Edukasi

Kisah Lahan Basah: Menjaga Air, Mempertahankan Kehidupan

23/03/2026|Bayu Nanda
Lahan gambut salah satu ekosistem lahan basah yang memiliki peran krusial sebagai bintang penyimpan karbon serta habitat b...

Lahan gambut, salah satu ekosistem lahan basah yang memiliki peran krusial sebagai bintang penyimpan karbon, serta habitat bagi satwa liar. | Foto: Pantau Gambut

Gardaanimalia.com - Saya lahir dan besar di kawasan tanah berkapur. Ketika membahas soal lahan basah, saya hanya familiar dengan kawasan mangrove dan sungai–termasuk yang mengalir di samping rumah, sungai kecil yang konon semakin dangkal dan sempit. Karena itu, lahan basah lain, gambut misalnya, terasa asing.

Lalu pada usia 22 tahun, saya berkesempatan menelusuri salah satu hutan di Kalimantan. Di sanalah saya berkenalan dengan gambut, yang sanggup menelan kaki saya sampai ke betis tiap kali melangkah. Sebuah gambaran ekosistem yang unik dan tak akan pernah saya temukan di tanah kelahiran.

Semakin waktu berlalu, saya belajar bahwa lahan basah bukan cuma lahan yang tergenang air. Mereka memiliki peran penting dalam ekosistem, termasuk mengelola air yang menjadi kebutuhan dasar setiap makhluk hidup.

Pada Hari Air Sedunia yang jatuh pada kemarin–22 Maret 2026–mari kita bahas seluk beluk lahan basah bersama Senior Technical Officer Hydrology Wetlands International Indonesia, Dimas Alfred Prasetia!

Peran Lahan Basah: Bukan ‘Cuma’ Penting, tetapi Krusial!

Pada dasarnya, lahan basah (wetland) berarti kawasan yang tergenang, baik secara permanen, semi-permanen atau non-permanen.

Dalam wawancara bersama Garda Animalia pada 13 Maret 2026, Alfred–sapaan karibnya–menjelaskan bahwa lahan basah dapat dibagi menjadi beberapa ekosistem, yaitu ekosistem mangrove, gambut, danau dan sungai.

Dengan karakter khasnya, masing-masing tipe ekosistem tersebut memiliki peran yang begitu krusial bagi keseimbangan ekosistem.

1. Gudang Karbon, Mencegah Krisis Iklim

Ketika berbicara mengenai gudang penyimpan karbon, maka kita tak bisa lepas dari sang bintang: lahan basah.

Secara umum, kondisi tanah yang tergenang air (anoksik) memperlambat dekomposisi bahan organik. Karbon yang dilepaskan oleh makhluk hidup mati kemudian menumpuk dan terkunci di tanah dalam jangka waktu yang panjang.

Kita ambil contoh pada lahan gambut. Lahan gambut terbentuk selama ribuan tahun lalu, saat berakhirnya zaman es. Dalam kurun itu, lahan gambut di Indonesia mampu menyimpan sekitar 57 gigaton karbon atau 20 kali lipat karbon tanah mineral biasa.

Jika gambut rusak, maka puluhan gigaton karbon ini akan lepas ke udara dan meningkatkan risiko pemanasan global.

2. Tata Kelola Air: Menyimpan untuk Cegah Bencana

Apa yang terjadi jika kemarau datang dan kita tak punya cadangan air sama sekali?

Lahan basah, sebenarnya mampu mengatasi persoalan ini.

Layaknya spons pencuci piring, gambut mampu menyerap dan mengunci air dalam ruang mereka. Ketika kemarau melanda, lahan ini akan merilis air secara perlahan sehingga mencegah kita dari kekeringan yang fatal.

Danau atau kategori lahan basah lain pun mampu menjadi water storage yang berfungsi menyimpan bahkan mengairi ketika kemarau tiba.

Sementara, ketika curah hujan berlebih, lahan basah akan menyimpan air sehingga dapat mencegah banjir.

3. Rumah Bagi Beragam Fauna

Banyak sekali spesies-spesies endemik langka yang hanya bisa ditemukan di ekosistem lahan basah.

Sebagai contoh, Alfred bercerita bahwa ada ratusan spesies ikan yang hanya dapat ditemukan di Danau Sentarum.

“Saya lupa jumlah pastinya, tetapi ada setidaknya hampir 100 spesies ikan endemik yang diidentifikasi berada di Danau Sentarum, yang tidak bisa ditemukan di luar ekosistem itu. [Mereka hidup] didukung oleh ekosistem lahan basah, khususnya lahan gambut di sekitarnya,” kisah Alfred.

Tak hanya itu, ada juga satwa-satwa langka lain yang lazim ditemukan di lahan gambut, misalnya orangutan, harimau sumatera, dan bekantan.

Bekantan menjadi salah satu penghuni lahan basah pada ekosistem gambut, mangrove, dan tepian sungai. Mereka sangat bergantung pada vegetasi mangrove sebagai tempat mencari makan dan beristirahat. Pucuk-pucuk daun mangrove adalah santapan favorit bekantan.

Selain itu, dengan kelihaiannya berenang, sungai bisa menjadi jalur migrasi alami bagi bekantan untuk berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya.

Uploaded content
Bekantan adalah salah satu penghuni ekosistem gambut, sungai, dan mangrove. | Foto: Forest Digest

4. Manfaat Ekonomi Bagi Masyarakat

Tak cuma berperan pada kesehatan lingkungan, nyatanya lahan basah juga berperan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dari aspek ekonomi.

Alfred mengatakan, ada banyak publikasi yang membuktikan bahwa tambak ikan atau udang yang dikombinasikan dengan tanaman mangrove pada taraf tertentu akan meningkatkan hasil panen dibandingkan dengan yang tidak dikombinasi dengan tanaman mangrove.

Pada ekosistem alami, ikan dan udang akan bergantung pada tanaman ini sebagai tempat reproduksi dan melindungi diri dari pemangsa.

Jika tak lagi ada tutupan mangrove di pesisir, ikan dan udang akan mudah terekspos oleh burung pemangsa.

Selain itu, mangrove berfungsi menjaga tingkat keasaman, kelembapan, dan suhu agar tetap stabil sehingga beragam spesies dapat bertahan di dalamnya.

Uploaded content
Lahan basah yang sehat mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. | Foto: Yus Ruslia Noor/Wetlands International

Ancaman Lahan Basah, Ancaman Kehidupan

1. Alih Fungsi, Lalu Degradasi

Kerusakan lahan tidak lepas dari aktivitas manusia (antropogenic). Ketika berbicara tentang ancaman pada lahan gambut, misalnya, pembangunan drainase atau kanal adalah yang paling umum diketahui sebagai faktor degradasi lahan gambut.

Drainase atau pembuatan kanal mendatangkan bencana ganda: kekeringan saat kemarau dan banjir saat penghujan.

Saat air gambut dialirkan melalui pembuatan kanal, gambut akan kehilangan sifat sponsnya. Material organik yang bertumpuk menjadi kering dan mudah terbakar. Pembukaan lahan dengan cara dibakar atau kemarau berkepanjangan dapat dengan mudah membakar lapisan gambut yang kering tersebut.

Lebih parah, api bisa ‘bersembunyi’ di dalam tanah gambut dan bertahan hingga berminggu-minggu. Inilah yang menyebabkan kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan.

Saat gambut kering, akan terjadi subsiden atau penurunan permukaan tanah. Jika terjadi secara berulang, subsiden dapat membuat permukaan gambut lebih rendah daripada sungai atau laut, yang kemudian dapat menyebabkan banjir.

Sebagaimana ia kehilangan sifat sponsnya saat kemarau, gambut juga kehilangan kemampuan menyerap dan menyimpan air saat musim hujan.

Akibatnya, air hujan tidak diserap dan disimpan di dalam tanah, melainkan menggenang (menjadi air permukaan) atau lekas mengalir ke sungai. Debit air sungai akan meningkat, dan lagi-lagi, berpotensi besar menyebabkan banjir.

Uploaded content
Pembuatan kanal di ekosistem gambut akan mengeringkan lahan yang sebelumnya tergenang air. Proses ini dapat menghilangkan sifat spons yang dimiliki lahan gambut. | Foto: Yudi Afriadi/Auriga Nusantara

Tak hanya berbicara ancaman pada lahan gambut, mangrove pun berhadapan dengan tantangannya.

Mangrove adalah tanaman yang tidak membutuhkan garam untuk bertahan hidup, melainkan memiliki toleransi tinggi terhadap kandungan garam. Untuk bertahan hidup di lokasi dengan kadar garam tinggi, ia akan mensekresikan kandungan garam di tubuhnya melalui buah, batang, daun. Kemampuan ini bergantung pada fase pasang surut air laut atau periode genangan air laut. Jika terlalu lama terendam air laut, proses sekresi akan terhambat sehingga mangrove bisa mati.

“Makanya mangrove itu tipenya akan berbeda-beda tergantung elevasi, karena berkaitan dengan periode genangan. Mana yang adaptifnya lebih panjang terhadap periode genangan tertentu, makanya jenisnya berbeda,” ujar Alfred.

Dalam hal ini, pembangunan jalan atau jembatan yang tidak memperhatikan sistem drainase dapat mematikan suatu ekosistem mangrove dan mengubahnya menjadi ekosistem dataran rendah.

Di sisi lain, ketiadaan mangrove akan menjadi bencana bagi kawasan pesisir, sebab tidak ada lagi akar-akar kokoh pencegah abrasi. Di pesisir-pesisir Jakarta, fungsi ini digantikan oleh tanggul raksasa yang dinilai tak menyelesaikan inti permasalahan.

Apabila dikaitkan dengan biodiversitas, sudah pasti ikan-ikan, kerang-kerang, dan udang-udang yang hidup pada ekosistem mangrove akan lenyap.

Untuk itu, rehabilitasi menjadi penting dilakukan untuk mengembalikan fungsi yang hilang dari ekosistem yang rusak.

“Kita lakukan rehabilitasi mangrove, sehingga dia secara habitat setidaknya fungsinya dikembalikan, mengakibatkan udang-udang liarnya itu tumbuh di situ. Masyarakat juga mengamini bahwasannya itu menjadi alternatif livelihood-nya mereka. Ini yang menjadi menarik ketika bicara masalah lahan basah untuk menopang kehidupan spesies, dan dikaitkan juga dalam menopang kehidupan manusia,” terang Alfred.

2. Pencemaran

Mangrove adalah ekosistem terestrial terakhir sebelum padang lamun. Ia berperan sebagai barrier utama dalam sistem filtrasi suatu wilayah, menjadi akhir perjalanan polutan yang terakumulasi dari hulu, tengah, hingga hilir.

“Jadi bisa dibayangkan berapa banyak chemical atau pun secara fisik, seperti sampah, plastik, dan lain-lain yang terakumulasi di muara. Bayangkan berapa banyak pihak yang berada di hulu, hilir, atau di tengah yang berkontribusi terhadap pencemaran, yang nanti ujung-ujungnya ada di muara,” kata Alfred.

Lebih jauh, sampah-sampah yang terakumulasi di pesisir dapat menghambat tumbuhnya individu mangrove baru.

Propagul atau bakal pohon kecil mangrove yang matang akan lepas dari induknya dan otomatis menancap ke permukaan tanah aluvial atau lumpur.

Namun, sampah dapat memblokade propagul untuk menancap di tanah sehingga menghalangi regenerasi mangrove secara alami.

Uploaded content
Sampah biasanya menumpuk di ekosistem mangrove, sebagai ekosistem teresterial terakhir sebelum padang lamun. | Foto: Mangrove Jakarta

3. Sedimentasi Pada Danau dan Sungai

Mengenai sungai atau danau, Alfred mengatakan bahwa sedimentasi adalah permasalahan yang paling umum. Tempat paling rendah biasanya akan paling terdampak oleh sedimentasi, membuat kawasan tersebut semakin dangkal.

Dengan demikian, fungsi sungai atau danau sebagai kolam retensi (bak penampungan raksasa) untuk menampung air ketika curah hujan tinggi menjadi tidak optimal.

“Ketika dangkal, volumenya akan berkurang. Selain itu, kita juga bisa berbicara masalah sampah plastik, sampah industri atau sampah domestik di danau dan sungai. Itu juga berbahaya ketika yang kita kaitkan dengan ikan atau biota-biota air lainnya.”

Kembali Pada Hal Paling Dasar: Bijak Menggunakan Air!

Di akhir wawancara, saya dan Alfred berbincang mengenai berbagai langkah yang bisa kita lakukan untuk menjaga lahan basah, dalam hal ini termasuk menjaga air sebagai kebutuhan primer makhluk hidup.

Ia menekankan hal paling dasar–dan mungkin paling klise–tetapi sangat penting: bijak menggunakan air.

“Harus bijak-bijak menggunakan air. Karena sebenarnya air yang kita pakai, siklusnya kan berputar di situ-situ saja. [Akan mengerikan] kalau carrying capacity-nya itu sudah rusak dan lain sebagainya,” ujarnya.

Dalam konteks siklus air, rusaknya carrying capacity berarti alam sudah tidak mampu menampung beban limbah, menahan laju air hujan, dan mengisi ulang air tanah secara berkelanjutan.

Salah satu yang disorot dalam diskusi ini adalah ekstraksi groundwater (air tanah) yang menyebabkan land subsidence (penurunan muka tanah).

“Ketika kita bijak menggunakan air, berarti kita efisien dalam menggunakan. Akibatnya, kecepatan penurunan muka tanah akan berkurang,” pesan Alfred.

Uploaded content
Ilustrasi sungai, sumber air yang dekat dengan masyarakat, tetapi menghadapi beberapa ancaman. Salah satunya adalah sedimentasi. | Foto: Burung Indonesia

Pria lulusan IPB University ini juga berpendapat, pengelolaan air tidak hanya bisa dilihat di salah satu ekosistem saja.

“Karena air itu menyambung, bergerak dari posisi yang tinggi ke posisi yang rendah. Setiap pergerakan air itu berkaitan juga dengan penunjang kehidupan, untuk masyarakat, juga untuk flora dan fauna,” ujarnya.

Sebagai orang yang mendalami ‘ilmu air’, Alfred selalu mengaitkan pembicaraan tentang ekosistem dengan keberadaan manusia. Karena menurutnya, efek domino yang timbul selalu berpengaruh pada kehidupan manusia dan spesies lain.

“Dan jangan lupa juga, air yang kita gunakan hanya itu-itu saja di dunia.”