Wawancara

Peneliti Palenteologi UGM Donan Satria Yudha: Perubahan Iklim dan Penguasaan Lahan Manusia Mengancam Komodo

17/06/2026|Irvan Sjafari
Dosen di Laboratorium Sistematika Hewan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada UGM sekaligus pemerhati satwa liar Donan...

Dosen di Laboratorium Sistematika Hewan, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus pemerhati satwa liar, Donan Satria Yudha. | Foto: dokumentasi pribadi

Gardaanimalia.com - Populasi komodo saat ini diperkirakan sebanyak 3.319 ekor. Satwa langka ini terancam tak hanya karena perburuan liar dan predator alami, tetapi juga karena perubahan iklim dan habitatnya yang semakin menyusut. Demikian diungkapkan Dosen di Laboratorium Sistematika Hewan, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada sekaligus pemerhati satwa liar, Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc., yang pernah melakukan penelitian di Pulau Rinca.

Pengajar Paleontologi dan Herpetologi ini mengatakan, keberadaan Taman Nasional Komodo merupakan solusi guna mengurangi tekanan terhadap habitat komodo yang terdegradasi.

“Namun, di daerah atau wilayah lain, sebaiknya dilakukan hal yang sama, yaitu kawasan konservasi komodo,” ujar Donan kepada Garda Animalia melalui WhatsApp, 21 Mei 2026.

Masalah utama datang dari manusia, yaitu penguasaan lahan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Sulit untuk mengantisipasi ancaman akibat manusia, karena sifatnya cepat dan sporadis.

Berikut petikan wawancara dengan lulusan Institute of Human Paleontology, National Museum of Natural History, Paris, France (2000) dan lulusan Biologi UGM (1999) ini.

Secara umum, apakah kelestarian komodo masih kuat dan optimis?

Secara umum, konservasi komodo (Varanus komodoensis) di dalam area Taman Nasional (Pulau Rinca dan Pulau Komodo) masih kuat dan optimis. Hanya saja, perlu adanya koordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat agar tidak memperluas atau menambah jumlah sektor ekowisata (penginapan, kunjungan dan sebagainya).

Salah satu indikasi kuat dan optimisnya konservasi komodo adalah populasi komodo yang stabil dengan kecenderungan meningkat.

Jika populasi meningkat, maka area konservasi juga [perlu] diperluas, agar mereka tidak saling berkompetisi. Jika area di luar kawasan konservasi yang masih satu pulau (misal, di Pulau Rinca), telah diubah menjadi area ekowisata, maka kekuatan dan optimisme konservasi komodo akan menurun setiap tahunnya.

Jadi, kesimpulannya adalah mengurangi atau bahkan jika bisa menghentikan perluasan area ekowisata yang tidak dikelola Taman Nasional Komodo.

Laman UGM menyebut bahwa keberadaan Taman Nasional Komodo merupakan solusi guna mengurangi tekanan komodo akibat habitat yang terdegradasi. Namun, bagaimana di wilayah lain?

Benar, keberadaan Taman Nasional Komodo merupakan solusi guna mengurangi tekanan komodo akibat habitat yang terdegradasi. Di daerah atau wilayah lain, sebaiknya dilakukan hal yang sama, yaitu kawasan konservasi komodo.

Spesies komodo dijadikan flagship, keystone dan umbrella species dalam membuat kawasan konservasi. Contoh usulan, Kawasan konservasi berupa Suaka Margasatwa Komodo di wilayah Riung atau Ngada. Dapat dideskripsikan bahwa di Riung atau Ngada juga terdapat populasi komodo.

Populasi mainland ini memiliki perbedaan morfologis dengan komodo di kepulauan. Keunikan atas dasar perbedaan morfologis ini sangat baik untuk dunia penelitian dan cerita sejarah kehidupan, sehingga keberadaan populasi komodo di Riung perlu dilestarikan.

Mengapa ada perbedaan fisik antara komodo di Pulau Rinca dengan Kabupaten Ngada?

Perbedaan fisik dua populasi komodo di Pulau Rinca dengan Kabupaten Ngada disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya Ekosistem Rinca yang beragam mendukung keberadaan mangsa komodo berukuran besar, seperti rusa timor dan kerbau air.

Rusa timor adalah hewan dilindungi undang-undang sehingga manusia tidak berani memburu dan mengonsumsi spesies tersebut. Kerbau air di Rinca umumnya adalah hewan liar, bukan peliharaan. 

Kedua spesies mangsa tersebut menyediakan kalori yang melimpah, menyebabkan komodo di Rinca dapat tumbuh menjadi jauh lebih besar.

Sebaliknya, ekosistem di Riung (terletak di Kabupaten Ngada) didominasi sabana kering dan pesisir, sehingga tidak banyak tersedia mangsa yang berukuran besar. Komodo populasi Riung bertahan hidup dengan memakan mangsa yang lebih kecil, seperti tikus, ular, burung kecil, dan hal tersebut memengaruhi ukuran tubuh mereka yang lebih kecil.

Kondisi habitat di Pulau Rinca didominasi oleh sabana yang panas dan kering. Iklim-mikro yang beragam di Taman Nasional Komodo menyediakan kondisi optimal untuk mencari makan dan berjemur.

Reptil adalah hewan ektotermis (membutuhkan panas dari luar guna proses metabolisme), sehingga ketika memakan mangsa ukuran besar dan berjemur di panas matahari yang cukup, dapat membantu komodo tumbuh lebih besar.

Uploaded content
Donan Satria Yudha saat berada di Pulau Rinca, salah satu habitat komodo yang termasuk dalam kawasan Taman Naional Komodo. | Foto: dokumentasi pribadi

Apakah benar satwa langka ini terancam tak hanya dari perburuan liar dan predator alami, tetapi juga karena perubahan iklim dan habitatnya yang semakin menyusut?

Benar bahwa perubahan iklim dapat memengaruhi populasi komodo. Pertama, sebagian besar komodo biasanya hidup di sabana dataran rendah dan hutan pesisir. Kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim akan membanjiri dan menghilangkan sebagian besar area yang menjadi tempat hidup mereka.

Kedua, komodo memangsa hewan lain, terutama mamalia, seperti rusa, babi hutan, tikus, dan sebagainya. Perubahan curah hujan dan suhu akibat perubahan iklim akan memengaruhi jumlah atau populasi mangsa komodo tersebut.

Ketiga, komodo adalah reptil yang bersifat ektotermis, sehingga ia kesulitan atau memiliki keterbatasan untuk menyebar, bermigrasi, mengokupasi wilayah lain yang lebih dingin dan atau lebih jauh. Semua reptil, termasuk komodo, rentan terhadap perubahan iklim.

Ancaman penyusutan habitat dari perubahan iklim sebenarnya masih dapat diantisipasi oleh pihak taman nasional maupun stakeholder lain, termasuk Yayasan Komodo Survival Program, karena sifatnya yang lambat dan dapat dideteksi secara dini. Masalahnya adalah ancaman datang dari manusia itu sendiri, yaitu penguasaan lahan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Sulit untuk mengantisipasi ancaman akibat manusia, karena sifatnya cepat dan sporadis.

Ketersediaan pakan komodo, seperti rusa timor di Pulau Rinca sejauh yang saya tahu masih stabil, walaupun terdapat fluktuasi populasi, tetapi masih di dalam taraf normal.

Jika warga Pulau Rinca dan Pulau Komodo sejahtera, maka mereka akan dengan senang hati membantu pemerintah dalam menjaga kelestarian komodo.  Nah, apakah Mas Donan punya usulan bagaimana melibatkan warga?

Pelibatan warga lokal dalam menjaga kelestarian komodo sebenarnya sudah dilakukan TN komodo dibantu dengan Yayasan Komodo Survival Program (KSP).

Beberapa diantaranya, yaitu mempekerjakan mereka sebagai penjaga taman nasional, memberikan pelatihan menjadi pemandu wisata taman nasional, dan memberikan pelatihan sebagai Mitra Polisi Kehutanan Komunitas untuk berpatroli melawan pemburu liar.

Selain tu, bisa pula dengan memberdayakan mereka untuk memproduksi dan menjual kerajinan tangan lokal.

Saya rasa keempat poin tersebut sudah sangat baik, mungkin perlu penambahan berupa pendampingan dan konsultasi manajemen terutama di poin.