Mengenal Lutung Simpai, Sang Pemegang Mahkota Hutan Indonesia
16/03/2026|Frendy Marselino
Ilustrasi induk lutung simpai bersama anak-anaknya. | Ilustrasi: Frendy Marselino
Gardaanimalia.com - Pasti kalian tidak asing dengan istilah “rambutku mahkotaku”. Namun, pernahkah Kawan Satwa mendengar tentang primata yang memiliki “mahkota” alami di kepalanya?
Mari berkenalan dengan lutung simpai (Presbytis melalophos), primata yang memiliki jambul unik menyerupai mitre atau topi tinggi para bishop dalam keuskupan Katolik. Karenanya, satwa endemik Indonesia ini dijuluki Mitred Leaf Monkey di dunia internasional.
Mengutip dalam Asian Primates Journal (2014), lutung simpai merupakan penghuni hutan hujan tropis mulai dari hutan primer, hutan sekunder, hingga area perkebunan pada dataran rendah sampai ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut. Mereka menyukai pohon-pohon bertajuk tinggi yang umumnya tidak jauh dari area perairan.
Fakta menarik lainnya, lutung simpai terbagi menjadi empat subspesies yang dapat dibedakan berdasarkan wilayah persebarannya di Pulau Sumatera.
P. m. melalophos mendiami barat daya Sumatera, mulai Sungai Rokan Selatan hingga Sungai Batanghari, serta sepanjang Bukit Barisan hingga Lampung.
Sementara P. m. mitrata bermukim di tenggara Sumatera, dari Lampung Utara hingga Sungai Musi, Palembang bagian barat, serta utara Sungai Batanghari.
Adapun P. m. bicolor mendiami Sumatea bagian barat-tengah, seperti dari utara Sungai Indragiri hingga Sungai Batanghari. Sedangkan P. m. sumatrana tersebar di Sumatra Barat, Gunung Talamau, di pantai timur dari Sungai Wampu hingga Sungai Barumun, dan ke tenggara hingga Sungai Rokan, serta Pulau Pini (Kepulauan Batu).
Ciri Fisik dan Reproduksi
Lutung simpai memiliki panjang tubuh rata-rata 40 sentimeter dari kepala hingga pangkal ekor, dengan panjang ekor rata-rata 80 sentimeter.
Sementara, berat tubuh berkisar 5 - 9 kilogram, dengan pejantan sedikit lebih berat daripada betina. Hal yang paling mencolok dari spesies lutung simpai adalah warna bulu mereka. Warna bulu yang cukup bervariasi, dari jingga terang hingga abu-abu gelap tergantung subspesiesnya.
Primata endemik Sumatera ini juga memiliki kelompok kecil dalam wilayahnya dan umumnya terdiri dari satu jantan dengan 5 - 17 betina.
Ketika siklus kawin terjadi maka jantan akan kawin dengan beberapa betina dalam kelompok (poligini). Sayangnya, secara garis besar perilaku reproduksi lutung simpai belum diketahui dan masih dipelajari lebih lanjut.
Perilaku Unik dan Wilayah Jelajah
Sebagai penanda area teritori mereka, pejantan lutung simpai seringkali melengkingkan suaranya dalam nada tinggi untuk menandakan wilayahnya sekaligus memberikan informasi ke kelompok lain tentang teritori mereka.
Luas wilayah jelajah setiap kelompok biasanya 14 – 30 hektare, dengan pergerakan melalui pohon-pohon primer, sambil sesekali mencari makanan seperti daun muda, buah, biji-bijian, dan bunga seperti, Erythrina indica dan Fabaceae.
Dalam artikel Perilaku Harian Simpai (Presbytis melalophos) dalam Kandang Penangkarandijelaskan bahwa lutung simpai banyak menghabiskan waktu di berbagai lapisan hutan, melompat di antara cabang kecil dan kadang-kadang menggunakan ke empat kaki bila berjalan pada dahan atau cabang yang besar secara quadrupedal yaitu, pergerakan pada yang menggunakan empat kaki.
Pergerakan mereka bisa mencapai satu kilometer per hari. Akan tetapi, teritori ini juga acap kali saling tumpang tindih dengan kelompok lainnya, sehingga konflik sering terjadi.
Selain berkelompok dengan betina, terdapat pejantan yang memutuskan hidup menyendiri ataupun berkelompok dengan jantan lainnya.
Meskipun demikian, ketika ketersediaan makanan di suatu teritori menipis pejantan yang cenderung menyendiri akan dikeluarkan dalam kelompok oleh pejantan alfa. Berbeda dengan beberapa spesies Macaca yang pergerakan kelompok ditentukan oleh jantan alfa, uniknya pergerakan kelompok lutung simpai ditentukan oleh betina. Meskipun demikian, betina tidak akan terlibat ketika terjadi konflik antar-kelompok, karena betina tidak mempunyai hirarki dominan.
Status Konservasi
Lutung simpai berasal dari famili Cercopithecidae dengan wilayah persebaran di hutan hujan Semenanjung Malaya. Meski beberapa catatan lama menyebutkan persebaran hingga Semenanjung Malaya dan Kalimantan, secara spesifik P. melalophosmerupakan primata endemik di Sumatera.
Dari empat subspesies, dua diantaranya, P. melalophos sumatranus dan P. melalophos melalophos termasuk dalam daftar merah IUCN dengan status terancam punah atau endangered (EN). Sedangkan P. melalophosmitrata memiliki status rentan atau vulnerable (VU), dan P. melalophos bicolor memiliki status minim data atau data deficient (DD).
Infografis status konservasi lutung simpai. | Foto: Frendy Marselino
Ancaman Perburuan dan Deforestasi
Satwa primata di Indonesia memiliki persebaran yang cukup luas di empat pulau besar Indonesia, Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi.
Genus Presbytis sendiri menempati spesies primata terbanyak di Indonesia dengan 15 spesies yang ditemui. Meski begitu, deforestasi mengakibatkan lebih dari 50 persen tutupan hutan hilang sejak 1970.
Berdasarkan data Global Forest Watchdalam rentang 2002 – 2024, hutan primer yang hilang di beberapa wilayah Indonesia seperti Jambi dengan luas 580 kilohektare, Sumatera Selatan mencapai 230 kilohektare, Lampung 18 kilohektare, dan Sumatera Barat kehilangan 320 kilohektare yang menjadi habitat asli dari spesies lutung di Sumatera, terutama lutung simpai.
Selain ancaman kehilangan habitat secara langsung, perburuan liar juga sangat mengkhawatirkan. Permintaan terhadap lutung sebagai hewan peliharaan, dan kepercayaan khasiatnya dari pengobatan tradisional membuat perburuan semakin marak terjadi.
Meski belum ada data spesifik jumlah perdagangan untuk spesies lutung simpai, tetapi dengan status konservasinya yang mengkhawatirkan seharusnya menjadi pengingat bagi kita untuk melestarikan satwa-satwa ini.
Meningkatkan kesadaran publik melalui edukasi tentang status perlindungan lutung secara budaya dan ekologis akan menjadi langkah keberlanjutan untuk mendapat dukungan masyarakat lokal dalam upaya konservasi jangka panjang.