Gardaanimalia.com - Seekor anak harimau sumatera berjenis kelamin betina mengalami luka serius pada bagian leher, dada, serta beberapa area tubuh lainnya.
Satwa dilindungi tersebut terkulai lemas setelah terlilit jerat ratus di kawasan perkebunan milik warga di Jorong Lima Sumpadang, Nagari Padang Mantigi Utara, Kecamatan Rao Utara, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.
Anak raja rimba yang diperkirakan baru menginjak usia 11 bulan ini berhasil dievakuasi dan diselamatkan dalam kondisi hidup oleh petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat.
Aksi penyelamatan darurat tersebut berlangsung pada Kamis (21/5/2026) petang, sekira pukul 16.00 WIB.
Saat ini, satwa pemuncak yang memegang peran krusial dalam menjaga keseimbangan rantai makanan tersebut telah berada di Tempat Perawatan Satwa BKSDA Sumbar di Padang Pariaman untuk mendapatkan perawatan medis lanjutan.
Makhluk eksotis ini tiba di fasilitas konservasi pada Jumat (22/5/2026) dini hari. Kepala Kepolisian Sektor Rao, Inspektur Satu (Iptu) Ronal, menjelaskan bahwa operasi penyelamatan ini bermula saat pihaknya didatangi oleh warga dari wilayah Jorong Lima.
Warga tersebut datang untuk melaporkan adanya seekor Harimau Sumatera yang terperangkap jerat babi di area pertanian mereka.
"Warga datang untuk melaporkan bahwasanya di lahan kebun mereka, ditemukan seekor harimau yang terjerat jaring babi," ujar Iptu Ronal memberikan konfirmasi, Jumat (22/5/2026).
Merespons laporan mendesak dari masyarakat tersebut, Ronal menegaskan bahwa personelnya langsung bergerak cepat melakukan langkah-langkah penanganan taktis di lapangan.
Selain itu, aparat Polsek Rao juga membangun komunikasi dan melakukan koordinasi intensif dengan otoritas konservasi setempat, yakni BKSDA Resor Panti.
"Berdasarkan laporan warga itu, kami langsung berkoordinasi dengan pihak BKSDA di Lubuk Sikaping, sembari mendatangi lokasi untuk memastikan situasi di lapangan," kata Iptu Ronal.
Dia menambahkan, setibanya di lokasi kejadian, petugas gabungan menemukan seekor harimau sudah tidak berdaya akibat lilitan sling jerat.
Iptu Ronal memastikan bahwa, satwa yang terperangkap tersebut merupakan harimau dengan usia yang tergolong masih sangat muda. Meskipun kondisinya sangat memprihatinkan, harimau tersebut dipastikan masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Proses evakuasi kemudian dilakukan secara cermat dan hati-hati oleh tim medis dengan cara di bius demi menjamin keselamatan satwa.
Terpisah, Dokter Hewan dari Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman Afdalu Rizki memaparkan hasil pemeriksaan klinis pasca-satwa tersebut berhasil dilumpuhkan dengan obat bius.
Berdasarkan pengamatan fisik secara menyeluruh, menurut Afdalu, lilitan jerat jenis ratus itu menimbulkan luka cukup serius dibeberapa bagian vital pada tubuh anakan harimau tersebut.
"Setelah kami bius, kita amati dan cek kondisinya. Bagian tubuh yang terjerat dan terdampak cukup serius terutama bagian leher," ungkap Afdalu Rizki.
Afdalu mengonfirmasi adanya luka goresan tajam serta memar di beberapa area. Luka-luka itu terindikasi kuat muncul akibat adanya determinasi atau upaya pemberontakan dari sang harimau yang berusaha keras melepaskan diri dari lilitan sling jerat.
Menurut penjelasannya, luka yang cukup dalam dan berkategori parah ditemukan di bagian leher dan dada. Kendati demikian, ia optimistis tingkat kesembuhan luka itu dapat ditangani dengan baik.
Selain menderita luka fisik, Afdalu juga memaparkan bahwa harimau ini juga didiagnosis sempat mengalami dehidrasi berat.
"Daya tahan hidupnya saat ini tersisa sekitar 60 persen. Kami telah memberikan cairan melalui infus serta suplemen tambahan untuk mendongkrak daya tahan tubuh sehingga kondisi fisiknya kini sudah mulai berangsur pulih," tutup Afdalu.
Insiden memilukan yang menimpa anak harimau sumatera ini menjadi alarm keras bagi kelestarian satwa kunci ini.
Jerat babi jenis ratus yang melilit tubuh anakan harimau tersebut, bukan lagi sekadar alat pengendali hama pertanian, melainkan ancaman laten yang mengintai keanekaragaman hayati secara acak, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan.
Jerat ratus, yang biasanya dirakit menggunakan lilitan kawat baja (sling) dari ban bekas, memiliki mekanisme yang sangat destruktif bagi satwa.
Alat tangkap ini, dirancang secara mekanis untuk tidak melepaskan korbannya sama sekali. Semakin satwa merontak untuk meloloskan diri, maka lilitan kawat baja tersebut akan semakin mengencang.
Bagi satwa pemuncak seperti harimau, jerat ini memicu trauma fisik yang hebat. Selain luka infeksi terbuka yang dapat mengundang larva lalat, jerat pada leher atau dada juga dapat merusak saluran pernapasan, menyumbat aliran darah, hingga dapat berujung pada kematian perlahan.
















