Upaya Konservasi Baning Coklat, Kura-Kura Terbesar di Asia yang Terancam Punah

Gardaanimalia.com - Manouria emys atau yang dikenal sebagai baning coklat adalah spesies kura-kura darat terbesar di Asia.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.105/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 menyebutkan baning coklat menjadi satwa yang dilindungi.
Kemudian dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, reptil besar ini memiliki status Critical endangered yang artinya terancam kritis, di mana keberadaannya sangat memungkinkan untuk menuju kepunahan.((Coudhury, B.C., et al, 2019))
Namun saat reptil ini berada di tengah ancaman kepunahan, tepatnya di perbatasan Hutan Lindung Batang Toru di Desa Sait Nihuta II, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara kura-kura ini masih banyak ditemukan.
Cukup disayangkan, pengetahuan masyarakat yang minim tentang pentingnya spesies kura-kura tersebut membuat baning coklat menjadi sasaran 'empuk' untuk dimakan.
Selain itu, perburuan yang dilakukan oleh masyarakat juga menjadi lebih mudah karena satwa dilindungi ini memiliki pergerakan kaki yang lambat.
Hal tersebut kemudian membuat Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Tapanuli Tengah langsung turun dan mengambil bagian menjadi pendamping masyarakat agar satwa tersebut tetap terjaga khususnya di Desa Sait Nihuta II.
Kehadiran HPI sebagai pendamping dalam perlindungan salah satu satwa dilindungi tersebut mendapatkan respon yang baik dari masyarakat setempat. Ini dibuktikan dengan warga yang menyerahkan baning coklat yang sempat ditangkapnya.
Bersamaan dengan pendampingan itu, HPI berencana untuk membangun konservasi baning coklat di desa tersebut.
Pihaknya bersama dengan Yayasan Penjaga Pantai Barat melalui surat kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara meminta izin agar dilakukan konservasi di Desa Sait Nihuta II atau minimal mengeluarkan izin penangkaran.
Damai Mendrofa, Wakil Ketua Bidang Sumber Daya Manusia HPI Tapanuli Tengah mengungkapkan sembari menunggu balasan surat tersebut, HPI telah mengambil kebijakan dengan melakukan penangkaran sementara di salah satu tempat warga.
Dari situ, ia mengatakan bahwa pihaknya berharap baning coklat yang ditangkap warga dapat dikumpulkan di sana. "Menunggu pihak Balai turun memberikan pendampingan dan penjelasan tentang merawat Baning cokelat kepada masyarakat," ujarnya.
Karena, menurut Damai Mendrofa, pihak BKSDA lebih paham tentang satwa. "Karena merekalah yang lebih paham soal satwa ini,” tuturnya Jumat (7/1) dilansir dari Antaranews.
Berdasarkan pembicaraan dengan masyarakat setempat, pihak HPI menemukan salah seorang warga yang bersedia lahannya dijadikan tempat penangkaran baning coklat.
Damai menjelaskan, sampai saat ini belum ada konservasi untuk satwa tersebut di Indonesia dan jika konservasi ini terwujud maka akan menjadi pertama di Negara Kepulauan ini.
Dilihat dari pernyataan Damai, bahwa konservasi ini akan menjadi yang pertama di Indonesia tentu akan menarik minat masyarakat dari wilayah lain dan berpotensi menjadi tempat wisata.
Beberapa hal harus menjadi pertimbangan besar untuk merujuk ke konservasi pariwisata dengan tujuan tetap melindungi baning coklat dari kepunahan.
Kuncinya adalah pembangunan pariwisata yang berkualitas dan bertanggung jawab. Kegiatan wisata perlu melindungi konservasi, bukan konservasi yang melindungi wisata.
Tentunya pembangunan konservasi ini perlu dukungan dari warga setempat dan pemerintah. Sosialisasi dan edukasi tetap harus dijalankan terlebih dahulu sebelum pembangunan konservasi pariwisata dilakukan.
Dengan pengetahuan dan kepedulian warga yang kuat terhadap baning coklat maka pengelolaan koonservasi dapat dilakukan dengan baik melalui pemberdayaan masyarakat.

Adakah Titik Imbang antara Pemanfaatan dan Perlindungan Kura-Kura Moncong Babi?
26/02/25
Polda Kepri Gagalkan Penyelundupan Baning Coklat ke Luar Negeri
30/10/24
Lima Satwa Dilindungi Dilepasliarkan di Kawasan Konservasi Riau
16/10/24
2 WN Thailand Diringkus di Krabi, Usai Selundupkan Satwa dari Indonesia
20/09/24
Lebih dari 4.000 Kura-Kura Moncong Babi Kembali ke Habitatnya
08/08/24
Kura-Kura Langka Ilegal Dilepasliarkan ke Habitat Aslinya
09/11/23
Seorang Pria Paruh Baya Ditangkap setelah Ketahuan Berdagang Penyu

Macan Dahan yang Masuk Gudang di OKU sudah Dievakuasi
![Berpacu dengan Kepunahan [3]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742879417_fd2dc5f16700a5b9fff5.jpg)
Berpacu dengan Kepunahan [3]
![Ambulans untuk Harimau Sumatera [2]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742875241_b9bd802809c6c35df99a.jpg)
Ambulans untuk Harimau Sumatera [2]
![Bisnis Cuan Berbalut Kepahlawanan [1]](https://gardaanimalia.cloudapp.web.id/uploads/1742875243_39937082cc8949808434.jpg)
Bisnis Cuan Berbalut Kepahlawanan [1]

Belasan Gajah Liar Masuk Sawah, Warga Berharap ada Solusi

Dua Opsetan Tanduk Rusa Diamankan di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon

Akan Dibawa ke Pulau Jawa, 34 Burung Diamankan di Sampit

FATWA: Komodo Malas Merantau!

Petugas Gabungan Sita 72 Satwa Dilindungi di Mimika

Buntut Konflik di Riau, Harimau Masuk Boxtrap untuk DIevakuasi

Teka-Teki Keberadaan Baza Hitam si Predator Cilik

Gakkum Beroperasi, Puluhan Tengkorak Satwa Liar jadi Barang Bukti

FOTO: Perbedaan Orangutan Tapanuli dan Orangutan Sumatera

Labi-labi Ditemukan di Pulau Bawean, BKSDA: Penting untuk Terus Dijaga

Sebanyak 5 Penyu Diamankan dari Penyelundupan, 1 dalam Kondisi Stres

FATWA: Satwa yang 'Bangkit dari Kepunahan'

BKSDA Turun Tangan Pantau Harimau yang Melintasi Kebun

Lima Peniaga Kulit dan Tulang Harimau Diciduk Polisi

Bangkai Paus Terdampar di Simeulue, Evakuasi Terkendala Kondisi Pantai
