Cerita Pendek

Pemengaruh

12/05/2026|Ari AJ
Ilustrasi Harimau Pemengaruh Foto Pixabayjlloa - Pemengaruh

Ilustrasi Harimau Pemengaruh. | Foto: Pixabay/j_lloa

 Gardaanimalia.com - Ada satu peristiwa yang mengubah kehidupan Satwa selamanya. Aku tak pernah benar-benar bisa menarasikannya tanpa menitikkan air mata. Tatkala fenomena pemengaruh tumbuh subur di kalangan Manusia hingga banyak yang mendulang pundi-pundi dengan menyudutkan kami, pemengaruh yang akan kuceritakan ini merupakan Satwa pertama yang melawan dengan cara yang tak terpikirkan. Pemengaruh itu adalah Harimau bernama Panthera tigris sumatrae

Waktu itu Panthera terbangun dari tidur dalam perasaan ganjil. Susunan huruf “apa kamu sudah membunuh?” sudah cukup mendidihkan darah di tubuhnya sungguhpun pagi itu ia tengah memimpikan istri yang tewas akibat bencana yang sulit lenyap dari ingatan.

Sebelum untaian kata itu terbaca di layar HP, dadanya masih kembang kempis dengan teratur. Matanya belum lama terpejam usai semalaman bergerilya bersama Satwa lain dari satu pos ke pos lain demi keamanan tempat tinggal.

Ketika kelopak matanya masih sayu, lengannya masih lesu, sekejap kemudian benaknya membeku. Tak berbilang notifikasi, pesan, dan komentar di media sosial Instagramnya termasuk dari kakaknya yang berjarak ratusan kilometer. Kini jumlah keluarga besar itu tersisa 130 berdasarkan data Disdukcapilwa (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Satwa).

“Apa benar itu kamu?” demikian suara di ujung telepon.

“Maksudmu?” sanggah Panthera.

“Lihat video yang kukirim! Sudah tersebar, wajahmu terlihat jelas.”

Video dimaksud diputar Panthera saat itu juga.

“Ini kan video…”

“Sudah, sudah, kamu harus ingat, Mahkamah Rimba bisa saja menyidangmu kalau kamu terbukti membunuh. Ibu sudah menonton video itu dan dia sedang syok berat. Sudah dulu, ya, sepertinya aku harus mengantar Ibu berobat.”

Telepon ditutup, Panthera menatap kosong. Video itu diputar lagi, rekaman yang mengundang rasa penasaran itu menampilkan sosok serupa dirinya yang sedang menyerang Kambing bernama Capra aegagrus hircus. Senyum justru terbit di bibir Panthera usai mendapati ada yang janggal dengan video viral cuplikan CCTV tersebut.

***

Tripod berkaki tiga sudah tegak. Naskah panjang ditempel di tiangnya persis di bawah penerangan. Latar belakang khusus sudah menggantung di antara pohon meranti dan keruing. Video yang akan direkam dipastikan tidak akan menunjukkan informasi pribadi spesifik nan sensitif. Telepon pagi itu mengharuskannya segera membongkar kejanggalan demi kejanggalan dalam video yang sudah kadung menyebar.

“Halo, perkenalkan nama saya Panthera tigris sumatrae. Saya adalah Satwa yang dituduh melakukan pembunuhan dalam rekaman CCTV viral belakangan ini. Dalam video ini, saya ingin menegaskan bahwa video itu tidak benar.”

Panthera mengambil napas dalam. Emosinya menuntun untuk meluapkan sejadi-jadinya, namun akalnya mengajak untuk tetap tenang.

Ia menyadari video ini akan membuatnya dijuluki sebagai pemengaruh setelah sekian lama memiliki akun Instagram hanya untuk memantau isu-isu terkini hubungan Satwa dan Manusia, atau sekadar bertukar kabar dengan keluarga melalui pesan pribadi. Menjadi tidak terlalu mencolok di arena itu adalah perintah Mahkamah Rimba demi keselamatan Satwa.

“Bisa dilihat, kepala Harimau dalam video tidak menyatu secara halus dengan badannya. Ini bukti sudah terjadi penyuntingan supaya seolah-olah Harimau sudah membunuh Kambing Pak Capra. Keterangan waktu juga terlihat disunting, ada selisih waktu tidak wajar. Saat video memasuki menit kesatu, keterangan waktu meloncat dari 22.30 ke 23.14. Ada apa di 44 menit yang hilang?”

Video tuntas disunting dan diunggah. Sudah diprediksi Panthera, akan ada akun-akun berita yang meminta izin (atau bahkan tanpa izin) menyebarluaskan dan menulis ulang secara bombastis. Tak ayal, deras komentar bernada miring nan menyentil menanggapi rekaman klarifikasi tersebut.

“Tuh, kan, Revolusi 10 Tahun itu tidak ada hasilnya. Binatang tidak akan setara dengan Manusia. Buktinya mereka saling membunuh.”

“Sebentar lagi juga disidang di Mahkamah Rimba. Kasus mereka pasti lebih banyak dibanding Manusia.”

“Bisa juga nih Satwa jadi influencer. Apakah akan tutup kolom komentar?”

Panthera hanya mengelus dada. 

***

Meletusnya senapan angin AirMaks 177 Katran Pro Compact masih membayang di pikiran. Aroma mesiunya pun masih melekat di penciuman. Jika saja Panthera gagal menyadari dalam sepersekian detik, niscaya ia sudah bertemu istrinya yang sudah berpulang.

Kini, seraya berlari demi menghindari kejaran makhluk-makhluk tegap tak dikenal, perut Panthera laksana akan meledak. Tak terhitung berapa kilometer langkah kaki menyeretnya menjauhi rumah dan membawanya ke Mapolsekwa (Markas Polisi Sektor Satwa) demi menyelamatkan 130 anggota keluarga besar yang tersebar di seantero negeri.

Panggilan di telepon dengan Polisi Satwa mengharuskannya segera mengamankan diri sekaligus menyerahkan data lengkap keluarga termasuk anaknya agar tidak diincar satu demi satu hanya gara-gara video klarifikasinya.

Panthera menduga kuat gerombolan makhluk tak dikenal itu ialah Manusia yang mengancam nyawanya berbekal video klarifikasi yang ditonton lebih dari 700 ribu kali, dikomentari sekira 2.000 akun, dibagikan 1.500-an akun, diunggah ulang kira-kira 1.300 kali. Rekaman tiga menit itu bahkan diduplikasi untuk diunggah ke media sosial lain.

Tak diragukan lagi, wajahnya menyebar dalam konten serius dan parodi, tak sedikit yang memprediksi lokasinya berdasarkan latar belakang yang terlihat di video. Manusia-Manusia itu bak tengah bersekongkol mengungkap siapa dirinya, di mana rumahnya, unggahan terdahulunya bagaimana, Unggahan Ulang-nya tentang informasi apa, Cerita-nya berisi keluh-kesah apa, siapa Teman Dekatnya, adakah Akun Kedua miliknya, akun mana saja yang menandai, dan banyak lagi.

Panthera tidak mengerti dengan cara apa Manusia melacak keberadaan dirinya hanya dari video singkat yang segala petunjuknya sudah dibersihkan. Lalu masuk sebuah pesan dari wajah yang tak pernah buyar dari benaknya, getar seisi badan dibuatnya.

“Hai, binatang jalang! Kami sudah mengunci posisi kamu, kami akan datang padamu!”

Penelusuran kilat menyadarkannya bahwa pengirim pesan tak lain si Manusia Pemburu yang sudah menghasut Manusia Pemilik Ternak yang Kambingnya tewas entah oleh siapa. Membongkar identitas mereka ke publik dalam posisi genting ibarat saat ini tidak akan banyak membantu.

Mereka yang terafiliasi Parlemen Manusia akan bebas dari sanksi hukum. Terlebih, memiliki Penjara Satwa Pribadi di Selatan masih diperbolehkan menurut Peraturan Menteri Kehutanan Manusia Nomor P.19/Menhutma-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar. Syarat memilikinya diatur Peraturan Menteri Kehutanan Manusia Nomor P.69/Menhutma-II/2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kehutanan Manusia Nomor P.19/Menhutma-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar.

Lantas satu video cukup membuat Panthera harus mengambil langkah seribu, video yang mempertontonkan sejumlah petugas perbatasan Negara Kesatuan Rimba Indonesia diberondong peluru oleh sosok bertopeng Satwa tak terhitung jumlahnya. Nahas, nasib Satwa berada di ujung tanduk. 

***

Darah mengalir dari lengan kirinya ketika Panthera berupaya sembunyi dari tembakan bertubi-tubi Manusia Pemburu. Desingan proyektil dari seluruh penjuru mata angin meluluhlantakkan kantor tempat persembunyian para Satwa selama momen mengancam nyawa itu. Apa yang ada di pikiran Panthera tak lain ia harus hidup demi keluarga besar termasuk anaknya yang terancam hilang gara-gara pelanggaran konstitusi terhadap Revolusi 10 Tahun. Revolusi itu digagas untuk memastikan Satwa harus dilindungi hak-haknya serta mendapat perlakuan setara Manusia di mata hukum.

“Keluarlah, binatang jalang! Kami sudah mengepung sarang dan habitat kalian.”

“Cepat keluar, kalian sudah membiarkan pembunuhan terjadi.”

“Mahkamah Rimba akan menghukum kalian karena sudah membuat kambing saya mati sia-sia.”

“Keluar atau kumusnahkan saja spesies kalian ini.”

Ingin Panthera menjelaskan ia sama sekali tak membunuh Kambing Pak Capra dan semua rekaman itu hasil manipulasi akal imitasi, tetapi ia dicegah petugas demi mempertahankan garis keturunan.

Tatkala urat nadi hampir putus, saat harapan akan masa depan hampir pupus, terdengar suara memekik yang amat dikenali Panthera. Suara dari arah langit itu menyebabkan Manusia Pemburu bertopeng Satwa tidak bisa menguasai diri. Mengarahkan senapan angin ke arah datangnya suara akan sia-sia. Moncongnya bisa mengarah ke udara, menghunjam ke tanah, atau melesatkan peluru Kaliber 4.5 mm/.177 menembus dada rekan sekawanan. Itu cukup membuat mereka terduduk di depan Mapolsekwa dalam kondisi senjata terlucuti.

“Untuk Satwa sekalian yang berlindung di dalam Mapolsekwa, kalian sudah bisa keluar. Semua sudah aman,” kata Lebah bernama Apis dorsata.

Panthera dan Polisi Satwa keluar perlahan-lahan dalam keraguan. Sementara ibu dan anak Satwa diminta tetap berada di dalam.

“Kami datang menunaikan titah Sang Ratu: menyelamatkan kalian karena para Manusia ini sudah menembak markas-markas kami di Pohon Sialang secara membabi buta,” kata Apis.

Panthera ingin memastikan semua wajah yang menyerang petugas perbatasan dan Mapolsekwa ialah Manusia yang ia telusuri secara tergesa-gesa identitasnya di media sosial dan internet.

“Kenapa kalian membunuh lagi? Bukannya ini dilarang di Utara?” kata Panthera.

“Kata siapa dilarang? Kalian memang tidak layak hidup. Kami pantas melakukan ini lagi, memburu Harimau besar-besaran. Saya belum puas mencabik-cabik betinamu yang manis itu,” kata Manusia Pemburu diiringi menempelnya moncong senapan pada kepala oleh Panthera yang gelap mata.

“Dari mana kalian tahu lokasi saya?”

“Dasar bodoh, kami bisa tahu karena teknologi kami lebih canggih. Kalian masih hidup di hutan dan zaman batu.”

Napas Panthera menggebu-gebu. Tatapannya mengarah lurus tak berkedip pada Manusia Pemburu yang lidahnya tak pernah menghormati sesama makhluk hidup.

“Pak Polisi, apa hukumnya menembak Manusia Pemburu yang sudah mengancam nyawa, membunuh Satwa, dan merusak rumah kita ini?”

“Pasal 25 Ayat A Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Rimba membolehkan menembak Manusia Pemburu yang menyeberangi teritorial Utara, membunuh Satwa, dan merusak rumahnya.”

Panthera seakan mendapat legitimasi. Begitu genggaman tangannya sudah mantap, tuas senapan sudah dikokang, Manusia Pemburu justru menembakkan ludah ke wajah Panthera. Seketika Polisi Satwa hampir menghajar perutnya, Apis dan koloni hampir menyengat lagi wajahnya, walakin Panthera menurunkan senjata. Ia mengingat saat dulu dirawat oleh Dokter Manusia yang mendukung Revolusi 10 Tahun. Dokter itu menceritakan kisah seorang pemuka agama Manusia yang tiba-tiba enggan membunuh tatkala perang gara-gara takut niatnya membunuh hanya karena naik pitam usai diludahi, bukan membunuh untuk membela agama.

Kisah Panthera yang mendadak menjadi pemengaruh saat itu adalah cerita tentang Ayahku. Ketika perburuan Harimau besar-besaran periode kedua itu, aku sedang dititipkan ke Panti Satwa sebab ibuku meregang nyawa ditembak Manusia Pemburu pada perburuan periode pertama.

Semoga Ayahku bahagia bertemu Ibuku di kehidupan selanjutnya, karena setelah Ayah menurunkan senjata, tubuhnya roboh oleh racun proyektil di lengan kirinya.