Mendalam

Kisah Puspa dan Muli Sekop, Bayi Harimau yang Lahir dari Induk Korban Jerat

08/06/2026|Meza Swastika
Puspa dan Muli Sikop sedang menjalani pemeriksaan morfometrik dan vaksinasi di Taman Konservasi Lembah Hijau Foto Dok Tam...

Puspa dan Muli Sikop sedang menjalani pemeriksaan morfometrik dan vaksinasi di Taman Konservasi Lembah Hijau. | Foto: Dok. Taman Konservasi Lembah Hijau

Gardaanimalia.com - Dua bayi harimau sumatera berjenis kelamin betina itu terus saja mengganggu induknya yang berjalan tertatih. Sesekali, salah satu di antaranya bahkan menggigit ekor sang induk hingga nyaris terjatuh.

Sepanjang hari, bayi-bayi harimau itu selalu aktif. Hasil pengamatan terhadap keduanya juga terus menunjukkan tren yang positif. Mereka terus tumbuh, dengan kemampuan-kemampuan baru yang mereka miliki setiap harinya.

Dua bayi harimau sumatera itu dalam kondisi sehat meskipun dilahirkan oleh induk yang cacat karena kaki kanan belakangnya terpaksa diamputasi akibat dijerat oleh pemburu liar. Namun, induknya, Sinta, terus berusaha di tengah keterbatasan fisik yang ia alami.

Bahkan sejak ia diketahui mulai hamil, Sinta tampak seperti menjaga kehamilannya. Hal ini ditunjukkan dengan aktivitasnya yang cenderung tidak terlalu aktif.

Jauh sebelum kelahirannya, perkawinan Sinta dan Kyai Batua juga amat rumit. Prosesnya membutuhkan waktu yang lama. Apalagi, Kyai Batua, juga mengalami cacat fisik, salah satu kakinya juga harus diamputasi akibat jeratan pemburu liar.

“Sampai sekarang saja, saya masih seperti percaya nggak percaya dengan kelahiran ini,” kata Rasyid Ibransyah, Zoo Manager Taman Konservasi Lembah Hijau sekaligus sosok dibalik kesuksesan kelahiran dua bayi harimau sumatera ini kepada Garda Animalia, 11 Mei 2026.

Uploaded content
Puspa dan Muli Sikop sedang bermain bersama Sinta, sang induk. | Foto: Dok. Taman Konservasi Lembah Hijau

Rasyid bahkan mengenang saat Sinta hamil. Ia mengaku ragu untuk menyampaikan informasi ini karena khawatir tidak ada yang percaya.

”Saya jaga betul kehamilan Sinta. Saya khawatir kalau semua orang tahu dia hamil, justru mengganggu psikologis Sinta,” kenang Rasyid.

Demikian pula saat proses perkawinan Sinta dan Kyai Batua yang hampir saja tak membuahkan hasil, karena kedua harimau sumatera itu dalam kondisi fisik yang cacat dan memori tekanan psikis yang besar akibat ulah para pemburu liar.

“Kita membangun chemistry Sinta dan Batua itu sampai berbulan-bulan, tetapi kami terus berusaha karena keberlangsungan mereka amat penting,” tutur Rasyid.

Selama berhari-hari, Rasyid bahkan rela tak pulang ke rumah demi mengawasi proses perkawinan Sinta dan Kyai Batua.

“CCTV ada 18 titik, kita pantau terus selama 24 jam. Karena, kita juga khawatir, saat mereka disatukan justru akan saling berkelahi.”

Saat ini, kedua bayi harimau dalam kondisi sehat, meskipun belum divaksin, ”Kalau masih di bawah tiga bulan itu memang belum divaksin, kondisinya sehat dan baik.” 

Proses Perkawinan Sinta dan Kyai Batua

Rasyid bercerita panjang lebar tentang proses perkawinan Sinta dan Kyai Batua yang disebutnya sebagai proses yang melelahkan sekaligus membahagiakan.

“Ada banyak tahap yang kami lakukan untuk memulai perkawinan mereka, dan itu butuh waktu yang tidak sebentar.”

Prosesnya dimulai dari perkenalan bau antara satu sama lain, mengingat keduanya belum pernah bertemu sekalipun berada dalam satu lokasi konservasi.

Selain mengenalkan bau, perkenalan juga dilakukan dengan proses pengenalan suara auman masing-masing.

”Selama perkenalan itu, mereka dipisah dengan kandang berjarak empat meter karena kita juga khawatir justru mereka akan berkelahi.” 

Uploaded content
Perkawinan Sinta dan Kyai Batua di Taman Konservasi Lembah Hijau yang membutuhkan proses yang amat panjang. | Foto: Dok. Taman Konservasi Lembah Hijau

Setelah saling mengenal bau dan suara yang berlangsung selama dua bulan, pemisah antar-kandang kemudian dibuka untuk memulai interaksi dan saling menyukai.

”Selama lima hari, pemisah kandang kita buka secara bertahap, sampai benar-benar pemisah kandang terbuka sepenuhnya dan mereka saling bertemu,” ujarnya.

Reaksinya positif, Sinta dan Kyai Batua saling bertemu tanpa ada reaksi negatif. Sejak itu, kandang Kyai Batua mulai diberi akses menuju kandang Sinta, tetapi tetap diberi jarak. Proses ini memakan waktu selama dua bulan.

Lima bulan setelah interaksi positif itu, tim kemudian mengidentifikasi jika Sinta dalam masa birahi. Dalam fase-fase itu, keduanya terus dipertemukan secara intensif.

”Selama masa birahi itu, CCTV benar-benar kita maksimalkan untuk menjaga kemungkinan perkawinan mereka gagal atau malah saling berkelahi.”

Demikian halnya situasi kandang juga benar-benar dijaga dari potensi-potensi yang bisa mengganggu proses perkawinan mereka, ”Kita jaga suasana sekitar kandang agar tetap kondusif, termasuk meminimalisir suara-suara bising yang mengganggu.”

Rasyid menyebut Sinta cenderung pemalu dan menghindar dari keramaian. Kondisi ini yang membuat proses perkawinan memang membutuhkan waktu dan suasana yang benar-benar mendukung.

”Kita jaga mood, khususnya Sinta, karena dia amat pemalu,” kata Rasyid.

Saat birahi itu, tren positif terus ditunjukkan oleh pasangan ini. Sinta jauh lebih tenang, sementara Kyai Batua juga merespon dengan terus menjilati punggung Sinta.

Sesekali, keduanya saling bersiul atau chuff (prusten), yang menjadi sinyal antar-pasangan yang saling menyukai dengan mengeluarkan suara seperti siulan yang berasal dari dengusan napas pendek.

Selain itu, tanda lainnya adalah Sinta yang terus mengeluarkan bau feromon dari air seninya yang menunjukkan masa-masa puncak birahi bagi harimau betina yang hanya diketahui oleh harimau jantan.

Sementara, manusia mengidentifikasi bau feromon dari bau air seninya yang tajam dan kuat, cenderung lebih mirip dengan bau amonia. 

Saat masa puncak birahi Sinta, tim konservasi terus intens menjaga masa birahinya yang hanya berlangsung hanya 3 hari 5 hari agar perkawinan bisa berlangsung.

Perkawinan sukses. Sinta diketahui hamil dalam keadaan normal dan sehat selama 3,5 bulan.

Selama kehamilan itu, fisik dan asupan makan Sinta terus dijaga. Ia juga mulai dipisahkan dengan Kyai Batua.

Akhirnya, ia melahirkan dua bayi harimau sumatera yang sehat.

”Tanggal 14 Mei kemarin, usia dua bayi itu tepat tiga bulan,” jelas Rasyid lagi. 

Sejarah Baru Kelahiran Harimau Sumatera di Ex-Situ

Kepala Seksi KSDA Wilayah III Lampung, Itno Itoyo, menyebut kelahiran dua bayi harimau sumatera ini menjadi sejarah baru bagi kelangsungan konservasi harimau sumatera di Lampung yang hasil perkawinannya berlangsung di ex-situ atau berlangsung di luar habitat alaminya.

“Di Lampung, ini yang pertama kelahiran di ex-situ. Kami bersyukur dan bahagia sekali,” ungkap Itno. 

Apalagi, Itno mengungkap kedua bayi harimau sumatera itu teridentifikasi berjenis kelamin betina.

”Ini kabar baik untuk kelangsungan harimau sumatera yang populasinya terus terancam. Kelahiran ini menjadi darah dan semangat baru buat konservasi harimau sumatera,” ujar Itno.

Dirinya berharap, kehadiran dua harimau sumatera ini bisa membangun kesadaran baru bagi masyarakat terkait pentingnya pelestarian satwa maupun ekosistem mereka, termasuk harimau sumatera sebagai spesies endemik asli Indonesia yang sangat dilindungi. 

Uploaded content
Proses vaksinasi Puspa dan Muli Sikop. | Foto: Dok. Taman Konservasi Lembah Hijau

Diberi Nama Puspa dan Muli Sikop

Pada 22 Mei 2026 lalu, Gubernur Lampung Mirzani Djauzal dan Dirjen KSDAE Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko secara khusus memberi nama kedua anak harimau itu, yakni Puspa dan Muli Sikop.

Puspa adalah nama pemberian dari Gubernur Mirza. Nama ini ia ambil setelah berdiskusi dengan istrinya dan hasil shalat istikharah. Puspa, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bunga.

“Nama ini, saya dapat hasil dari istikharah,” kata Mirza.

Sedangkan, Satyawan Pudyatmoko, memberikan nama Muli Sikop, yang berasal dari bahasa Lampung yang berarti perempuan cantik dari Lampung.

“Mudah-mudahan sehat dan semoga juga bisa mendukung pelestarian harimau yang ada di alam. Kalau nanti anaknya banyak kan mungkin ada sebagian yang nanti kita kembalikan ke alam. Karena, kalau bapak (Kyai batua) dan ibunya (Sinta) memang sudah tidak mungkin lagi kita kembalikan ke alam karena kemampuan berburunya sudah sangat jauh berkurang akibat kakinya yang diamputasi, yang Sinta kaki belakang dan Batua kaki depan. Jadi, lebih baik kita kembangbiakan di lembaga konservasi (LK) agar nanti ada manfaatnya di konservasi harimau,” kata Satyawan.

Riwayat Kyai Batua dan Sinta Kyai

Kyai Batua adalah harimau sumatera berjenis kelamin jantan yang diselamatkan dari aksi pemburu liar yang berusaha menjeratnya di hutan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Kabupaten Lampung Barat, 2 Juli 2019 lalu.

Akibat jerat kawang sling yang membelit, kaki kanan bagian depan Kyai Batua harus diamputasi karena sudah membusuk.

Selain kaki, ada pula bekas jeratan di bagian pinggang Kyai Batua yang membuat pinggangnya mengecil dan tidak bisa lagi berkembang.

Harimau ini diberi nama Kyai Batua, berdasarkan lokasi penemuannya di Pekon Batu Ampar, Lampung Barat. "Kyai" berarti kakak laki-laki, sedangkan Batua adalah akronim dari Batu Ampar. 

Uploaded content
Kyai Batua saat pertama kali ditemukan terjerat di TNBBS. | Foto: Dokumentasi TNBBS

Sedangkan, Sinta harimau sumatera berkelamin betina juga korban jerat pemburu liar. Sinta diselamatkan di kawasan hutan yang ada di wilayah Bengkulu pada 2024 lalu.

Akibat jerat, kaki kanan bagian belakangnya pun harus diamputasi. Proses penyelamatan dan rehabilitasi Sinta dilakukan sepenuhnya di Taman Konservasi Lembah Hijau di Kota Bandar Lampung. 

Uploaded content
Kondisi Sinta dengan kaki kanan yang sudah diamputasi akibat jeratan pemburu liar. | Foto: Dok. Taman Konservasi Lembah Hijau