Edukasi

Tangkal Zoonosis dari Pasar Hewan: Regulasi, Edukasi, Aksi!

27/08/2025|Garda Animalia
Monyet ekor panjang yang dijual di pasar hewan berpotensi menularkan penyakit. | Foto: Garda Animalia

Monyet ekor panjang yang dijual di pasar hewan berpotensi menularkan penyakit. | Foto: Garda Animalia

Gardaanimalia.com - Zoonosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), terdapat lebih dari 200 jenis zoonosis yang telah teridentifikasi.

Temuan mengejutkan lainnya datang dari tinjauan pustaka yang dilakukan Taylor et.al. Dalam laporannya, mereka menyebut dari 1.415 jenis organisme penyebab infeksi yang bisa menular ke manusia, 868 jenis atau 61 persen di antaranya bersifat zoonosis.

Pasar hewan, khususnya pasar hewan hidup (live animal markets), dianggap sebagai salah satu sumber utama kemunculan patogen zoonotik. Wabah COVID-19 (Zhou et al., 2020) dan H5N1 mempertegas peran penting tempat ini dalam epidemiologi penyakit.

Pasar hewan menjadi tempat rawan penularan virus lintas spesies karena kondisi sanitasi yang buruk, keberagaman hewan, dan kontak erat antara manusia dan hewan. Oleh karena itu, pencegahan zoonosis di pasar hewan menjadi hal yang mendesak.

Mengapa Pasar Hewan Jadi Titik Kritis Penularan Zoonosis?

Uploaded content
Pasar hewan dapat menjadi tempat yang ideal untuk menularkan penyakit karena di sanalah kontak manusia dan satwa liar sangat erat. | Foto: Garda Animalia

Zoonosis terjadi melalui berbagai jalur, yakni kontak langsung, konsumsi daging yang tidak dimasak sempurna, paparan cairan tubuh, udara, atau melalui perantara vektor. Di pasar hewan, semua jalur ini dapat terjadi.

Pasar hewan hidup memiliki karakteristik yang membuatnya sangat rentan terhadap kemunculan dan penyebaran patogen zoonotik. Campuran berbagai spesies dari lokasi geografis yang berbeda dalam satu ruang yang padat menciptakan kondisi ideal untuk spillover, yakni proses perpindahan patogen dari hewan ke manusia.

Hewan-hewan ini sering kali dibawa tanpa riwayat kesehatan yang jelas, tidak melalui proses karantina, dan disimpan dalam kondisi sanitasi buruk. Lingkungan lembap, ventilasi yang minim, serta interaksi intens antara hewan, pedagang, dan pembeli memperbesar peluang terjadinya mutasi virus antar spesies.

Kondisi tersebut diperburuk oleh lemahnya pengawasan kesehatan hewan, terbatasnya penerapan protokol biosekuriti, dan praktik pemotongan hewan yang tidak higienis.

Penelitian oleh Karesh et al. (2012) menekankan bahwa pasar hewan basah dapat menjadi "laboratorium evolusi virus", tempat di mana patogen saling bertukar materi genetik dan menciptakan varian baru yang berpotensi infeksius bagi manusia.

Tidak hanya itu, pasar hewan menjadi titik temu antara manusia dan hewan liar, termasuk spesies reservoir virus seperti kelelawar, musang, dan trenggiling. SARS dan COVID-19 menjadi contoh nyata. Oleh karena itu, memahami risiko dan ancaman pasar hewan bukan hanya penting untuk mencegah wabah lokal, tapi juga untuk mengantisipasi potensi pandemi global berikutnya.

Seberapa Besar Peran Pasar Tradisional dalam Munculnya Epidemi?

Uploaded content
Ratusan burung di pasar hewan diduga kuat merupakan tangakapan liar dari alam yang tidak melalui uji kesehatan terlebih dahulu.

Selama dua dekade terakhir, berbagai studi mengaitkan pasar hewan hidup dengan awal mula wabah global. Dari COVID-19 hingga flu burung dan virus Nipah, pola penyebaran yang berulang menyoroti bahwa pasar hewan bukan sekadar tempat jual beli, tapi juga area potensial terjadinya spillover antar spesies.

COVID19 dan Pasar Huanan

Salah satu bukti paling kuat berasal dari pandemi COVID19. Penelitian oleh Zhou et al. (2020) menunjukkan bahwa SARS-CoV2 kemungkinan berasal dari hewan liar dan menyebar pertama kali di Pasar Huanan, Wuhan.

Investigasi lingkungan yang dilakukan di pasar tersebut menemukan jejak genetik virus pada permukaan yang bersentuhan dengan hewan dan di area tempat penjualan satwa liar. Kemiripan genomik dengan virus pada kelelawar dan trenggiling mendukung hipotesis bahwa pasar menjadi titik awal perpindahan virus ke manusia sebelum meluas secara global.

Flu Burung (H5N1 & H7N9) di Tiongkok

Studi terhadap penyebaran virus avian influenza seperti H5N1 dan H7N9 juga menunjukkan bahwa pasar unggas hidup menjadi sumber penularan ke manusia.

Studi yang dipublikasikan di Emerging Infectious Diseases (CDC) dengan judul “Poultry Market Closures and Human Infection with Influenza A(H7N9) Virus, China, 2013–14” menunjukkan bahwa penutupan pasar unggas hidup, terutama di Guangdong dan Zhejiang, berhasil menurunkan insiden infeksi manusia secara signifikan. Penurunan bahkan mencapai 99 persen setelah dilakukan pembatasan aktivitas perdagangan unggas hidup. Ini menunjukkan bahwa pasar tidak hanya menjadi titik transmisi, tetapi juga titik kontrol yang krusial.

Nipah Virus di Bangladesh

Meskipun virus Nipah di Bangladesh tidak selalu ditularkan melalui pasar secara langsung, riset menunjukkan bahwa distribusi produk hasil alam seperti nira aren yang terkontaminasi oleh kelelawar di pasar lokal berkontribusi terhadap penyebaran virus. Ini mengingatkan kita bahwa risiko zoonosis di pasar tidak hanya berasal dari hewan hidup, tetapi juga dari produk yang terpapar reservoir alami penyakit.

Bagaimana Mencegah Zoonosis di Pasar Hewan?

Untuk mencegah zoonosis dari pasar hewan, dibutuhkan langkah yang tidak hanya teknis, tapi juga melibatkan banyak pihak.

Pendekatan One Health

One Health merupakan pendekatan terpadu yang mengakui keterkaitan erat antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam satu sistem yang saling bergantung.

Menurut WHO, FAO, dan WOAH, pendekatan ini penting untuk mencegah dan mengendalikan penyakit zoonotik, seperti flu burung atau COVID-19.

One Health menekankan kerja sama lintas sektor—dokter, dokter hewan, ilmuwan lingkungan—agar mampu mendeteksi, merespons, dan mencegah wabah lebih cepat.

Uploaded content
Ilustrasi pendekatan One Health yang mengakui hubungan erat antara manusia, satwa, dan lingkungan. | Foto: Center for Disease Control and Prevention

Penguatan Regulasi dan Pengawasan Kesehatan Hewan

Regulasi ketat terhadap peredaran hewan di pasar menjadi garda terdepan pencegahan. Dokumen Terrestrial Animal Health Code dari WOAH (2022) merekomendasikan sertifikasi bebas penyakit untuk satwa hasil tangkapan, inspeksi veteriner di titik masuk pasar, dan larangan penjualan hewan sakit. Negara yang menerapkan regulasi ini secara konsisten terbukti mampu menekan insiden zoonosis baru.

Di Indonesia, prinsip serupa diadopsi lewat UU Nomor 41 Tahun 2014 dan Permentan Nomor 17 Tahun 2023, yang mewajibkan pemeriksaan kesehatan hewan, karantina, dan sertifikasi NKV untuk fasilitas pemotongan. Namun, implementasi di lapangan masih lemah akibat keterbatasan infrastruktur, pengawasan, dan penegakan.

Perbaikan Desain Pasar dan Manajemen Kebersihan

Desain pasar yang memisahkan spesies hewan, menyediakan ventilasi baik, serta membedakan zona bersih dan kotor secara fisik dapat menurunkan risiko penularan patogen. Dengan fasilitas desinfeksi kandang dan alat yang memadai, tingkat kontaminasi virus zoonotik akan lebih rendah dibanding pasar konvensional.

Edukasi Pedagang dan Konsumen

Perbaikan memang perlu dilakukan dari segala arah, termasuk dari sisi pedagang dan konsumen. Dibutuhkan edukasi langsung kepada pedagang dan konsumen tentang risiko zoonosis, teknik pemotongan aman, dan pentingnya sanitasi. Hal ini sudah dibuktikan di Vietnam.

Pelatihan One Health di 68 pasar tradisional Vietnam oleh ILRI berhasil meningkatkan praktik higienis pedagang, seperti mencuci tangan dan pemisahan bahan mentah. Kontaminasi Salmonella pada daging babi di pasar intervensi turun 2–10 persen dibanding pasar kontrol.

Sistem Monitoring dan Surveilans Terintegrasi

Pemantauan penyakit secara real-time menjadi elemen kunci pencegahan. Indonesia sebenarnya telah memiliki sistem pelaporan nasional seperti iSIKHNAS (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional). Sistem ini mendukung pelaporan penyakit secara digital dan real-time oleh petugas lapangan. Namun, pemanfaatannya belum merata di seluruh daerah.

Dibutuhkan dukungan sistem surveilans yang aktif, kolaboratif, dan berbasis risiko, potensi spillover dari hewan ke manusia tetap tinggi, terutama di area dengan lalu lintas hewan yang tinggi dan pengawasan terbatas.

Kesimpulan

Pasar hewan menjadi titik kritis dalam rantai penularan zoonosis. Lingkungan pasar yang padat, minim sanitasi, serta lemahnya pengawasan menjadikan tempat ini rawan sebagai awal munculnya wabah baru.

Di Indonesia, regulasi sudah tersedia, tapi implementasinya masih lemah. Oleh karena itu, pencegahan zoonosis di pasar hewan harus dilakukan secara menyeluruh. Mengabaikan hal ini berarti membuka ruang bagi potensi pandemi berikutnya.


Penulis: Ayesha Agustien