Wawancara

Kenal Kukang Lebih Dekat Bersama YIARI: Isu dan Kondisi Terkini

11/06/2026|Dewi Puspasari
Meski sering kali dianggap menggemaskan kukang tetapkan satwa liar Foto YIARI - Kenal Kukang Lebih Dekat Bersama YIARI Is...

Meski sering kali dianggap menggemaskan, kukang tetapkan satwa liar. | Foto: YIARI

Gardaanimalia.com - Kukang (Nycticebus sp.) menjadi salah satu satwa liar yang menjadi sorotan beberapa tahun terakhir. Satwa ini sempat ramai diperjualbelikan secara ilegal di media sosial sebagai hewan peliharaan.

Kini, upaya untuk menghentikan kegiatan tersebut gencar dilakukan dengan cara sosialisasi dan edukasi. Salah satunya yang mengupayakannya adalah Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Pada kesempatan kali ini, saya berkesempatan melakukan wawancara dengan Senior Manajer Edukasi dan Penyadartahuan YIARI (Kukangku) Ismail Agung Rusmadipraja.

Berikut hasil wawancaranya:

Bagaimana kondisi populasi kukang di Indonesia saat ini? Apakah ada jenis kukang tertentu yang kondisinya lebih memprihatinkan?

Populasi kukang di alam hingga kini belum banyak diketahui karena minimnya penelitian. Namun, indikasi yang mengancam populasi seperti hilangnya habitat, eksploitasi (perdagangan dan pemeliharaan), serta infrastruktur seperti jaringan listrik, cukup berpengaruh terhadap populasi di alam.

Data terbanyak yang berhasil kami kumpulkan saat ini adalah kukang jawa. [Secara garis besar], hampir semua kukang di Indonesia dalam kondisi terancam.

Saat ini apakah perdagangan ilegal kukang masih marak terjadi, baik melalui media sosial, komunitas tertentu, maupun perdagangan secara langsung?

Berdasarkan data pantauan, sejak 2017 tren perdagangan kukang telah mengalami penurunan drastis, dari ribuan iklan penawaran di medsos kini berkurang menjadi seratusan iklan dalam lima tahun terakhir.

Meski demikian, perdagangan kukang tetap harus diawasi. Perbedaan generasi dari pengguna medsos maupun pelaku perdagangan bisa saja berubah jika tidak ada edukasi yang konsisten. 

Menurut YIARI, apa tantangan terbesar yang dihadapi kukang dan satwa liar lainnya di Indonesia saat ini?

Pada lima tahun terakhir ini isu kukang tersengat di jaringan listrik menjadi salah satu fenomena dengan jumlah kasus yang tinggi melampaui angka perdagangan.

Studi kasus kematian kukang di jaringan listrik baru berdasarkan data dari wilayah Lampung. Situasi serupa bisa saja terjadi di wilayah lain yang instalasi jaringan listriknya bersinggungan dengan habitat kukang.

Perlu ada kolaborasi multipihak untuk meredam angka kasus, serta inovasi kelistrikan yang ramah terhadap satwa.

Selain itu, tren pemeliharaan satwa liar juga masih marak terjadi. Meski tidak spesifik pada kukang, tetapi tren semacam ini bisa berkembang pada spesies yang tidak dilindungi, spesies asing dan eksotik. Hal ini juga rentan pada meningkatnya tren penyiksaan satwa di media sosial. 

Selain perdagangan ilegal, apakah kerusakan habitat dan alih fungsi lahan juga berdampak besar terhadap kehidupan kukang.

Tentu saja, tetapi belum bisa dipastikan karena belum banyak penelitian yang mendata sebaran populasi kukang.

Indikasi seperti ini bisa mulai kita rasakan ketika ada temuan masyarakat terhadap kukang yang masuk ke rumah. Atau pergerakan kukang yang beralih di jaringan listrik, [padahal] seharusnya berpindah dari pohon ke pohon. 

Banyak masyarakat menganggap kukang sebagai hewan lucu dan menggemaskan. Mengapa sebenarnya kukang tidak cocok dipelihara di rumah?

Jelas karena kukang adalah satwa liar. Perlakuan pemeliharaan kukang cenderung abai pada lima prinsip kesejahteraan satwa. Selain itu, ada juga risiko berbahaya seperti gigitan kukang yang berbisa.

Risiko gigitan berbisa ini juga menjadi awal penyiksaan kukang. Pada kasus perdagangan sebelumnya, pedagang memotong gigi kukang agar calon pembeli atau pemelihara aman.

Sayangnya, efek dari pemotongan gigi ini berakibat pada infeksi mulut dan kematian [pada kukang].

Dari kasus yang pernah kami tangani, rata-rata kukang peliharaan dengan gigi terpotong hanya bertahan hidup selama enam bulan. 

Bagaimana kondisi kukang yang pernah dipelihara manusia sebelum akhirnya diselamatkan? Trauma atau dampak seperti apa yang biasanya mereka alami?

Salah satu ciri kukang bekas peliharaan yang dulu kami tangani biasanya terlihat dari kondisi gigi yang terpotong. Selain itu, juga ada indikasi luka pada bagian pantat akibat dipaksakan di dalam kandang sempit.

Kondisi tubuh yang tidak ideal, seperti kurus atau bahkan obesitas juga pernah kami temui. Anomali perilaku kukang juga banyak ditemukan karena pengaruh interaksi dan kebiasaan selama pemeliharaan.

Di beberapa kasus lain, kukang yang dipelihara dari bayi dengan harapan akan lebih jinak, ternyata mengalami pertumbuhan malnutrisi, seperti tulang bengkok dan rapuh. 

Apa saja proses perawatan dan rehabilitasi yang dilakukan sebelum kukang dapat dilepasliarkan kembali ke habitatnya?

Proses perawatan dan rehabilitasi bertujuan untuk memulihkan kondisi fisik, perilaku, dan kesehatan kukang.

Proses ini melalui banyak tahapan, mulai dari karantina, pemeriksaan berkala, pemberian nutrisi, hingga monitoring perilaku.

Kukang yang memenuhi aspek kondisi baik dari kesehatan dan perilaku akan menjadi kandidat lepas liar dan ditempatkan pada kandang enclosure yang lebih luas dan semi-alami.

Uploaded content
Proses rehabilitasi kukang sampai akhirnya dapat dilepasliarkan membutuhkan waktu yang panjang. | Foto: YIARI

Apakah semua kukang hasil penyelamatan bisa kembali dilepas ke alam liar? Apa saja faktor yang menentukan keberhasilannya?

Sayangnya tidak semua kukang punya kesempatan ini. Kukang dengan kondisi cacat maupun sakit, akan menghabiskan sisa hidupnya di suaka satwa.

Meski demikian, kukang yang memiliki cacat fisik masih memiliki kesempatan dilepas liar apabila hasil observasi aktivitas dan perilaku memperlihatkan kecakapan yang baik untuk mengeksplorasi.

Bisa diceritakan bagaimana proses pelepasliaran kukang dilakukan? Apakah ada pemantauan khusus setelah mereka kembali ke hutan?

Sebelum pelepasliaran, kami perlu menentukan lokasi pelepasliaran yang sesuai dengan tipe habitat kukang, status kawasan, serta kondisi sosial masyarakatnya. Setelah kategori tersebut terpenuhi, maka lokasi tersebut dapat direkomendasikan sebagai lokasi pelepasliaran.

Setelah translokasi dari pusat rehabilitasi ke lokasi rilis, kukang tidak langsung dilepasliarkan. Ada proses habituasi sekitar 1-2 minggu atau bahkan lebih tergantung situasi di lapangan.

Ya, pemantauan dilakukan setelah pelepasliaran, dulu proses ini dilakukan hingga satu tahunan karena kami perlukan sebagai bahan evaluasi, pembuatan SOP dan menganalisa tingkat keberhasilan.

Kukang yang dipantau dipasang pelacak radio collar dengan transmitter. Jika pemantauan telah cukup data, radio collar akan dicabut.

Untuk saat ini, pemantauan pasca-rilis tidak dilakukan dalam jangka waktu panjang.  

Apa peran YIARI dalam upaya penyelamatan dan perlindungan kukang di Indonesia?

Sebagai pusat rehabilitasi kukang terbesar di Indonesia, YIARI berperan untuk membantu pemerintah (Kemenhut dan BKSDA) menangani kukang.

Keberadaan pusat rehabilitasi juga turut membantu meyakinkan upaya penegakan hukum, aparat dapat lebih fokus pada penindakan, sedangkan satwa hasil sitaan dapat ditangani oleh dokter dan perawat satwa yang ahli.

Strategi holistik yang dilakukan YIARI berhasil meningkatkan kesadaran publik dan menurunkan angka perdagangan.

Bagaimana cara YIARI melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga satwa liar dan menghentikan perdagangan ilegal?

YIARI melakukan pendekatan holistik dalam menjalankan program-programnya. Yang meliputi perlindungan habitat dan keragaman hayati, pemberdayaan masyarakat, edukasi dan publikasi, dukungan penegakan hukum, dan program-program lainnya.

Edukasi difokuskan pada dampak perubahan perilaku. Kegiatan edukasi dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu penjangkauan secara langsung (outreach), dan juga kampanye digital.

Khusus untuk kukang, kami telah membangun platform digital edukasi Kukangku yang telah berdiri sejak 2014.

Menurut YIARI, apakah kesadaran masyarakat terhadap perlindungan satwa liar mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir?

Dinamika ini sangat menarik. Namun, kami merasakan perubahan dan partisipasi masyarakat yang mendukung upaya perlindungan satwa liar. Namun di sisi lain, keberpihakan negatif juga masih bisa kami temukan, misalnya pada konten satwa liar peliharaan.

Apa tantangan terbesar dalam mengedukasi masyarakat agar tidak membeli ataupun memelihara satwa liar dilindungi?

Penyebarluasan materi edukasi dan konsistensi. Seringkali masyarakat membeli atau memelihara karena alasan tidak tahu.

Di era saat ini,, informasi sangat mudah didapatkan, tetapi tidak semua masyarakat bisa terpapar oleh informasi.

Jika edukasi tidak dilakukan secara konsisten, ada kemungkinan terjadi gap, khususnya di generasi baru yang mulai mencoba-coba.

Selain itu juga pentingnya ada pengawasan dan interaksi publik yang bisa saling mengingatkan. 

Influencer pemelihara sangat berpengaruh. Meski sering menggunakan istilah edukasi, praktik yang dilakukan cenderung bertentangan dengan tujuan konservasi alam, atau lebih tepatnya kolektor.

Platform digital dan monetisasi juga menjadi masalah baru. Perilaku ini menjadi peluang baru bagi konten kreator dengan menggunakan satwa sebagai daya tarik konten yang bisa dimonetisasi. 

Apa yang dapat dilakukan masyarakat awam untuk membantu menjaga kelestarian kukang dan satwa liar lainnya?

Hal yang paling sederhana adalah tidak beli, tidak pelihara. Kejahatan terhadap satwa liar akan terus ada jika siklus pasoknya masih didukung.

Ketika minat memelihara kukang menurun, pasokan perdagangan kukang juga mengalami penurunan.

Untuk masyarakat yang dekat dengan habitat kukang, bisa terlibat dengan menjaga ekosistem lokalnya dan hidup berdampingan dengan kukang di alam.

Adakah pengalaman atau kisah penyelamatan kukang yang paling membekas bagi tim YIARI?

Kasus penyelundupan kukang Sumatera dari Bakauheni ke Merak di tahun 2013 mungkin merupakan titik momentum kami dalam menerapkan strategi konservasi kukang yang berkelanjutan.

Apa pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap kukang?

Masyarakat seringkali bertanya, "Apa peran kukang bagi manusia?" Banyak penjelasannya, tetapi belum tentu mudah diterima karena manfaatnya tidak dirasakan secara langsung.

Justru pertanyaan ini harus kita balik, "Apa peran manusia bagi kukang?"

Kita bisa membuat pilihan. Melindunginya dengan cara yang benar, atau membiarkannya punah.


#StopKekangKukang