Gardaanimalia.com - Kawan Satwa, tahukah kamu bahwa ada 11 spesies dari genus Macaca yang hidup di Indonesia? Namun, dua di antaranya masih sering diperdagangkan secara ilegal, khususnya dalam perdagangan lintas pulau.
Ya, merekalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk (Macaca nemestrina).
Monyet ekor panjang (MEP) yang juga dikenal dengan nama monpai tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara. Sementara, beruk dengan bernama lokal bodat tersebar secara alami hanya di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sayangnya, bayi beruk kerap ditemukan beredar di Pulau Jawa sebagai komoditas perdagangan dan peliharaan. Kondisi serupa juga terjadi pada monyet ekor panjang.
Permintaan pasar yang tinggi terhadap bayi MEP dan beruk dipicu oleh keinginan masyarakat untuk memelihara
Sebelum sampai ke tangan pedagang dan pemelihara, anak-anak primata ini kerap mengalami penyiksaan. Mereka dipisahkan secara paksa dari induknya, yang dalam banyak kasus dilakukan dengan membunuh sang induk.
Setelah itu, bayi-bayi primata dimasukkan ke kandang sempit dan diselundupkan menggunakan berbagai moda transportasi dari daerah asalnya.
Selama proses pengangkutan hingga diperjualbelikan, beberapa individu sering dijejalkan dalam satu kandang berukuran kecil.
Yang terjadi selanjutnya adalah bayi primata ini terpampang di etalase-etalase pasar konvensional maupun digital.
Data Amati Sangkar (AKAR), sebuah platform sains warga untuk mencatat populasi satwa yang berada di dalam sangkar, mencatat terdapat 1.058 ekor monyet ekor panjang dan 91 ekor beruk yang dipelihara atau diperdagangkan sepanjang 2024-2025.
Di sisi lain, kondisi higienitas di pasar hewan sering kali buruk dan minim pengawasan. Situasi ini dapat memicu penularan penyakit antarsatwa maupun dari satwa ke manusia (zoonosis).
Risiko tersebut mestinya menjadi perhatian serius, terutama setelah pandemi COVID-19. Beberapa penyakit zoonosis yang dapat ditularkan primata antara lain rabies dan malaria monyet.
Di pasar, bayi primata ini dijual dengan harga sekitar Rp125 ribu hingga Rp250 ribu per ekor. Namun, berakhir di tangan pemelihara, bukan akhir dari kenestapaan.
Tren pemeliharaan satwa liar saat ini kerap memaksa monyet mengenakan popok, pakaian, hingga dicat rambutnya agar terlihat menarik. Padahal, kehidupan di kandang sempit tanpa kesempatan menunjukkan perilaku alami dapat memicu stres tinggi pada satwa.
Kondisi stres tersebut dapat memunculkan perilaku agresif, seperti menggigit dan mencakar, terutama ketika monyet beranjak dewasa atau memasuki masa berahi. Gigitan dan cakaran ini berisiko menularkan zoonosis.
Ketika mulai menunjukkan perilaku agresif, monyet peliharaan sering kali dilepas atau kabur dari pemiliknya, yang memicu konflik dengan masyarakat sekitar.
Salah satu peristiwa tragis akibat rantai eksploitasi ini terjadi di Pamekasan, Madura. Seorang anak berusia lima tahun meninggal dunia setelah diserang monyet peliharaan yang lepas.
Problematika memelihara monyet ekor panjang tidak selesai setelah mereka dilepaskan begitu saja ke alam liar. Sebab, peliharaan yang dilepas ke alam liar tanpa proses rehabilitasi akan kesulitan bertahan hidup karena tidak terbiasa mencari makan sendiri dan kalah bersaing dengan kelompok liar.
Akibatnya, mereka cenderung mendekati permukiman warga untuk mencari makan, yang dapat meningkatkan intensitas konflik dengan manusia.
Keberadaan beruk juga ditemukan di alam liar Pulau Jawa, padahal pulau tersebut bukan habitat alaminya. Kondisi ini berpotensi memicu perkawinan silang dengan populasi liar dan memunculkan spesies hibrida yang dapat mengganggu keanekaragaman hayati.
Karena itu, Kawan Satwa, mari bersama melawan perburuan, perdagangan, dan pemeliharaan monyet ekor panjang maupun beruk!
Biarkan mereka hidup bebas di habitat alaminya, tumbuh bersama kelompoknya, serta diasuh induknya hingga dewasa sebagaimana mestinya.
Artikel ini diterbitkan untuk memperingati International Macaque Week 2026.




![Kota yang Membelai dan Mengusir: Zoonosis dan Relasi Manusia–Hewan yang Berubah di Kota Besar [Bagian 1]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/kota-yang-membelai-dan-mengusir-zoonosis-dan-relasi-manusia-hewan-yang-berubah-di-kota-besar-bagian-1.webp)










