Mendalam

Ketika Hutan Dibabat, Ada Tangis Anak Orangutan yang Kehilangan Induknya

30/01/2026|Nadaa
Proses penyelamatan Jani bayi orangutan yang ditemukan di kebun sawit Foto YIARI - Ketika Hutan Dibabat Ada Tangis Anak O...

Proses penyelamatan Jani, bayi orangutan yang ditemukan di kebun sawit. | Foto: YIARI

Gardaanimalia.com - Penemuan bayi orangutan tanpa induk di alam liar kerap memantik pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi?

Kasus-kasus ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan tekanan yang terus meningkat terhadap ruang hidup orangutan.

Di Ketapang, Kalimantan Barat, satu individu bayi orangutan betina bernama Jani dilaporkan oleh warga berkeliaran sendiri selama beberapa hari di kebun sawit milik warga pada 18 Januari 2026.

Menanggapi laporan itu, tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) turun langsung melakukan verifikasi sebelum evakuasi. 

Tim memastikan satwa tersebut memang sendirian dan berisiko konflik dengan manusia. Upaya pencarian induk di sekitar lokasi tidak membuahkan hasil sehingga evakuasi dilakukan untuk memastikan keselamatan satwa.

Sementara, di Desa Miau Baru, Kutai Timur, Kalimantan Timur juga ditemukan satu bayi orangutan berusia kurang dari satu tahun di area perkebunan sawit pada 30 November 2025. Melansir Detik, satwa yang diberi nama Jack ini terlihat stres, kurus, dan mengalami infeksi karena luka tertusuk duri tanaman di telapak kaki dan tangannya. Kini, Jack mendapat perawatan dari Conservation Action Network (CAN).

Menanggapi fenomena ini, Dokter Hewan YIARI Komara menjelaskan, anak orangutan bisa saja terpisah dari induknya ketika menghadapi ancaman tertentu.

“Ancaman ini tidak selalu berasal dari predator alami, tetapi juga sangat mungkin dari manusia, terutama ketika orangutan berada di sekitar perkebunan atau lahan masyarakat. Naluri manusia untuk mengusir sering kali memicu situasi ini, sehingga induk dan anak berpotensi terpisah,” ujarnya saat dihubungi Garda Animalia, Rabu (28/1/2026).

Sebelumnya, Komara juga menjelaskan rentang usia bayi orangutan yang menentukan peluang bertahan hidup dan keterkaitannya dengan induk mereka.

“Bayi orangutan itu dikategorikan berusia sekitar 2 sampai 5 tahun. Biasanya kalau sudah umur 6 tahun, intensitas kedekatan dengan induknya mulai berkurang,” tambahnya. 

Menyempitnya Habitat Jadi Ancaman

Dalam rilis yang dikeluarkan YIARI, Silverius Oscar Unggul, Ketua YIARI menyampaikan, "kasus orangutan Jani mencerminkan tekanan yang terus meningkat terhadap habitat satwa liar, akibat lanskap yang terfragmentasi”.

Senada dengan pernyataan tersebut, Komara menjelaskan bagaimana penyempitan habitat karena alih fungsi lahan berkaitan dengan fenomena terpisahnya anak dan induk orangutan, serta interaksi negatif antara satwa dengan pengelola lahan.

“Induk yang sedang membawa anak berada dalam kondisi sangat rentan. Pergerakannya terbatas, dan dalam situasi tertekan, bisa saja anak terjatuh. Induk biasanya akan menyelamatkan diri terlebih dahulu. Lalu ketika merasa aman, baru kembali mencari anaknya,” jelas Komara.

Meski marak terjadi penemuan anak orangutan yang terpisah di lahan sawit, Komara tidak dapat memastikan bahwa fenomena tersebut merupakan pola pasti di perkebunan sawit.

“Untuk pola spesifik, saya belum mempelajarinya secara mendalam. Namun, memang sudah beberapa kali terjadi kasus induk dan anak orangutan terlibat interaksi negatif di lahan masyarakat, khususnya perkebunan kelapa sawit, sejak beberapa tahun terakhir,” katanya.

Dampak Terpisahya Anak dan Induk Orangutan

Terpisahnya anak dan induk orangutan juga menimbulkan dampak bagi masing-masing individu, terlebih bagi anak orangutan.

“Ketika bonding induk dan anak terputus, keduanya pasti mengalami stres yang sangat tinggi,” jelasnya.

Sebelumnya juga dijelaskan, usia aman bagi anak orangutan untuk lepas dari induknya ada di rentang usia sekitar 6-7 tahun. Jika di bawah usia tersebut, belum bisa dipastikan apakah anak orangutan bisa bertahan hidup secara mandiri.

“Jika ia belum bisa mencari makan dan membuat sarang, kondisinya akan terus memburuk. Malnutrisi bisa terjadi, daya tahan tubuh menurun, dan ia menjadi rentan terhadap penyakit. Selain itu, ia juga tidak memiliki pelindung dari predator. Tanpa induk, bayi orangutan akan sangat mudah menjadi mangsa,” tambahnya. 

Penanganan Evakuasi Menyesuaikan Usia Orangutan

Uploaded content
Proses rescue anak orangutan dilakukan tanpa obat bius, beda dengan orangutan dewasa. | Foto: YIARI

Terkait proses rescue, terdapat beberapa tahapan dan penanganan yang berbeda antara anak dan orangutan dewasa.

Komara melanjutkan, biasanya tim akan menyiapkan obat bius untuk orangutan dewasa karena secara fisik sulit untuk dikendalikan. Namun, untuk bayi orangutan, pilihan paling bijak adalah menggunakan manual handling tanpa obat bius.

“Risiko pembiusan pada bayi cukup besar dan bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan di lapangan,” jelasnya.

Penangan dalam proses rehabilitasi juga berbeda. Bayi-bayi orangutan akan dibagi dalam dua kategori, yaitu yang berasal dari alam liar dan yang berasal dari pemeliharaan manusia. 

Untuk bayi orangutan liar, biasanya akan dilakukan holding selama tiga hari, yaitu bayi orangutan ditampung sementara sebelum penanganan lanjutan. Di saat bersamaan, tim lapangan akan mencari keberadaan induknya.

Jika induk ditemukan, akan langsung dilakukan reintroduksi. Jika induk tidak ditemukan, bayi tersebut akan menjalani rehabilitasi, sama seperti bayi korban pemeliharaan.

Ada dua jalur dalam proses rehabilitasi bayi orangutan, yaitu rehabilitasi mandiri atau dipasangkan dengan induk angkat. Rehabilitasi mandiri mensyaratkan usia pelepasliaran sekitar sembilan tahun, dengan kemampuan mencari makan, minum, dan membuat sarang secara mandiri. 

Jika dipasangkan dengan induk angkat, tim akan menilai bonding dan kemampuan sosialnya. Induk angkat biasanya sudah berusia di atas sembilan tahun, sehingga dapat mempercepat proses rehabilitasi anak.

Sementara, bayi orangutan korban pemeliharaan akan dikarantina dan diperiksa kesehatannya terlebih dahulu, lalu dinilai kemampuan bertahan hidupnya. Jika masih sangat kecil, akan dipasangkan dengan induk angkat.

“Namun, saat ini ketersediaan calon induk angkat di yayasan kami semakin terbatas, sehingga sering kali rehabilitasi dilakukan secara mandiri,” ujar Komara menjelaskan.

Selalu Ada Anak Orangutan yang Kehilangan Induknya

Dalam kurun 2019-2024, sebanyak 27 individu anak orangutan diselamatkan dalam kondisi tanpa induk. Data itu terekam dalam dokumentasi penyelamatan satwa liar di Kalimantan Barat.

Berdasarkan infografik yang diunggah Garda Animalia, seluruh individu yang ditemukan dalam kondisi terpisah dari induknya, baik akibat perdagangan satwa liar, pemeliharaan oleh manusia, maupun temuan masyarakat.

Dari total 27 individu, 13 anak orangutan diketahui merupakan korban perdagangan atau kepemilikan ilegal, sedangkan 14 individu berasal dari temuan orangutan tanpa induk yang dilaporkan masyarakat.

Anak-anak orangutan tersebut menjalani perawatan dan rehabilitasi di dua pusat penyelamatan, yakni YIARI Ketapang yang menangani 12 individu, serta Sintang Orangutan Center (SOC) dengan 15 individu.

“Dalam hampir semua kasus, induk orangutan harus dibunuh untuk mendapatkan anaknya,” tulis Journal for Nature Conservation dalam artikel Shifting apes: Conservation and welfare outcomes of Bornean orangutan rescue and release in Kalimantan, Indonesia.