Berita

Kabar Haru dari Alam Sulawesi: Taro, Bayi Tarsius Keenam yang Lahir di Pattunuang

12/02/2026|Arifa Radhiyya
Potret tarsius makassar primata endemik asal Sulawesi Selatan Foto KSDAE Kementerian Kehutanan - Kabar Haru dari Alam Sul...

Potret tarsius makassar, primata endemik asal Sulawesi Selatan. | Foto: KSDAE Kementerian Kehutanan

Gardaanimalia.com - Suaka Tarsius Makassar yang terletak di Kawasan Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), kembali menyambut anggota keluarga baru. 

Seekor bayi tarsius makassar (Tarsius fuscus) lahir pada Sabtu (7/2/2026), merupakan kelahiran keenam yang berhasil didokumentasikan di dalam kandang semi-alami suaka tersebut. 

Pengendali Ekosistem Hutan TN Babul, Aswadi Hamid, mengatakan kelahiran ini mencerminkan hasil pengelolaan habitat di dalam kandang suaka.

“Keberhasilan kelahiran ini menunjukkan stabilitas sosial dan kualitas pengelolaan habitat semi-alami yang terus dipantau secara intensif, mulai dari pengaturan pakan, struktur vegetasi, hingga minimnya gangguan terhadap perilaku alami tarsius,” jelas Aswadi, melalui rilis Kementerian Kehutanan, Selasa (10/2/2026).

Kelahiran ini juga menandai kelanjutan generasi kedua hasil program habituasi yang telah berjalan sejak 2011.

Bayi tarsius yang baru lahir tersebut kemudian diberi nama Taro, meski hingga kini jenis kelaminnya masih dalam tahap pengamatan.

Naluri Alami dan Silsilah Keluarga Taro 

Sejak hari pertama kelahiran, kondisi Taro terus dipantau oleh tim pengelola.

Secara perilaku, induk tarsius menunjukkan respons maternal yang baik. Sang induk terlihat aktif menyusui, membersihkan tubuh bayinya, serta membawa anaknya dengan cara menggigit lembut bagian tengkuk, sebagaimana perilaku alami tarsius di alam.

Kondisi fisik Taro pun terpantau stabil dengan gerakan yang aktif di bawah pengawasan induknya.

Sebagai informasi, bayi Taro lahir dari induk betina Tari yang merupakan keturunan dari induk Tara.

Sebelumnya, Tara juga tercatat melahirkan seekor anak bernama Tera pada 1 Desember 2025 lalu.

Sementara itu, pejantan dewasa dalam kelompok tersebut adalah Taru. Adapun kelompok ini telah menjalani habituasi di dalam kandang semi-alami sejak Desember 2024.

Habitat Semi-Alami yang Terkelola

Di balik pencapaian konservasi tersebut, Suaka Tarsius Makassar menerapkan pengelolaan kandang semi-alami yang dirancang menyerupai habitat aslinya. 

Kandang berukuran 24x18x6 meter ini dilengkapi vegetasi bambu dan pepohonan, serta suplai serangga hidup sebanyak 25 hingga 50 ekor per individu setiap malam guna mempertahankan perilaku nokturnal tarsius.

Pengelola Umum Operasional Suaka Tarsius Makassar, Syamsuddin, menyampaikan bahwa kelahiran keenam ini membuktikan capaian dari pengelolaan kandang semi-alami.

“Ini menunjukkan tarsius makassar dapat berkembang biak dengan baik di lingkungan yang mendukung perilaku alaminya,” ujarnya.

Populasi Tarsius di Masa Depan dan Komitmen Konservasi

Optimisme terhadap keberlanjutan populasi juga disampaikan oleh Pengendali Ekosistem Hutan TN Babul, Kamajaya Shagir.

Menurutnya, kelahiran generasi kedua menandakan proses habituasi berjalan stabil. Kondisi tersebut dinilai memperbesar peluang penguatan populasi melalui skema pelepasliaran yang direncanakan secara bertahap.

Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Abdul Rajab menilai keberhasilan reproduksi di kandang suaka menunjukkan efektivitas konservasi berbasis sanctuary.

“Habitat semi-alami dan pola pakan yang terkontrol mendukung siklus reproduksi alami tarsius makassar,” ucapnya.

Selain sebagai tempat pengelolaan, suaka seluas 6,17 hektare ini juga berfungsi sebagai pusat penelitian dan ekowisata.

Hingga kini, tercatat secara kumulatif 24 individu tarsius pernah dikelola di dalam kandang suaka.

Saat ini, lima individu masih berada di dalam kandang semi-alami. Sementara, populasi alami di luar kandang tercatat sebanyak 36 individu yang terbagi dalam delapan kelompok.

“Kami berkomitmen untuk terus mendukung dan mengembangkan program konservasi tarsius makassar, sebagai bagian dari pelestarian keanekaragaman hayati Sulawesi Selatan,” pungkas Abdul Rajab.