambar 4).[15]Staf. “Indonesia’s Rainforests: Biodiversity and Endangered Species”. Rainforest Action Network. Diakses dari https://www.ran.org/indonesia_s_rainforests_biodiversity_and_endangered_species/ … Continue reading

 

Indonesia Jadi Episentrum Ancaman Kepunahan Antroposen
Gambar 4. Beberapa mamalia dan burung endemik Indonesia yang diklasifikasikan oleh IUCN sebagai “terancam punah (critically endangered)”. Baris kiri dari atas ke bawah: badak Jawa, rusa Bawean, pesut Mahakam. Baris kanan dari atas ke bawah: kehicap Buano, jalak Bali, gagak Banggai (sumber gambar: Wikimedia).

Indonesia tidak terlepas dari tiga faktor penyebab kepunahan Antroposen. Indonesia merupakan pengekspor produk hewan liar tertinggi di Asia dan juga menjadi tempat transit untuk produk hewan yang dijual dari Afrika.[16]Schmidt, P. 2019. “A race against time: combatting the illegal trade of endangered species in Indonesia”. Global Environment Facility. Diakses dari … Continue reading Perairan Indonesia merupakan salah satu yang terancam oleh aktivitas overfishing, khususnya pada lokasi di sekitar Laut Cina Selatan dan perairan di timur Indonesia.[17]Mordhorst, K. 2021. “In Indonesia, illegal fishing hurts more than just fish”. S. Global Leadership Coalition. Diakses dari … Continue reading

Indonesia juga merupakan salah satu kontributor pemanasan global tertinggi di dunia. Bukan hanya karena industrinya, melainkan juga karena aktivitas perusakan hutan hujan secara besar-besaran.[18]“Deforestation statistics for Indonesia”. Mongabay. Diakses dari https://rainforests.mongabay.com/deforestation/archive/Indonesia.htm pada 23 Agustus 2021.

 Data dari Global Forest Watch menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan 27,7 Mha tutupan pohonnya semenjak 2001 hingga 2020 yang sepadan dengan pengurangan tutupan pohon sebesar 17% dari tahun 2000. Hilangnya hutan akibat proses deforestasi di Indonesia setara dengan penambahan 19 Gigaton emisi karbondioksida. Walaupun, kabar baiknya, tren dari deforestasi Indonesia saat ini cenderung menurun (Gambar 5).[19]2020. “Tree Cover Loss in Indonesia”. Global Forest Watch. Diakses dari https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDNpada 25 Agustus 2021.

Indonesia Jadi Episentrum Ancaman Kepunahan Antroposen
Gambar 5. Data tutupan pohon yang hilang (tree-cover lost) dari tahun 2001 hingga 2020 di Indonesia. Tutupan pohon yang hilang adalah sebesar 27,7 Mha yang sepadan dengan penurunan 17% tutupan pohon keseluruhan. Jumlah ini juga setara dengan emisi karbondioksida sebesar 19 Gigaton (sumber gambar: Global Forest Watch, 2020)

Semua ini memperlihatkan jika Indonesia tidak terhindar dari ancaman kepunahan Antroposen. Justru sebaliknya, Indonesia merupakan salah satu episentrum di mana kepunahan ini paling parah terjadi.

votes
Article Rating

Referensi[+]

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments