Gardaanimalia.com - Tubuh komodo ini lebih kecil dari komodo biasa. Jika komodo pada umumnya berukuran rata-rata tiga meter dengan berat 90 kilogram di kawasan Labuan Bajo, Manggarai Barat, maka komodo riung (Varanus komodoensis) atau yang kerap disebut Mbou, merupakan satwa yang berasal dari Riung, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, hanya berukuran sekitar 40 sentimeter dengan berat rata-rata 100 gram, lebih menyerupai biawak.
Menurut pengamatan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) NTT, populasinya tersebar di empat wilayah Kabupaten Ngada, yaitu Torong Panjang, Cagar Alam Riung, Cagar Alam Wolotadho, dan Pulau Ontoleo.
Berbeda dengan komodo di Labuan Bajo, komodo di Torong Padang berukuran lebih kecil dan cenderung takut berinteraksi dengan manusia. Meski demikian, status Mbou sebagai jenis komodo telah dikonfirmasi melalui tes DNA yang dilakukan oleh Kementerian Kehutanan melalui KSDA NTT.
Mengutip Booklet Lembaga Pariwisata Torong Padang, kawasan seluas sekitar 800 hektar ini tidak hanya menjadi rumah bagi komodo, tetapi juga bagi spesies lain seperti rusa timor, babi hutan, monyet, serta berbagai jenis burung, termasuk elang.
Di samping itu, area ini kerap dijadikan lokasi merumput bagi kuda dan sapi milik warga sekitar. Berdasarkan hasil monitoring tahun 2025 oleh pihak KSDA menggunakan sejumlah kamera, Pulau Ontoleo tercatat sebagai wilayah dengan populasi Mbou terbanyak, yakni sekitar 100 ekor. Disusul kawasan Torong Padang dengan 20 ekor, Cagar Alam Riung 16 ekor, dan kawasan Wolotadho 10 ekor.
"Ini hasil monitoring pada tahun 2025 oleh pihak KSDA melalui sejumlah kamera dan menangkap kehadiran Komodo Riung," ujar Ketua Forum Konservasi Mbou atau komodo riung, Nikolaus Noywuli, di Bajawa, Senin (18/5/2026) dalam Ekora NTT.
Mengapa Tubuhnya Lebih Kecil?
Perbedaan ukuran tubuh antara dua populasi komodo ini pun menarik perhatian para ahli. Dosen Biologi sekaligus ahli paleontologi dari Universitas Gadjah Mada, Donan Satria Yudha, menjelaskan bahwa perbedaan fisik tersebut disebabkan oleh beberapa faktor.
Pertama, ketersediaan mangsa. Ekosistem Pulau Rinca yang beragam mendukung keberadaan mangsa berukuran besar, seperti rusa timor dan kerbau air. Rusa timor merupakan hewan yang dilindungi undang-undang sehingga manusia tidak berani memburu atau mengonsumsinya. Adapun kerbau air di Rinca umumnya berstatus liar, bukan peliharaan, sehingga tidak dilindungi oleh warga dan dapat menjadi mangsa bagi komodo.
"Kedua spesies mangsa tersebut menyediakan kalori yang melimpah, sehingga komodo di Rinca dapat tumbuh menjadi jauh lebih besar," ujar alumni Institute of Human Paleontology, National Museum of Natural History, Paris, Prancis, ini kepada Garda Animalia, Jumat (22/5/2026).
Sebaliknya, ekosistem di Riung didominasi sabana kering dan kawasan pesisir, sehingga tidak banyak tersedia mangsa berukuran besar. Komdo riung bertahan hidup dengan memangsa hewan-hewan kecil seperti tikus, ular, dan burung kecil, yang pada akhirnya memengaruhi ukuran tubuh mereka.
Kedua, kondisi habitat. Pulau Rinca didominasi sabana yang panas dan kering, dengan mikroklimat yang beragam di dalam Taman Nasional Komodo. Kondisi ini menyediakan lingkungan optimal untuk mencari makan sekaligus berjemur. Sebagai hewan ektotermis, yang bergantung pada panas dari luar untuk proses metabolisme, komodo yang mengonsumsi mangsa besar dan mendapat paparan sinar matahari yang cukup dapat tumbuh lebih besar secara optimal. Ketiga, minimnya kompetitor dan tekanan lingkungan.
Di Pulau Rinca, komodo tidak memiliki kompetitor alami dari spesies lain sebagai sesama pemangsa, sehingga mangsa berukuran besar sepenuhnya menjadi sumber pakan mereka.
Habitatnya pun tetap luas tanpa perebutan dengan manusia, sehingga komodo dapat berkembang dengan baik. Kondisi sebaliknya dialami komodo populasi riung. Mereka harus bersaing dengan sejumlah predator lain, antara lain biawak timor (Varanus timorensis), biawak air (Varanus salvator), beberapa spesies elang, serta manusia.
Persaingan dengan manusia dalam memperebutkan mangsa besar seperti babi hutan dan rusa memaksa komodo Riung beralih memangsa hewan yang lebih kecil.
Selain itu, komodo riung juga menghadapi tekanan lingkungan yang cukup berat, berupa perambahan habitat dan deforestasi. Konversi lahan untuk pertanian, urbanisasi, serta pembukaan lahan secara tradisional menggunakan api telah merusak sebagian besar wilayah utara Flores.
"Tekanan lingkungan lain berupa meluasnya area ekowisata, meningkatnya jumlah operator wisata, area penginapan, dan jumlah kunjungan telah menyebabkan habitat komodo di Riung menyempit dan populasinya tertekan," ujarnya.
















