Berita

Toksikologi IPB: Dua Gajah Sumatera Mati di Bengkulu Akibat Zat Kimia Berbahaya

13/08/2026|Lisa Rosari
Bangkai gajah yang ditemukan di lahan konsesi PT Bentara Arga Timber BAT Foto BKSDA Bengkulu - Toksikologi IPB Dua Gajah...

Bangkai gajah yang ditemukan di lahan konsesi PT Bentara Arga Timber (BAT). | Foto: BKSDA Bengkulu

Gardaanimalia.com -   Dua ekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), anak gajah yang berusia 2 tahun dan induknya yang berusia sekitar 25 tahun dipastikan mati karena zat kimia berbahaya.

Hal tersebut dikonfirmasi kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Agung Nugroho kepada Garda Animalia,   pada Kamis (13/8/2026).

"Dari hasil toksikologi terdapat unsur kimia yang menyebabkan kematian gajah," kata Agung. 

Berdasarkan uji laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB) yang baru-baru ini diterima Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, hasil toksikologi menunjukkan adanya kandungan florida, sulfat, dan amonia dalam tubuh kedua satwa. 

Meski begitu, Agung mengatakan estimasi jumlah zat kimia yang dikonsumsi hingga memicu kematian sulit dipastikan. Sebab, kondisi kedua bangkai gajah sudah mengalami pembusukan atau lisis parah saat tim nekropsi tiba di lokasi kejadian.

"Itu sulit ya [dideteksi], karena saat ditemukan sudah mengalami pembusukan," ujarnya. 

Hasil uji laboratorium tersebut, lanjut Agung, telah diserahkan kepada penyidik Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Kehutanan RI dan Polda Bengkulu untuk proses hukum lebih lanjut.

"Bagimana itu bisa sampai ke tubuh gajah itu tugas penyidik," katanya. 

Sebelumnya, bangkai kedua gajah tersebut telah ditemukan di kawasan Hutan Produksi Air Teramang, Bentang Alam Seblat, Provinsi Bengkulu dan berada dalam lahan konsesi PT Bentara Arga Timber (BAT).

Selain gajah, juga ditemukan bangkai harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), Kamis (30/4/2026). 

Kematian satwa liar tersebut diketahui setelah BKSDA menerima laporan dari warga. Saat ditemukan, kondisi bangkai gajah masih dalam keadaan utuh. Gading atau caling gajah betina pun tidak hilang. 

Lokasi kematian berada di kawasan Bentang Seblat yang merupakan habitat penting bagi gajah liar. Kawasan ini terus mendapat tekanan akibat perambahan hutan dan ekspansi perkebunan sawit ilegal. 

Guna mengantisipasi berulangnya kasus kematian satwa di kawasan tersebut, Agung mengatakan BKSDA Bengkulu terus mengintensifkan patroli serta pemantauan rutin di habitat gajah. Petugas di lapangan bergerak aktif memusnahkan ancaman langsung terhadap gajah. 

"Mulai dari menyita jerat-jerat berbahaya, dan jika ada potensi bahan kimia beracun yang ditemukan di jalur perlintasan satwa, kita musnahkan," ujar Agung.