Edukasi

Yang Menghantui Sektor Pariwisata itu Bernama Rabies

07/10/2025|Irvan Sjafari
Monyet ekor panjang yang menjadi penghuni asli Monket Forest di Ubud. | Foto: monkeyforestubud.com

Monyet ekor panjang yang menjadi penghuni asli Monket Forest di Ubud. | Foto: monkeyforestubud.com

Gardaanimalia.com - Serangan anjing liar pengidap rabies terhadap 15 pendaki Gunung Batukaru, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali pada 21 September 2025 menjadi indikasi bahwa Pulau Dewata itu masih dicengkeram oleh rabies. Pada peristiwa itu, sembilan dari 15 pendaki digigit oleh anjing liar dan telah mendapatkan vaksin anti-rabies.

Sebelumnya, publik juga dibuat gempar dengan perilaku monyet liar kepada keluarga Flavia McDonald yang sengaja berlibur ke Bali dari Sydney, Australia untuk merayakan Hari Ayah.

Mimpi buruk datang ketika mereka berada di Monkey Forest di Desa Padang Tegal, Ubud pada Rabu pagi, 10 September 2025. Sebuah tempat tinggal sekitar 1.300 ekor monyet ekor panjang (MEP) di area seluas 12,5 hektare.

Mereka sudah mematuhi protokol taman wisata itu, di antaranya tidak membawa tas terbuka, tidak mengenakan kacamata hitam atau topi yang bisa menarik perhatian MEP.

Ketika mereka sedang duduk di taman, seekor MEP melompat hinggap di bahu suami Flavia, kemudian melompat lagi ke bahu putrinya yang berusia 12 tahun, Lorena.

Ketika hendak diusir, MEP itu menggigit leher Lorena hingga harus dilarikan ke klinik untuk mendapat vaksin anti-rabies. Untuk itu, McDonald harus merogoh kocek sekitar Rp69 juta.

Awal 2025 ini, wisatawan Australia diberi peringatan tentang rabies setelah lonjakan angka infeksi tercatat di Bali. Hewan positif rabies telah terdeteksi di zona merah seperti Kuta Selatan, Nusa Dua, Tanjung Benoa, Jimbaran, dan Canggu.

Senior Programme Officer One Health and Welfare Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), drh Wendi Prameswari, mengatakan bahwa perubahan perilaku MEP di kawasan wisata Bali itu–seperti halnya di tempat wisata lain–terjadi karena kebiasaan pemberian makan (provisioning) yang dilakukan wisatawan, membuat mereka tidak lagi mandiri dalam mencari makanan di habitatnya.

MEP juga suka mengambil benda wisatawan seperti ponsel, kacamata, dan kamera untuk ditukar dengan makanan.

Penelitian yang dilakukan tim riset Primatologi yang dipimpin Fany Brotcorne dari Universitas Liege, Belgia mempelajari perilaku populasi MEP (Macaca fascicularis) yang hidup di sekitar Pura Uluwatu, Bali.

Dalam riset itu, teramati bahwa MEP gemar mengambil benda-benda yang bahkan tidak dapat dimakan, misalnya kacamata, untuk ditukar dengan makanan. Jika belum mendapat makanan, monyet menolak untuk mengembalikan barang yang mereka ambil.

Dosen Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Randi Syafutra mengungkapkan, monyet ekor panjang menjadi bagian dari pariwisata di Pura Uluwatu dan Monkey Forest Ubud.

Dalam tulisannya di Kumparan, Randi menyampaikan ribuan turis datang setiap tahun, membayar tiket, memberi makan, dan berfoto. Ekonomi bergerak—masyarakat lokal mendapat keuntungan—tetapi pada saat yang sama, monyet belajar bergantung pada pemberian manusia.

Kasus Rabies di Bali

Kepala Dinas Kesehatan Hewan, Anak Agung Istri Brahmi Witari, mengatakan kepada Courier Mail pada Agustus, tidak lebih dari lima ekor anjing yang bertanggung jawab atas kasus rabies di Bali.

“Dominasi zona merah di Kuta Selatan disebabkan oleh banyaknya semak belukar di daerah tersebut, sehingga sering dijadikan sarang anjing liar, dan ini salah satu alasannya,” kata Witari.

Persoalannya, Bali memang daerah yang tinggi kasus rabiesnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat sejak awal 2025 hingga 20 Juli 2025, terjadi sebanyak 34.845 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) di Provinsi Bali.

Dari jumlah tersebut, 23.705 orang telah menerima Vaksin Anti Rabies (VAR). Sementara, kasus kematian akibat rabies mencapai 12 orang.

Kabupaten dengan jumlah GHPR tertinggi adalah Kabupaten Badung (6.166 kasus), disusul Denpasar (4.978 kasus) dan Tabanan (4.440 kasus).

Kematian tertinggi akibat rabies juga terjadi di Badung dengan 4 kasus, disusul 2 kasus di Buleleng, 2 kasus di Jembrana, 2 kasus di Karangasem, dan masing-masing 1 kasus di Tabanan serta Gianyar.

Banyaknya anjing liar di Bali yang ditinggal pemiliknya menjadi persoalan tingginya kasus rabies. Ini yang harus diatasi oleh otoritas.

Apa yang Harus Dilakukan jika Digigit Satwa Pembawa Rabies?

Tim peneliti Oregon Public Health Division (OPHD) yang melaporkan kejadian serangan MEP pada turis di Pukhet, Thailand, mengatakan bahwa rabies akibat gigitan primata non-manusia jarang terjadi karena primata bukanlah reservoir utama rabies.

Meskipun demikian, profilaksis pasca-paparan rabies bagi korban gigitan primata non-manusia di negara-negara dengan rabies enzootic (kawasan yang terus-menerus ada kasus rabies) perlu dipertimbangkan.

“Orang yang mengunjungi daerah dengan monyet liar harus menghindari kontak dekat dengan hewan-hewan ini. Gigitan atau cakaran kera harus dicuci bersih, dan perawatan medis harus segera dicari,” paparnya dalam laporan yang dimuat di PMC PudMed Central.

Senada dengan yang diungkapkan Wendi Prameswari kepada Garda Animalia pada 29 September 2025, “Sebetulnya MEP adalah inang sementara dari virus rabies. Pembawa utama Lyssavirus (virus rabies) itu adalah anjing.”

Menurut Wendi, rabies lebih banyak ditularkan dari anjing liar yang memang banyak terdapat di Bali.

Karena itu, para wisatawan perlu mengenali ciri-ciri anjing liar yang terkena rabies, antara lain air liurnya tampak berlebihan dan ekornya di tanah. Anjing yang terkena rabies biasanya juga takut cahaya dan air. Anjing itu akan mati dengan sendirinya karena virus menyerang otak.

“Namun, tidak semua anjing agresif itu karena terjangkit rabies, ada juga karena anjing liar terpancing untuk agresif seperti diganggu atau memiliki anak,” tambah Wendi.

Ia berkata, jika terkena gigitan anjing atau monyet ekor panjang, segeralah mencuci lukanya dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit.

“Setelah itu segera ke klinik atau puskesmas untuk mendapat vaksin anti rabies secepatnya,” pungkas Wendi.