Gardaanimalia.com - Kalong kapauk adalah mamalia anggota bangsa kelelawar (Chiroptera) dari subordo Megachiroptera, famili Pteropodidae, dan marga (genus) Pteropus. Spesies ini memiliki nama ilmiah Pteropus vampyrus.
Subordo Megachiroptera beranggotakan kalong-kalong pemakan buah dan/atau nektar, mempunyai ukuran tubuh yang relatif besar, dan bentuk wajah yang menyerupai anjing dengan rahang yang kokoh. Kalong kapauk, memiliki ukuran tuuh terbesar d antara kalong lainnya.
Bagian perutnya memiliki rambut panjang dan lembut. Sementara, rambut bagian ounggung atasnya pendek, kaku dan berwarna cokelat tua. Jantan memiliki rambut lebih tebal dan ukuran lebih besar daripada betina.
Panjang lengan bawah 180–220 milimeter dengan bentangan kedua sayap dapat mencapai 1,5 meter dan bobot tubuh 0,8–1,5 kilogram.
Kalong menggunakan mata dan penciuman yang sangat tajam untuk menentukan arah terbang, mengenali benda-benda di sekitarnya, dan mencari buah-buahan.
Habitat Kalong Kapauk
Sama seperti bangsa kelelawar lainnya, kalong merupakan satwa nokturnal, hidup berkelompok, dan bersarang membentuk koloni mencapai ribuan ekor dalam satu kelompok.
Satwa memiliki kemampuan terbang sejauh 45 - 60 kilometer dalam semalaman untuk mencari makan.
Kalong umumnya dapat ditemui pada daerah pantai hingga dataran rendah sampai ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), bersarang pada cabang-cabang di puncak pohon besar, dan pada umumnya bergelantungan pada ketinggian 15–45 meter.
Kalong kapauk tersebar di Indonesia, Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand, dan Filipina. Untuk Indonesia, kalong kapauk tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, dan Timor.
Terbang di kala senja dan musim buah
Sebagai hewan yang aktif di malam hari, kalong akan memulai perjalanan mencari makanan pada waktu senja.
Saat musim buah tiba, mobilitas kalong akan terlihat lebih sering di langit senja dan terbang secara bergerombolan menuju hutan.
Musim buah juga menjadi spesial bagi kalong karena umumnya kelahiran anak kalong terjadi di musim ini. Masa kehamilannya sekitar enam bulan 15 hari dengan satu ekor anak per kelahiran.
Terbang dan Menyebarkan Kehidupan
Di alam, kalong juga termasuk sebagai salah satu "petani hutan" yang membantu regenerasi hutan dengan menyebarkan biji secara alami melalui kotorannya.
Buah-buahan yang dimakan di dalam hutan seperti durian, langsat, dan mata kucing. Adapun buah-buahan yang dimakan di sekitar permukiman masyarakat seperti jambu dan mangga.
Selain membantu menyebarkan biji, kalong juga berperan sebagai polinator dengan memakan nektar pada berbagai bunga dan membantu proses penyerbukan pada beberapa pohon buah di hutan seperti durian.
Kondisi Kalong Masa Kini
Di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, kalong menghadapi tantangan perburuan untuk tujuan konsumsi karena dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit asma.
Selain itu, kerusakan habitat dan anggapan masyarakat tentang kalong sebagai hama untuk perkebunan komoditas buah-buahan kian mengancam penurunan populasi kalong.
Di Indonesia, kalong tidak dilindungi, tetapi secara global berstatus terancam punah (endangered) dalam The IUCN Red List of Threatened Species 2021.
















