Mendalam

Menelusuri Perspektif Kreator Konten “Celebrity Monkey” di Indonesia [Bagian 2 Serial Celebrity Monkey]

13/08/2026|Egia Azhari Sitepu, Natau Lasniroha Sinaga, Muhammad Rafi Hidayat, Nugraha
Ilustrasi monyet ekor panjang Foto André UeberbachWikimedia Commons - Menelusuri Perspektif Kreator Konten Celebrity Monk...

Ilustrasi monyet ekor panjang. | Foto: André Ueberbach/Wikimedia Commons

Gardaanimalia.com - Dalam beberapa tahun terakhir, monyet ekor panjang dan beruk resmi tercantum sebagai spesies terancam menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List of Threatened Species.

Dalam laporannya pada 2022-2024, kedua spesies tersebut tercatat mengalami penurunan populasi sekitar 50% dalam tiga generasi terakhir, dan akan kembali menurun sebanyak 50% dalam kurang lebih 30 tahun ke depan.

Munculnya publikasi tersebut seakan menyiratkan bahwa sebagai salah satu negara dengan populasi makaka terbesar di dunia, Indonesia seharusnya memperketat regulasi dalam domestikasi satwa tersebut.

Meskipun demikian, pada kenyataannya, belum ada peraturan yang secara resmi melarang masyarakat untuk memelihara satwa eksotis tersebut. Akibatnya, terdapat peningkatan konten domestikasi spesies tersebut di Indonesia.

Di TikTok, semisal, terdapat 7.886 tagar #monpai, dengan peningkatan pengguna yang konsisten sejak 2023.

Padahal, sebagai satwa liar, makaka sejatinya berbahaya untuk dipelihara. Bukan hanya karena ancaman kepunahan, makaka dapat menjadi sumber dari berbagai macam penyakit, sebagaimana temuan yang diungkap dalam “Ancaman Tersembunyi di Balik Peliharaan Eksotis”.

Tentunya, dengan berbagai macam isu yang menyertai primata berekor tersebut, muncul sebuah pertanyaan di benak kami: Mengapa masih banyak konten kreator yang tertarik untuk memelihara makaka?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami berhasil mewawancarai salah satu kreator konten yang menjadikan primata sebagai bintang di media sosial.

Berbeda dengan pandangan kelompok konservasi yang melihat praktik seperti celebrity monkey sebagai bentuk eksploitasi satwa liar, pemelihara justru melihat makaka sebagai teman, keluarga, bahkan bagian dari keseharian mereka.

Hal tersebut diungkap oleh Lia (nama samaran), seorang kreator konten yang aktif membagikan aktivitas primata peliharaannya di media sosial.

“Tadinya kan saya cuma (membuat) konten ke hutan. Untuk camping-camping kayak gitu, solo-an. Cuma kan memang butuh teman. Ada pikiran gitu, 'Oh, mungkin monyet bagus, ya, buat teman karena ini kan di alam.' Jadi kita putusin untuk nyari salah satu yang memang karakternya itu cocok sama aku,” ungkap Lia.

Salah satu yang seringkali muncul dalam kontennya ialah seekor beruk bernama Sally. Selama wawancara, Lia tampak beberapa kali berinteraksi dengan beruk mungil tersebut. 

Uploaded content
Ilustrasi bayi monyet ekor panjang yang dijadikan konten celebrity monkey. | Foto: tangkapan layar TikTok

Lia mengungkap, Sally memiliki kondisi fisik yang berbeda dibandingkan primata lain seusianya. Meski telah berumur lebih dari satu tahun, ukuran tubuhnya tetap kecil. Keunikan itulah yang membuat Sally mudah dikenali oleh para pengikutnya di media sosial.

“Waktu itu memang aku jualan monyet. Ada beberapa beruk yang datang, dan Sally sering di-bully karena badannya kecil,” tuturnya.

Karena sering mengalami intimidasi dari primata lain, Sally kemudian dipisahkan. Seiring berjalannya waktu, keduanya menjadi semakin dekat. Akhirnya, Sally terpilih sebagai bintang dalam konten yang dibuat Lia di kanal YouTube miliknya.

“Sebenarnya karena memang lucu, ya. Anak-anak yang di sini (lingkungan sekitar) juga pada penasaran. Terus orang-orang tuh pada penasaran ke monyet yang dikiranya galak. Jadi sebelum ada konten-konten kayak Baim, memang kita udah mulai konten,” Terang Lia.

Meskipun demikian, Lia tidak menampik bahwa primata tetap dapat menunjukkan perilaku agresif dalam kondisi tertentu. 

Ketika ditanya mengenai pengalamannya menghadapi monyet yang tak patuh, ia menceritakan bahwa salah satu beruk peliharaannya sempat ‘marah’ setelah diganggu anak-anak di sekitar rumah.

Dalam kesaksiannya, kemarahan tersebut kemudian justru dilampiaskan terhadap orang-orang terdekat yang berada di sekitarnya.

“Ada. Baru kemarin. Karena diledek anak-anak, akhirnya marahnya ke kita,” ungkap Lia.

Meski demikian, Lia tetap meyakini bahwa monyet pada dasarnya tidak berbahaya selama diperlakukan dengan baik. Ia bahkan beberapa kali menegaskan bahwa primata tidak akan menyerang manusia tanpa alasan.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa Lia sejatinya cukup memperhatikan aspek perilaku hewan. Sayangnya, kesadaran tersebut tak disertai dengan wawasan yang mumpuni.

Ketika ditanya mengenai bagaimana menangani hewan yang sakit, ia mengaku sebelumnya trauma akibat kucing peliharaannya tak selamat setelah dibawa ke dokter hewan.

Akhirnya, ia memutuskan untuk menggunakan bahan-bahan alami seperti kunyit, madu, hingga rebusan tanaman kumis kucing untuk menangani monyet miliknya yang sedang sakit. Ia mengaku, bahan-bahan tersebut dipilih murni dari pengalamannya sendiri.

“Cuma kunyit sama madu aja, itu udah nyembuhin apa pun penyakitnya. Semisal luka, luka itu bisa pakai kunyit diblender atau diparut, nanti airnya kita olesin, itu bisa buat antibiotik, antiseptik,” cerah Lia.

Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana penanganan kesehatan satwa peliharaan yang dilakukan Lia masih bertumpu pada pengalaman pribadi.

Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini menunjukkan bahwa popularitas konten primata di media sosial tidak selalu diiringi kesadaran yang memadai mengenai kesejahteraan dan kesehatan hewan.

Padahal, di balik hubungan yang nampak akrab tersebut, terdapat berbagai risiko kesehatan dan kesejahteraan satwa yang tidak selalu disadari oleh pemilik maupun penonton, tanpa pengawasan medis. 

Realitas di Balik Konten "Celebrity Monkey"

Ada satu hal yang belum sempat penulis ceritakan. Selain Sally yang kerap muncul di depan kamera, terdapat satu lagi beruk yang juga dipelihara oleh Lia.

Berbeda dengan Sally, Ia dikurung di balik jeruji besi. Lia mengaku, beruk tersebut berusia dua tahun, meskipun nampak lebih dewasa dari seharusnya.

Ketika Lia menampilkan beruk tersebut ke hadapan kamera, primata tersebut nampak beberapa kali memperlihatkan perilaku agresif. Suaranya terdengar lantang, diselingi gerakan tubuh yang terlihat gelisah.

“Maaf ya, dia memang agak nakal. Sebenarnya dia gak ngapa-ngapain, tapi suka ngeberantakin aja,” jelasnya.

Namun, dalam pertemuan daring tersebut, nampak jelas Lia mengalami kesulitan ketika mencoba menenangkan beruk berbulu hitam keemasan tersebut.

Uploaded content
Ilustrasi dua ekor monyet korban peliharaan yang mengenakan pakaian selayaknya manusia. | Foto: Asia for Animals

Pada kenyataannya, perilaku beruk yang tak disebutkan namanya tersebut tidaklah unik. Tak jarang, monyet yang awalnya lucu dan menggemaskan, berubah menjadi ‘nakal’ ketika menginjak usia tertentu.

Hal tersebut diungkapkan oleh Senior Manajer Edukasi dan Penyadartahuan YIARI Ismail Agung. Menurutnya, ketika monyet menginjak usia dewasa, faktor seperti birahi dan sifat mereka yang memerlukan koloni, dapat memunculkan kembali insting alamiahnya.

Ia mengungkap, pada akhirnya hanya terdapat dua pilihan yang tersisa: dibuang atau dikurung.

“Nah, ketika hal tersebut terjadi, kadang masalahnya jadi muncul lagi. Ketika misalnya dibuang, jadi konflik. Pun jika dia tetap dipelihara dalam kandang, secara kesejahteraannya dia tidak terpenuhi,” ungkap Ismail.

Ketika monyet dibuang, bukan tidak mungkin monyet tersebut akan kembali berinteraksi dengan manusia untuk mencari makan.

Ismail mengungkap, hal tersebut dapat terjadi karena ketika monyet liar dijadikan peliharaan, mereka akan melewati proses adaptasi paksa hingga terbiasa dengan kehadiran sang pemilik.

Habituasi monyet terhadap lingkungan manusia inilah yang membuatnya kehilangan insting alamiahnya.

“Makanya nggak heran kalau misalnya ada monyet ngerampas, ngambil, termasuk menyerang, menggigit,” terang Ismail.