Edukasi

Pandai Mengatur Diet dan Mengobati Diri, Inilah Cara Orangutan Hidup Sehat

29/09/2025|Irvan Sjafari
Orangutan suka memakan buah, salah satunya dari genus Artocarpus. | Foto: Four Paws International

Orangutan suka memakan buah, salah satunya dari genus Artocarpus. | Foto: Four Paws International

Gardaanimalia.com - Manusia bisa belajar dari orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) bagaimana menjalani pola hidup sehat, lho. Seperti apa caranya?

Makanan favorit orangutan adalah buah yang kaya karbohidrat. Ketika buah langka, orangutan beralih makan lebih banyak daun, kulit kayu, dan makanan lain yang dapat menyediakan lebih banyak protein dengan lebih sedikit karbohidrat manis.

Saat buah tersedia dalam jumlah banyak, orangutan tetap mengonsumsi protein, tetapi mendapatkan sebagian besar energinya dari karbohidrat dan lemak dalam buah.

Demikian yang diungkapkan Tim Peneliti dari Rutgers University-New Brunswick yang dirilis pada Agustus 2025 lalu di Science Advances. Primata yang terancam punah ini mengungguli manusia modern dalam menghindari obesitas melalui pilihan makanan dan olahraga yang seimbang, demikian temuan para ilmuwan.

Tim peneliti yang dipimpin Erin Vogel melakukan pengamatan langsung selama 15 tahun terhadap orangutan liar. Penelitian ini dilakukan di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan di Kawasan Konservasi Mawas di Kalimantan Tengah, Indonesia, di Pulau Kalimantan. Kawasan konservasi ini adalah sebuah hutan rawa gambut, melindungi sekitar 764 ribu hektare.

Hutan gambut merupakan ekosistem purba yang kaya keanekaragaman hayati. Lanskapnya yang didominasi pepohonan yang tergenang air dan tumbuh di atas lapisan daun mati dan material tanaman.

Mereka menyimpulkan, orangutan kalimantan liar beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dengan menyesuaikan asupan nutrisi, perilaku, dan penggunaan energi.

“Penelitian ini menyoroti pentingnya memahami pola makan alami dan dampaknya terhadap kesehatan, baik bagi orangutan maupun manusia,” papar Vogel.

Menurut Vogel, orangutan adalah salah satu kerabat terdekat manusia yang masih hidup, dan memiliki nenek moyang yang sama.

Hubungan evolusioner ini berarti bahwa orangutan dan manusia memiliki proses fisiologis dan metabolisme, kebutuhan makanan, dan adaptasi perilaku yang serupa.

“Mempelajari orangutan dapat memberikan wawasan tentang adaptasi evolusioner yang mungkin juga relevan bagi manusia,” ujarnya.

Lanjut Vogel, sebenarnya manusia juga menunjukkan fleksibilitas metabolisme. Sayangnya, pola makan modern yang didominasi makanan olahan dapat mengganggu keseimbangan fleksibilitas metabolisme ini, berakibat pada gangguan metabolisme, seperti diabetes.

Sementara, orangutan mengurangi aktivitas fisik untuk menghemat energi selama periode berbuah sedang rendah.

Ketersediaan buah memengaruhi pola makan orangutan dan bagaimana tubuh mereka beradaptasi untuk menghindari ketidakseimbangan energi.

Para peneliti mengamati bagaimana mereka beralih di antara berbagai jenis bahan bakar–seperti lemak dan protein–ketika ketersediaan makanan yang disukai berubah.

Manusia, terutama yang memiliki gaya hidup tidak aktif, mungkin tidak menyesuaikan pengeluaran energi mereka dengan asupan kalori, yang menyebabkan penambahan berat badan dan masalah kesehatan terkait.

Kebiasaan manusia modern, ditandai dengan tingginya konsumsi makanan olahan yang kaya gula dan lemak, dapat menyebabkan ketidakseimbangan metabolisme dan masalah kesehatan. Inilah yang tidak dilakukan orangutan.

Memahami adaptasi ini dapat membantu kita memahami lebih lanjut tentang bagaimana manusia dapat mengelola pola makan dan kesehatan mereka.

Vogel, yang juga Direktur Pusat Studi Evolusi Manusia di Rutgers, juga menyoroti pentingnya melestarikan habitat orangutan untuk memastikan kelangsungan hidup mereka.

Untuk melakukan studi ini, Vogel, rekan peneliti, mahasiswa, dan staf yang sebagian besar terdiri dari teknisi lapangan yang berasal dari Pulau Kalimantan mengumpulkan data selama lebih dari satu dekade tentang apa yang dimakan orangutan setiap hari.

Para peneliti menganalisis urin mereka untuk melihat bagaimana tubuh mereka merespons setiap perubahan nutrisi. Hal ini mengharuskan mereka untuk tetap berada di dekat kera di hutan khatulistiwa yang lembap dari fajar hingga malam.

Orangutan dapat Menyembuhkan Diri Sendiri

Menanggapi hasil penelitian itu, Guru Besar dari Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM Prof Wisnu Nurcahyo berkata, sepanjang puluhan tahun meneliti orangutan, banyak pengetahuan dan wawasan berharga yang ia dapat, tidak hanya soal konservasi satwa liar, tetapi juga untuk kesehatan manusia.

Wisnu berujar, orangutan mampu mencari sendiri tanaman atau buah-buahan di hutan yang memiliki efek menyembuhkan ketika mereka sakit.

Obat-obatan tersebut berasal dari alam dan dapat dimanfaatkan untuk penyembuhan gejala sakit. Jika diterapkan ke masyarakat, hal ini relevan karena masyarakat di sekitar habitat orangutan juga banyak yang mengonsumsi obat-obatan herbal.

“Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kesehatan,” kata Wisnu.

Tidak hanya mengenai obat dari tanaman, pola hidup orangutan juga memberikan inspirasi penting untuk manusia. Dalam satu hari, orangutan dapat bergerak aktif dengan radius home range sekitar rata-rata lima kilometer persegi.

Aktivitas dinamis ditambah dengan pola makan alami tanpa bahan pengawet, membuat orangutan selalu tampak sehat dan bugar.

“Mirip jika manusia selalu aktif berolahraga setiap hari dan menjaga pola makan dengan makanan sehat, tubuh akan menjadi lebih sehat dan kuat,” tutupnya.