Wawancara

Peneliti Queen Mary, Fitra Arya Dwi Nugraha: Dampak Perubahan Iklim pada Reproduksi Penyu

26/02/2026|Irvan Sjafari
Fitra Arya Dwi Nugraha dan penyu di Tanjung Verde Foto dokumentasi pribadi - Peneliti Queen Mary Fitra Arya Dwi Nugraha D...

Fitra Arya Dwi Nugraha dan penyu di Tanjung Verde. | Foto: dokumentasi pribadi

Gardaanimalia.com - Selama tujuh belas tahun para peneliti dari Universitas Queen Mary London bersama aktivis lingkungan dari LSM Associação Projeto Biodiversidade mengamati penyu tempayan (Caretta caretta) yang bersarang di Pulau Sal, Republik Cabo Verde, yang terletak sekitar 600 kilometer dari lepas pantai Afrika.

Para peneliti itu akhirnya merilis hasil penelitiannya pada 12 Februari 2026 di laman Universitas Queen Mary. Hasil penelitian menyatakan bahwa perubahan iklim yang berdampak pada pemanasan laut memicu waktu penyu tempayan bersarang lebih awal. Sayangnya, ini berakibat pada berkurangnya jumlah telur yang dihasilkan betina.

Salah seorang penulis utama studi itu adalah Fitra Arya Dwi Nugraha, staf pengajar Departemen Biologi Universitas Negeri Padang sekaligus peneliti S3 Universitas Queen Mary.

Fitra mengatakan, penyu laut menyesuaikan waktu bertelur dengan suhu yang lebih hangat, yang menunjukkan kapasitas fleksibilitas yang luar biasa.

Dengan menggunakan drone, para ilmuwan memotret populasi yang berkembang biak dan menemukan rasio betina dan jantan sebesar 9:1.

“Kita dapat membedakan antara betina dan jantan berdasarkan ekornya. Jantan memiliki ekor yang lebih panjang dan lebih tebal,” kata Fitra Arya Dwi Nugraha.

Namun pada saat yang sama, bagian Samudra Atlantik yang mereka andalkan untuk makanan menjadi kurang produktif–dan itu secara diam-diam mengikis jumlah telur yang mereka hasilkan.

Garda Animalia mewawancarai Fitra via WhatsApp tentang penelitian ini pada 13 dan 14 Februari 2026.

Apa latar belakang memilih meneliti penyu?

Penyu merupakan hewan kharismatik, endangered, dan dilindungi. Untuk menjaga kelestariannya, kita memerlukan langkah-langkah yang didasari oleh bukti sains.

Di Indonesia, kita merupakan negara kepulauan yang banyak memiliki populasi-populasi penyu. Saya ingin berkontribusi nantinya bagi kelestarian penyu di Indonesia.

Oleh karena itu, saya bergabung dengan grup penelitian The Turtle Project dari Queen Mary University of London yang dipimpin oleh Prof. Christophe Eizaguirre.

Saya sekarang sedang menyelesaikan S3 di London. Setelah selesai saya kembali mengajar dan meneliti di kampus Universitas Negeri Padang.

Uploaded content
Fitra Arya Dwi Nugraha, peneliti S3 Universitas Queen Mary. | Foto: Queen Mary University

Apakah satwa laut ini memang terdampak perubahan iklim?

Perubahan iklim tidak dipungkiri lagi berdampak pada banyak spesies hewan, salah satunya penyu.

Musim kawin, jumlah telur yang dihasilkan, jumlah telur yang berhasil menetas, proporsi jenis kelamin tukik yang dihasilkan; itu semua dipengaruhi oleh global warming.

Musim kawin penyu laut tempayan itu dipengaruhi oleh suhu air laut. Jika hangat, mereka memulai musim kawin lebih cepat, jika lebih dingin mereka memulainya lebih lambat.

Tidak dipungkiri dengan adanya global warming, waktu musim kawin dapat menjadi lebih cepat dari sebelum-sebelumnya. Ini merupakan salah satu bentuk adaptasi penyu terhadap perubahan iklim.

Yang perlu menjadi catatan adalah perubahan iklim berlangsung begitu cepat dan kita harus mengambil tindakan sebelum terlambat.

Di penelitian ini kami tidak spesifik menghitung berapa persen jumlah pengurangan telur. Di sini kami menemukan hubungan signifikan antara [ketersediaan] makanan di habitat dengan rata-rata jumlah telur yang ditetaskan. Semakin berkurang makanan, semakin berkurang rata-rata jumlah telur.

Apakah penyu tempayan ini hanya ada di Cabo Verde? Apakah ada di tempat lain seperti Indonesia?

Penyu tempayan tersebar luas di dunia. Tiga populasi terbesar ada di Cabo Verde, Florida (Amerika Serikat) dan Oman.

Di Indonesia sendiri, penyu tempayan sangat sedikit laporannya, yang paling banyak di Indonesia adalah penyu hijau, sisik, dan belimbing.

Bagaimana suka duka dalam penelitian ini?

Di Cabo Verde, sebuah NGO bernama Project Biodiversity telah melakukan upaya konservasi dan monitoring sejak 2008 hingga sekarang. Tanpa adanya monitoring dari mereka, penelitian saya ini tidak mungkin terlaksana.

Pada penelitian saya, saya menggunakan data 17 tahun pengamatan, di mana setiap tahunnya pengamatan dilakukan pada bulan Juni hingga Oktober.

Selama periode itu, para peneliti dan volunteer setiap malam menuju lokasi bersarang penyu di pantai, mulai pukul 8 malam hingga 6 pagi hari.

Pengamatan dilakukan menggunakan sistem pergantian. Tentu melakukan monitoring seperti ini butuh kesabaran yang banyak.

Pengalaman yang sangat dikenang adalah ketika kita harus digigit nyamuk saat patroli, menendang batu di pantai karena kita tidak menggunakan penerangan saat berjalan biasa [agar tidak mengganggu penyu, mereka sensitif terhadap cahaya].

Seperti apa tempat penelitian anda? Lalu, di mana anda tinggal?

Tempat kami penelitian merupakan sebuah kota kecil dari sebuah pulau kecil.

Ekonomi penduduk sudah berkembang dengan pesat sehingga banyak tempat yang bisa dijadikan basecamp.

Selain itu, NGO Project Biodiversity juga sudah memiliki camp tersendiri. Sehingga logistik bukan lagi permasalahan serius untuk menjalan misi pelestarian penyu di sana.

Banyak peneliti dari berbagai perguruan tinggi berkolaborasi dengan NGO. Setiap tahunnya mereka merekrut volunteer internasional untuk berkontribusi pada pekerjaan monitoring.

Apakah yang diungkapkan dalam penelitian itu juga berlaku bagi spesies penyu lain, seperti penyu belimbing atau penyu hijau yang banyak ditemukan di Indonesia? 

Secara teori, penyu harus beradaptasi terhadap lingkungan, terutama suhu.

Jika tidak beradaptasi tentu akan mengalami penurunan daya tahan hidup. Contohnya, jika tidak menyesuaikan musim kawin karena perubahan suhu, mereka akan menetaskan telurnya pada saat suhu lingkungan tidak cocok untuk inkubasi telur sehingga dapat menyebabkan kegagalan penetasan.

Contoh lain, di Cabo Verde, jumlah telur menurun ketika makanan di tempat mereka mencari makanan menurun. Tentu hal ini bisa saja terjadi jika kita tidak menjaga kelestarian area tempat mereka mencari makan.

Oleh karena itu, pesan singkat dari penelitian ini adalah:

  1. Terus lakukan patroli dan monitoring karena itu akan menjaga kelestarian penyu dan menghasilkan data yang dapat dijadikan rujukan untuk manajemen konservasi.
  2. Jaga kelestarian habitat bertelur dan habitat mencari makan.
  3. Kenali perubahan iklim sebagai salah satu ancaman terhadap kelestarian penyu.
Menjaga kelestarian penyu membutuhkan sumberdaya yang kompleks. Kita butuh kesabaran, membangun sistem, mencari support baik finansial maupun material. Membangun jejaring dengan warga lokal dan pemerintah lokal juga merupakan kunci dasar saat membangun sistem.