Edukasi

Jane Goodall: Pengagum Spesies Simpanse, Pengkritik Spesies Manusia

15/10/2025|Irvan Sjafari
Jane Goodall sedang berinteraksi dengan simpanse pada 2009. | Foto: Europa Press

Jane Goodall sedang berinteraksi dengan simpanse pada 2009. | Foto: Europa Press

Gardaanimalia.com - Manusia memang spesies paling intelektual yang hidup di Planet Bumi, sayangnya bukan spesies yang cerdas. Jika manusia cerdas, maka manusia tidak akan merusakrumahnya sendiri” (Bumi).

Demikian salah satu pernyataan terakhir Dr. Jane Goodall mengkritik kerusakan lingkungan yang telah terjadi di muka Bumi akibat ulah manusia dalam pidatonya di Forbes Sustainability Leaders Summit, New York, pada 24 September 2025.

Dr. Jane Goodall dikenal dunia karena mengabdikan hidupnya untuk mempelajari konservasi simpanse dan kera besar lainnya. Dia dikenal karena pernyataannya bahwa manusia dan simpanse kemungkinan memiliki nenek moyang yang sama.

Simpanse adalah spesies cerdas yang mampu memotong tongkat untuk membongkar sarang rayap. Jane membuktikan simpanse berburu, pemakan segalanya, menciptakan masyarakat yang kompleks dan begitu agresif dan berpotensi saling membunuh.

Selama lebih dari enam dekade, Jane mempelajari simpanse liar di Gombe, Tanzania. Namun, di akhir hayatnya, beliau memperluas fokus dan menjadi advokat global untuk hak asasi manusia, kesejahteraan satwa, perlindungan spesies dan lingkungan, serta berbagai isu penting lainnya.

Terlahir dengan nama Valerie Jane Morris-Goodall, Jane adalah putri sulung dari pengusaha dan pembalap mobil Mortimer Herbert Morris-Goodall dan penulis Margaret Myfanwe Joseph.

Sejak Kecil Tertarik pada Alam

Jane sangat tertarik pada satwa liar sejak kecil dan gemar membaca tentang alam.

Impiannya adalah bepergian ke Afrika, mempelajari lebih lanjut tentang satwa, dan menulis buku tentang mereka. Ia pernah bekerja sebagai pelayan untuk menabung cukup uang agar dapat pergi laut ke Kenya.

Setelahnya, dia disarankan untuk mencoba bertemu dengan ahli paleontologi ternama, Dr. Louis Leakey. Louis mempekerjakannya sebagai sekretaris di Museum Nasional di Nairobi, dan hal ini membuatnya ditawari kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Louis dan Mary Leakey di Ngarai Olduvai untuk mencari fosil.

Setelah menyaksikan kesabaran dan tekad Jane di sana, Louis memintanya untuk pergi ke Tanzania, untuk mempelajari keluarga simpanse liar di hutan Gombe.

Menengok ke belakang, Jane selalu berkata bahwa ia akan "mempelajari satwa apa pun". Ia pun merasa sangat beruntung telah diberi kesempatan untuk mempelajari kerabat terdekat manusia yang masih hidup di alam liar.

Pada 14 Juli 1960, Jane tiba di Gombe, Tanzania untuk pertama kalinya. Di sinilah ia mengembangkan pemahaman uniknya tentang perilaku simpanse.

Di Tanzania, ia mengamati kera liar lebih dekat daripada ilmuwan mana pun sebelumnya. Jane menyaksikan simpanse berpelukan dan berciuman, berebut sumber daya, bahkan menggunakan alat untuk mengumpulkan makanan, yang sebelumnya dianggap para ahli hanya dimiliki manusia.

“Sekarang kita harus mendefinisikan ulang ‘alat’, mendefinisikan ulang ‘manusia,’ atau menerima simpanse sebagai manusia,” puji Leakey tentang penemuan inovatif Jane.

Menyadari bahwa karya Jane hanya akan dianggap serius jika ia memiliki kualifikasi akademis, Louis mendorong agar Jane belajar untuk meraih gelar PhD di bidang Etologi di Newnham College, Cambridge.

Pemikiran Ulang tentang Hak Satwa karena Gagasannya

Uploaded content
Jane mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari simpanse di Tanzania. | Foto: diunduh dari akun Facebook Dr. Jane Goodall

Jane menantang gagasan bahwa simpanse adalah herbivora, dan menunjukkan bahwa mereka memakan daging, berburu, dan terlibat dalam peperangan, tambahnya.

Jane mengamati adanya kesenjangan sosial antara dua komunitas simpanse yang menyebabkan konflik selama empat tahun dan kematian semua simpanse jantan di salah satu komunitas.

Disertasi doktoral Jane, "Perilaku Simpanse yang Hidup Bebas di Cagar Alam Sungai Gombe", diselesaikan pada 1965.

Studinya yang berlangsung selama tiga bulan berkembang menjadi program penelitian luar biasa yang berlangsung selama beberapa dekade dan masih berlangsung hingga saat ini.

Gagasan bahwa simpanse dan manusia berkerabat memicu perdebatan tentang apa artinya menjadi manusia, yang menginspirasi pemikiran ulang tentang hak-hak satwa.

Dia juga melihat langsung bagaimana aktivitas manusia berkontribusi terhadap meningkatkan kematian satwa. Mulai dari perburuan liar untuk mendorong perdagangan daging satwa liar, hingga hilangnya habitat akibat deforestasi.

Semasa hidupnya, Jane telah menulis lebih dari 27 buku untuk dewasa dan anak-anak, serta tampil dalam berbagai film dokumenter dan film.

Pada 2019, National Geographic menyelenggarakan Becoming Jane, sebuah pameran keliling yang berfokus pada karya hidupnya, yang masih berlangsung di seluruh Amerika Serikat.

Publikasi terbarunya, The Book of Hope: A Survival Guide for Trying Times, telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 20 bahasa.

Dorong Generasi Muda Pahami Konservasi dan Kemanusiaan

Uploaded content
Jane Goodall meninggal dunia pada 1 Oktober 2025 di usia 91 tahun. | Foto: diunduh dari akun Facebook Dr. Jane Goodall

Jane sangat antusias untuk memberdayakan kaum muda agar terlibat dalam proyek konservasi dan kemanusiaan.

Ia juga mendirikan Jane Goodall Institute pada 1977 untuk membantu mendukung penelitian lebih lanjut di wilayah tersebut dan melindungi habitat simpanse.

Dirinya ingin generasi muda memahami keyakinannya yang kuat akan pentingnya menghormati semua bentuk kehidupan di Bumi.

Pada tahun 1991, Jane mendirikan Roots & Shoots, program kemanusiaan dan lingkungan globalnya untuk kaum muda dari segala usia. Inisiatif ini dimulai hanya dengan 12 siswa sekolah menengah atas di Dar es Salaam. Kini, Roots & Shoots aktif di lebih dari 75 negara.

Anggota Roots & Shoots diberdayakan untuk terlibat dalam program-program langsung guna menciptakan perubahan positif bagi satwa, lingkungan, dan komunitas lokal mereka.

Pada 2017, Jane mendirikan Jane Goodall Legacy Foundation, untuk memastikan keberlanjutan program-program inti yang telah ia ciptakan–karya hidupnya.

Ia tetap aktif hingga beberapa hari sebelum kematiannya, mengikuti tur pidato di Amerika Serikat, dan berkeliling dunia untuk membahas kehidupan dan kampanyenya untuk lebih memahami dunia alami.

Berkat dedikasinya, Jane meraih gelar Dame Commander of the Order of the British Empire (DBE) di Istana Buckingham pada 20024 dan dianugerahi Medal of Freedom oleh Presiden Joe Biden pada awal 2025, serta banyak penghargaan lain.

Jane telah memberikan tentang satwa liar hingga satwa liar dan statusnya sebagai pahlawan di antara sesama naturalis.

Hal menarik yang diungkapkan Jane tentang kemiripan manusia dan kera (dalam hal ini simpanse) menjadi tema dalam film fiksi ilmiah The Planet Of Apes, tentang kera yang menjadi cerdas dan menggulingkan manusia dari tahta spesies tertinggi.

Jane Goodall menanggapi hal ini dengan mengatakan, ”Saya pikir serial Planet of the Apes membuat orang berpikir tentang kera dan mungkin hubungan kita dengan mereka. Dan apa pun yang membuat kita berpikir tentang kemanusiaan kita sendiri dalam kaitannya dengan kerajaan satwa lainnya itu penting. Jadi, saya pikir serial ini telah membantu.”

Perempuan yang berjasa ini meninggal dunia pada 1 Oktober 2025 dalam usia 91 tahun.