Tapir Asia, Satwa Malam yang Terancam Pengalihan Lahan Hutan


Tapir Asia. Foto : Renato Canepa

Tapir Asia (Tapirus indicus) atau juga disebut Tapir malaya merupakan salah satu mamalia besar yang hidup di kawasan Sumatera. Satwa bercorak hitam putih ini juga dapat ditemukan di wilayah Kamboja, Vietnam, Thailand, Myanmar dan Semenanjung Melayu.

Mamalia ini menghuni hutan tropis dengan tipe kawasan hutan hujan, hutan primer, hutan sekunder, kadang ditemukan di pinggiran hutan, kebun karet, atau perkebunan masyarakat. Merekapun kerap ditemukan berendam di rawa-rawa dan berenang di aliran air sungai untuk mendinginkan badannya atau menghindari gigitan serangga.

Tapir memiliki bentuk badan yang besar dapat dikenali dengan belalainya yang menonjol di bagian hidung dan mulut atas. Fungsi belalai ini untuk memegang makanan dan juga untuk bernafas ketika Tapir berada di dalam air.

Badannya memiliki panjang 1,8 – 2,5 m, tinggi 0,9 – 1,1 m dengan berat badan mencapai 250 – 540 kg. Pada umumnya berat badan tapir betina lebih berat 20 – 100 kg daripada tapir jantan, hal ini mencirikan tapir memiliki bentuk tubuh dimorfisme seksual.

Warna tubuh Tapir dewasa berwarna hitam pada bagian kepala sampai leher, dan bagian kaki belakang sedangkan pada bagian punggung dan sisi perutnya berwarna putih. Pola warna tubuh ini menyerupai pelana karena bentuk dan posisinya.

Berbeda dengan Tapir dewasa, Tapir muda (juvenile) memiliki pola warna tubuh hitam dengan garis dan titik-titik berwarna putih. Pola ini berguna bagi Tapir muda untuk berkamuflase di dalam hutan agar keberadaannya tidak terlihat oleh predator.

Tapir muda (juvenile).

Mata tapir berbentuk bulat kecil dan tidak dapat melihat dengan jelas, mereka mengandalkan kemampuan indera penciuman dan pendengarannya dalam kegiatan sehari-harinya. Pada kornea mata Tapir banyak ditemukan lapisan biru berkabut apabila sering terpapar cahaya sehingga indera penglihatan mereka sangat buruk. Satwa ini juga aktif di malam hari, sehingga sering kesulitan mencari makanan dan riskan diserang predator dalam kegelapan.

Mamalia besar ini bersifat monogamy loh, artinya tapir hanya memiliki satu pasangan untuk bereproduksi sepanjang masa kawin pada bulan Mei dan Juni. Tapir betina memiliki jangka waktu 13 – 13,5 bulan kehamilan sampai waktu melahirkan, umumnya Tapir memiliki satu anak dalam satu tahun, atau lahir kembar dalam beberapa kasus kelahiran.

Tapir merupakan pemakan buah-buahan (frugivore), dedaunan (folivore) dan pemakan kulit kayu (lignivore). Mereka cukup selektif dalam mencari makanan berkualitas tinggi. Makanan Tapir terdiri dari banyak jenis seperti daun, buah, batang, kulit pohon, lumut hingga tumbuhan air, contohnya seperti tumbuhan Setambun (Baccaurea parviflora), Malasi (Curculigo latifolia), dan Berenuk (crescentia alata).Tapir memiliki cara makan yang unik dengan bergerak secara zig-zag dari satu tumbuhan ke tumbuhan yang lainnya.

Kebiasaannya memakan buah-buahan menjadikan Tapir sebagai penyebar biji yang efektif dalam hutan. Penyebaran benih menjangkau jarak yang cukup jauh hingga beberapa kilometer, dan Tapir dapat menyebarkan benih dalam jumlah besar. Beberapa biji berkecambah lebih cepat setelah melewati usus Tapir.

Dari segi peluang hidup, Tapir tetap terancam predator pemangsa di sekitarnya. Harimau (Panthera tigris) and Macan tutul (Panthera pardus) merupakan predator utama bagi Tapir, meski kasusnya sangat sedikit. Tapir lebih banyak terancam aktivitas manusia, seperti perburuan untuk konsumsi, alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan perumahan.

Di beberapa wilayah Tapir merupakan hama perkebunan dan sempat diburu untuk dikonsumsi masyarakat lokal, namun seiring waktu berjalan kegiatan perburuan mulai menyusut tajam. Namun ancaman jerat dan jebakan yang sering dipasang masyarakat untuk menangkap babi masih tetap mengancam kehidupan Tapir.

Dengan banyaknya ancaman pada populasi dan habitat Tapir Asia, kini satwa ini menduduki status terancam punah menurut Daftar merah spesies terancam dari International Union for Conservation of Nature (IUCN). Tapir juga masuk ke dalam tingkat Appendiks I dari Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Di Indonesia sendiri, Tapir masuk ke dalam daftar satwa dilindungi dalam Peraturan Menteri Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.106 tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.


Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × two =