Indonesia Masuk Daftar Negara Eksportir Produk Satwa Liar Terbesar Dunia

Gardaanimalia.com - Perdagangan satwa liar menjadi salah satu penyebab dari hilangnya berbagai kehidupan liar. Di samping merenggut beragam spesies dari habitatnya, aktivitas ini juga mengantarkan spesies invasif dan penyakit-penyakit yang membahayakan bagi penghuni ekosistem liar. Tidak hanya itu, perdagangan ini juga menjadi pendorong penyebaran beragam virus dan/atau penyakit menular ke manusia, termasuk Covid-19 saat ini.
Sejak tahun 1975, perdagangan satwa lintas negara diatur oleh CITES (Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa Liar). Aturan ini bertujuan dan dibuat untuk menurunkan permintaan akan produk-produk kehidupan liar. Namun, banyak kritik yang menilai bahwa perjanjian internasional ini kurang efektif.
Hingga hari ini, skala perdagangan satwa liar global terbilang masih tinggi; diestimasikan dari tahun 2006 sampai 2015, 1,3 juta tumbuhan dan hewan liar, serta 2.000 ton daging hewan liar diselundupkan dari Afrika ke Asia.((Helen Briggs. (6 Mei 2021). Income inequality 'drives global wildlife trade'. BBC. https://www.bbc.com/news/science-environment-56998291)) Diperkirakan bahwa lebih dari 421 juta satwa liar telah diperdagangkan sejak tahun 2008 sampai dengan 2018.((Jia Huan Liew, Zi Yi Kho et al. (5 Mei 2021).International socioeconomic inequality drives trade patterns in the global wildlife market. Science Advances. https://advances.sciencemag.org/content/7/19/eabf7679))
Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa ada satu faktor penting dalam perdagangan satwa liar, yakni ketidaksetaraan ekonomi. Satu studi yang dilaporkan awal Mei 2021 lalu menjelaskan bagaimana pola perdagangan ini didorong oleh ketidaksetaraan ekonomi di antara negara-negara. Dengan membandingkan data dari CITES dengan data sosio-ekonomi dari berbagai negara, studi ini memaparkan bahwa perdagangan satwa liar cenderung lebih tinggi intensitasnya di antara negara yang kaya atau maju dengan negara berkembang.((Ibid.))
Baca juga: Kapitalisme Jadi Akar Kejahatan Terhadap Satwa dan Kehidupan Liar
Studi yang dipublikasikan oleh tim peneliti dari Hong Kong dan Singapura ini menunjukkan beberapa contoh yang mendukung pemaparan mereka, antara lain penjualan amfibi liar dari Madagaskar ke Amerika Serikat, dan penjualan ikan-ikan liar dari Thailand ke Hong Kong.((Helen Briggs. (6 Mei 2021). Income inequality 'drives global wildlife trade'.BBC. https://www.bbc.com/news/science-environment-56998291))
Studi yang dipublikasikan pada jurnal Science Advances ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat adalah importir satwa liar terbesar di seluruh dunia, diikuti oleh Prancis di posisi kedua dan Italia di posisi ketiga. Lalu, Indonesia, Jamaika, dan Honduras dinyatakan sebagai eksportir-eksportir satwa liar terbesar di dunia. Berdasarkan studi ini, kebanyakan satwa liar yang diperdagangkan berasal dari benua Asia dan Amerika Selatan.
Para peneliti yang terlibat dalam studi ini meminta agar negara-negara kaya memberikan bantuan finansial yang signifikan kepada negara-negara eksportir satwa liar untuk menekan perdagangan yang mengancam keanekaragaman hayati dunia ini. Mereka menyatakan bahwa negara-negara kaya harus meningkatkan upaya untuk meminimalisir perdagangan ini, mengingat mereka adalah pihak yang memegang peran sangat besar dalam aktivitas global ini.
Negara-negara kaya seharusnya ikut melindungi kekayaan satwa dan kehidupan liar negara-negara lain, bukannya merampas dan mengeksploitasinya hanya untuk keuntungan mereka sendiri. Tidak selayaknya kekayaan keanekaragaman hayati hanya dimanfaatkan untuk menunjang perdagangan dan perekonomian segelintir negara, namun juga untuk menunjang keberlangsungan hidup setiap orang di seluruh dunia.
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University Prof Ronny Rachman Noor, mengatakan saat ini Indonesia sedang menjadi sorotan dalam hal perdagangan satwa liar. Masih ada banyak pasar hewan yang memperdagangkan satwa dilindungi secara leluasa. Satwa itu dijual baik untuk kebutuhan konsumsi maupun peliharaan. Ronny menegaskan, perlunya tindakan serius untuk mempertahankan status mega biodiversity yang dimiliki Indonesia. Meski saat ini masih ada hutan, penghuninya yakni satwa liar pasti akan menghilang jika tidak ada penegakan hukum yang tegas dan serius terhadap pelaku perdagangan satwa liar.
Belum ada pos terkait

Seorang Pria Paruh Baya Ditangkap setelah Ketahuan Berdagang Penyu

Macan Dahan yang Masuk Gudang di OKU sudah Dievakuasi
![Berpacu dengan Kepunahan [3]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742879417_fd2dc5f16700a5b9fff5.jpg)
Berpacu dengan Kepunahan [3]
![Ambulans untuk Harimau Sumatera [2]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742875241_b9bd802809c6c35df99a.jpg)
Ambulans untuk Harimau Sumatera [2]
![Bisnis Cuan Berbalut Kepahlawanan [1]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742875243_39937082cc8949808434.jpg)
Bisnis Cuan Berbalut Kepahlawanan [1]

Belasan Gajah Liar Masuk Sawah, Warga Berharap ada Solusi

Dua Opsetan Tanduk Rusa Diamankan di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon

Akan Dibawa ke Pulau Jawa, 34 Burung Diamankan di Sampit

FATWA: Komodo Malas Merantau!

Petugas Gabungan Sita 72 Satwa Dilindungi di Mimika

Buntut Konflik di Riau, Harimau Masuk Boxtrap untuk DIevakuasi

Teka-Teki Keberadaan Baza Hitam si Predator Cilik

Gakkum Beroperasi, Puluhan Tengkorak Satwa Liar jadi Barang Bukti

FOTO: Perbedaan Orangutan Tapanuli dan Orangutan Sumatera

Labi-labi Ditemukan di Pulau Bawean, BKSDA: Penting untuk Terus Dijaga

Sebanyak 5 Penyu Diamankan dari Penyelundupan, 1 dalam Kondisi Stres

FATWA: Satwa yang 'Bangkit dari Kepunahan'

BKSDA Turun Tangan Pantau Harimau yang Melintasi Kebun

Lima Peniaga Kulit dan Tulang Harimau Diciduk Polisi

Bangkai Paus Terdampar di Simeulue, Evakuasi Terkendala Kondisi Pantai
