Gardaanimalia.com - “Sekarang telah menjadi lautan api! Mari, Bung, rebut kembali!”
Petikan lirik itu sejatinya digunakan untuk mengobarkan semangat para pejuang kemerdekaan dalam mempertahankan wilayah Bandung Selatan dari tentara sekutu dan NICA, kurang dari setahun pascakemerdekaan.
Akan tetapi, jika hanya menukil satu kalimat pertama, rasanya malah relevan menggambarkan apa yang terjadi di Indonesia saat ini: api menyala luas, asap kekuningan pekat menggantung, kemarau tak berkesudahan.
Data Madani Berkelanjutan per 20 Agustus 2026 menunjukkan akumulasi luas indikatif terbakar di Indonesia telah menyentuh angka 667.133 hektare. Indonesia gelagapan menghadapi bencana ini–padahal kemarau El Nino Godzilla sudah diperingatkan jauh-jauh hari.
Warga Desa Sungai Putri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, bernama Dewi, merasakan langsung dampaknya. Salah seorang cucunya yang menderita asma, terpaksa membatasi kegiatan di luar rumah.
Dewi juga menjadi bagian dari The Power of Mama, kelompok perempuan tangguh yang memantau kawasan hutan untuk mencegah kebakaran.
Orang-orang yang berada di garda terdepan karhutla, seperti Dewi, paham betul bahwa mereka berhadapan dengan jenis lahan yang sangat unik: rawa gambut.
Saat Gambut Bermula dan Berperan
Apa yang kita lihat sebagai gambut hari ini, sejatinya adalah tumpukan tanaman mati yang terendam air selama ribuan tahun.
Tanah yang terus-menerus tergenang air bersifat anoksik (miskin oksigen), sehingga sisa-sisa tumbuhan yang mati tidak terurai secara sempurna. Akibatnya, bahan organik terus menumpuk dan karbon yang tersimpan di dalamnya terkunci di dalam tanah dalam waktu yang sangat lama.
Dengan kondisi itu, rawa gambut di Indonesia mampu menyimpan sekitar 57 gigaton karbon, 20 kali lipat karbon tanah mineral biasa. Jika gambut rusak, maka puluhan gigaton karbon ini akan lepas ke udara dan meningkatkan risiko pemanasan global.
Selain menyimpan karbon, rawa gambut dikenal dengan kemampuannya menyerap dan menyimpan air bak spons cuci piring.
Ketika kemarau melanda, lahan ini akan merilis air secara perlahan sehingga mencegah kita dari kekeringan fatal. Sementara, ketika curah hujan berlebih, rawa gambut akan menyimpan air sehingga dapat mencegah banjir.
Tak hanya itu, ada juga satwa-satwa langka yang lazim ditemukan di lahan gambut, misalnya orangutan, harimau sumatera, dan bekantan.
Kala Gambut Dipaksa Rusak
Sayangnya, gambut sebagai suatu ekosistem yang menyimpan kehidupan aneka flora dan fauna berhadapan dengan ancaman serius. Kerusakannya tak lepas dari aktivitas manusia (anthropogenic), khususnya pembangunan drainase atau kanal.
Saat air gambut dialirkan karena pembuatan kanal, ia akan kehilangan fungsi alaminya sebagai kawasan penyimpan air. Yang tadinya selalu basah dan berair, kini menjadi sangat kering, dan mudah terbakar. Area gambut yang sudah kering, juga tak mampu jadi penyimpan air lagi. Dengan begitu, rawa gambut berubah wajah dan menghadirkan bencana ganda: kekeringan saat kemarau dan banjir saat penghujan.
Lantas, mengapa gambut yang telanjur dinyala api menjadi sukar dipadamkan?
Pembukaan lahan dengan cara dibakar, didukung dengan kemarau panjang, akan mudah membakar material organik kering di lapisan gambut. Api pun bisa ‘bersembunyi’ jauh di bawah permukaan dan bertahan hingga berminggu-minggu.
Di luar, bisa saja tak tampak api berkobar. Namun, jauh di kedalaman hingga tiga meter, ia bagai sekam yang menyimpan api.
Selain itu, gambut yang kehilangan air akan “mengempis”, menyebabkan terjadinya subsiden atau penurunan permukaan tanah. Jika terjadi terus menerus, subsiden bisa membuat permukaan gambut lebih rendah daripada sungai atau laut, yang kemudian dengan mudah mengundang banjir.
Sebagaimana ia kehilangan sifat sponsnya saat kemarau, gambut juga kehilangan kemampuan menyerap dan menyimpan air saat penghujan.
Akibatnya, air hujan tidak diserap dan disimpan di dalam tanah, melainkan menggenang (menjadi air permukaan) atau lekas mengalir ke sungai. Debit air sungai akan meningkat, dan lagi-lagi, berpotensi besar menyebabkan banjir.
Wajah gambut yang mulanya punya peran sangat baik dalam menjaga keseimbangan ekologis, malah “dilukai” oleh manusia. Rawa gambut bertransformasi, karakteristiknya berbanding terbalik dengan bagaimana ia seharusnya.
Karhutla tahun ini menyisakan pekerjaan rumah yang besar, tentang bagaimana manusia bertanggung jawab untuk mengembalikan sifat asli gambut.
Pihak-pihak tak bertanggung jawab, yang tak acuh akan efek jangka panjang kerusakan ekologi, harus dihukum tegas. Mereka menjebak masyarakat tak bersalah dalam posisi “sudah jatuh tertimpa tangga”.
Barangkali, liriknya memang perlu kita lanjutkan: Mari, Bung, rebut kembali!














