Cerita Pendek

Manusia Telah Merenggut Nyawa Temanku

29/09/2025|Afifah Putri Ningdiyah
Mata bagian butuh kami yang sering luput dari perhatian manusia Foto Bayu NandaGarda Animalia - Manusia Telah Merenggut N...

Mata, bagian butuh kami yang sering luput dari perhatian manusia. | Foto: Bayu Nanda/Garda Animalia

Gardaanimalia.com - Mataku besar, bulat, dan gelap. Ibuku selalu berkata bahwa mata kami sering luput dari pesona yang kami tampilkan. Banyak yang tertarik dan mencirikan gigi kami yang besar dan kuat. Padahal, aku sangat menyukai mataku, walau dibandingkan dengan tubuh dan wajahku, mataku sangat kecil.

Pagi ini setelah orang yang bertugas di tempat tinggalku memantau aku dan teman-temanku, juga memberikan buah-buahan dan gula merah (cemilan favoritku), aku bermain dengan keluargaku. Sambil berjelajah, biasanya kami bermain di dekat sungai atau di antara pepohonan yang rindang.

Aku sangat bahagia atas keluarga, teman-teman, dan manusia-manusia yang baik kepadaku. Ibuku pernah bercerita bahwa jumlah kami tidak lagi sebanyak dulu. Banyak dari kami yang mati karena dibunuh manusia tidak bertanggung jawab untuk mengincar gading kami, beberapa juga sakit atau mati karena diracun dan terkena jerat listrik. Seluruh cerita itu sebetulnya membuatku sedikit takut untuk bermain jauh dari ibu, walaupun hanya sebentar.

Malam datang. Aku tidur tidak jauh dari ibuku. Ibuku bangun dan menghampiriku. Ibu berkata, “Shinta, apapun yang terjadi, kau harus tangguh dan bertahan. Bantu temanmu jika temanmu dalam kesulitan.”

Aku termenung dan heran. Aku bertanya mengapa tiba-tiba ibu berkata demikian. Ibu menjawab, “Tentu kau harus kuat dan bertahan, Shinta. Ibu akan selalu mendukungmu, tapi ibu bisa tiada kapan saja. Ibu bisa sakit atau terbunuh oleh manusia seperti teman-teman ibu terdahulu.”

Aku menangis. Sedih sekali mendengar ibu bicara seperti itu, seperti ibu akan meninggalkanku dalam waktu dekat.

Akhirnya aku terlelap di samping ibu. 

Pagi datang, aku sudah bangun dan berjalan-jalan bersama pemandu di tempat tinggalku. Rumahku ini telah dikuasai oleh banyak perkebunan sawit, sehingga ruang jelajah dan tempat mainku semakin menyempit.

Sembari berjalan, pemandu yang bernama Pak Akim bergumam kepadaku, “Sehat terus, ya, Shinta. Perkebunan sawit memang sudah merajalela. Tempat main Shinta dan kawan-kawan sudah menyempit, ya?” 

Aku terus berjalan sambil mengunyah pisang yang diberikan Pak Akim sebelumnya.

“Semoga Pak Akim bisa terus ajak bermain Shinta dan kawan-kawan lainnya dalam waktu yang lama, ya. Sampai Shinta punya anak, Pak Akim bisa bermain juga dengan anak Shinta.”

Tidak lama kemudian, sampailah aku dan Pak Akim di wilayah yang agak dekat dengan perkebunan. Aku mendengar suara rintihan secara samar, tetapi tidak jauh dari tempatku berhenti sekarang.

Rintihan itu seperti suara Kamal, temanku. Aku berusaha memberi tahu Pak Akim dengan sekuat tenaga, aku berjalan dan Pak Akim pun mengikuti. Begitu suara rintihan itu terdengar semakin jelas, suaranya justru terdengar semakin lemah. 

Langsung kudapati bahwa benar suara itu suara Kamal. Kamal terjerat listrik pembatas ke perkebunan sawit. Aku berteriak, dan wajah Pak Akim pun jelas terlihat panik walau ia akhirnya berusaha tenang dan berlari untuk mencari pertolongan setelah berpesan padaku untuk menjaga Kamal sampai ia kembali. Aku menangis melihat kondisi kawan baikku, Kamal. 

Pak Akim kembali dengan tujuh orang lainnya untuk membantu Kamal. Saat proses evakuasi baru berjalan 15 menit, Kamal tidak lagi bernapas. Diperkirakan Kamal telah terjerat arus listrik dua jam sebelum ditemukan.

Kamal telah pergi untuk selamanya.

Aku kembali untuk menemui ibu dan langsung menangis di dekat tubuh ibu. Ibu menenangkanku dengan berkata bahwa setidaknya Kamal sudah tidak merasakan sakit lagi.

Ibu sangat marah dan mengingatkanku bahwa kematian teman-teman kami kebanyakan akibat ulah manusia serakah yang memenuhi rumah kami dengan perkebunan sawit, memasang jerat dan pagar listrik sembarangan, dan membunuh untuk mengambil gading kami. 

Di sisi lain, aku marah sekaligus ketakutan. Rintihan suara Kamal sebelum mengembuskan napas terakhirnya terus menyelimuti pikiranku.

Aku menyukai mataku, tetapi harus kuakui bahwa penglihatan mataku dan mata para gajah lainnya tidaklah bagus. Itu sebabnya ketika sedang bermain dan malam menjelang, aku selalu kembali ke ibuku lebih cepat karena jika hari sudah gelap tentu aku semakin sulit melihat sekitar.

Aku sangat takut terjerat kawat listrik seperti Kamal. Oh Kamal yang malang… Manusia telah merebut tempat tinggalku, temanku, dan juga keluargaku.